Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

Halaman

02 Januari 2009

Waktu Taubat

Waktu Taubat


Taubat adalah posisi di mana seorang hamba harus memperhatikan ketika dia mulai masuk ke dalam taubat hingga akhir hayatnya. Umumnya manusia dan bahkan semua makhluk selalu membutuhkan taubat. Allah berfirman dalam surat an-Nûr ayat 31:

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (Q.S. an-Nûr : 31)

Taubat mutlak wajib hukumnya selama masih hidup.19 Waktu taubat adalah selama masih hidup. Taubat adalah tujuan setiap hamba yang beriman. Allah berfirman kepada Nabi saw. dalam surat at-Taubah ayat 117:

"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka." (Q.S. at-Taubah : 117)

Hamba pasti membutuhkan taubat dan istighfar dalam setiap saat. Oleh karenanya, Nabi saw. diperintahkan untuk mengakhiri setiap amal perbuatannya dengan berrtaubat dan meminta ampun, sebagaimana dalam firman Allah surat an-Nashr:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima Taubat." (Q.S. an-Nashr : 1-3)

Orang selain Nabi saw. lebih membutuhkan taubat daripada Nabi saw. sendiri. Hendaknya hamba menguatkan niatnya, mengintropeksi dirinya dan bertaubat kepada Allah sampai dia meninggal dunia. Tidak ada hamba yang tidak melakukan salah dan dosa. Sabda Nabi saw. :
"Setiap anak Adam adalah orang yang berbuat salah." (Diriwayatkan oleh at-Turmudzi)

Iblis telah bersumpah demi keperkasaan Allah bahwa dia akan selamanya menjerumuskan dan menyesatkan manusia selama ruhnya masih menempel di jasadnya. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. dari Nabi saw. bersabda: "Iblis berkata:
'Wahai Tuhanku, demi keperkasaan-Mu, aku akan selalu menggoda mereka selama ruh mereka masih menempel pada jasad mereka." Allah ‘azza wa jalla menjawab: "Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku akan selalu mengampuni mereka selama mereka meminta ampun." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Jadi, pintu taubat terbuka bagi orang-orang yang tersesat. Mereka membalikkan diri dari sesatnya dosa. Mereka melakukan amal yang saleh selama mereka masih hidup, sebelum datang hari di mana iman seseorang sudah tidak bermanfaat lagi bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan pada masa imannya. Ketika ruh sudah sampai tenggorokan, malaikat maut datang, dada terasa sempit, ruh telah sampai pangkal tenggorokan dan jiwa sudah sekarat, maka pintu taubat sudah tertutup. Waktu taubat dimulai ketika hati merasakan keagungan Tuhannya. Taubat diungkapkan dengan kembali kepada Allah dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus yang disediakan bagi hamba-Nya untuk memperoleh keridhaan-Nya. Dan, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berjalan di jalan yang lurus. Allah berfirman dalam surat al-An‘âm ayat 153:

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (Q.S. al-An‘âm : 153)

Bertaubatlah sebelum ajal atau sakit menjemput. Dengan bertaubat hendaknya berbuat kebaikan dalam hati dan kehidupannya selama mukallaf. Pada saat itu, harapan masih ada, dan penyesalan serta keinginan meninggalkan maksiat dapat dibenarkan. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah dalam surat an-Nisâ' ayat 17:

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.S. an-Nisâ' : 17)

Maksudnya: orang-orang yang melakukan dosa dan sesat dari jalan yang benar karena ketidaktahuan, baik lama maupun sebentar, selagi ketidaktahuan itu tidak berlarut-larut hingga ruh mencapai pangkal tenggorokan, maka taubat masih terbuka. Rasul saw. bersabda:
"Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama dia belum sekarat." (Diriwayatkan oleh at-Turmudzi dari Ibnu Umar dan di-hasan-kan oleh perawi lainnya)
Tidak diperbolehkan membuang-buang waktu dengan maksiat, bersenda gurau, dan menentang perinta fardhu atau wajib.
Dari Shafwan bin Assal berkata: Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya dari arah barat matahari terdapat pintu terbuka yang lebarnya tujuh puluh tahun. Pintu tersebut masih terbuka untuk taubat hingga matahari terbit dari arah barat. Jika matahari terbit dari arah barat, iman seseorang sudah tidak bermanfaat lagi bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan pada masa imannya." (Diriwayatkan Ibnu Majah)

Ibnu Hubairah berkata: "Jiwa yang beriman jika tidak melakukan kebaikan dalam imannya hingga matahari terbit dari arah barat, maka apa yang dia lakukan tidak bermanfaat baginya."
Oleh karenanya, bersegeralah untuk bertaubat sebelum terlambat. Berhati-hatilah dari tindakan tercela sebelum orang yang berbuat dosa berkata sebagaimana dikutip dalam al-Qur'an surat al-Mu'minûn ayat 99-100:

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (Q.S. al-Mu'minûn : 99-100) []

_________________
19 Lihat Dr. Shalih as-Sadlan, At-Taubah ilâ Allâh, Dar Balansiyyah, Riyadh, 1418 H, cet. V, hlm. 26.

(7) Az Zahrawi

Az Zahrawi

(Albucasis)

Si Ahli Bedah


Oleh: Ratman al-Kebumeny


Siapakah Dia?

Di bidang kedokteran, kemajuan ilmu dan kemunculan tokohnya tak hanya di wilayah timur seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, dan lainnya, tapi juga di wilayah barat, Eropa. Di kerajaan Islam Andalusia (sekarang Spanyol, wilayah Eropa barat) terdapat pula banyak ahli kedokteran, salah satunya adalah seorang pelopor ilmu bedah yang dikenal sebagai "bapak ilmu bedah". Siapakah dia? Dia adalah Az Zahrawi, yang di Barat dikenal dengan banyak nama sepert Albucasis, Bulcasis, Bulcasim, Baulcari, Elzahawi, Ezzahrawi, Zahravius, Alcarani, Aicaravi, Alcaravius, dan Alsahrawi. Nama lengkapnya adalah Abu Al Qasim Khalaf Ibnu Abbas Az Zahrawi. Tokoh ini merupakan keturunan salah satu sahabat anshar.

Az Zahqawi lahir di Az Zahra, sebuah daerah di pinggiran kota Kordoba yan menjadi ibukota kerajaan Islam Andalusia (Spanyol). Kemegahan Az Zahra kala itu bersaing dengan Baghdad dan Konstatinopel di timur. Tahun kelahiran Az Zahrawi sekitar 324 H / 936 M. Masa kecilnya secara hanya sedikit yang diketahui, karena saat itu Az Zahra telah dikepung dan dihancurkan oleh pasukan musuh. Orang yang pertama kali menceritakan kehidupan Az Zahrawi adalah Abu Muhammad bin Hazm (993-1064 M), seorang ilmuwan Andalusia juga. Sejak awal ia bertekun di bidang kedokteran melalui pendidikannya di Kordoba. Dengan ketekunannya belajar dan berpraktek, Az Zahrawi terkenal sebagai ahli bedah muslim Spanyol (Moorish Spain) di abad pertengahan kala itu. Dia paling menonjol karena terobosan aslinya (orisinil) dalam ilmu bedah dan berbagai peralatan bedah yang digunakannya. Setelah berkarya dan mengamalkan ilmunya, ia wafat sekitar tahun 404 H / 1013 M.


Apa Karyanya?

Untuk menjadi seorang ahli bedah tentu harus tekun belajar dan melakukan berbagai percobaan serta penelitian yang mendukung. Dan, itu yang dilakukan oleh Az Zahrawi. Pendidikan kedokterannya dimulai di Kordoba. Sekian waktu ia belajar, akhirnya Albucasis menjadi seorang pakar dengan spesialisali bedah. Kemampuan yang mumpuni ia miliki, selain karena belajar secara teoritis juga melakukan praktek dan berbagai penelitian. Para mahasiswa datang kepadanya untuk menimba ilmu, dan para pasien mengunjunginya untuk berobat atau minta nasehat padanya. Bahkan, karena keahliannya itu, Az Zahrawi diberi jabatan sebagai dokter istana Khalifah Abdurrahman III, salah seorang penguasa Andalusia saat itu. Ketenarannya sebagai ahli bedah melampaui batas-batas wilayah Andalusia. Sehingga kiranya tepat apa yang disampaikan oleh Will Durant, bahwa Kordoba kala itu merupakan kota utama bagi penduduk Eropa untuk melakukan operasi pembedahan.

Pembedahan yang dilakukan Az Zahrawi dimulai dengan mencuci semua alat bedah dengan zat yangyang dinamakan asafra, pencuci hama (bakteri). Teknik bedahnya sudah tinggi dan maju. Az Zahrawi terkenal halus jahitannya dalam operasi, dan telah banyak sukses membedah ginjal berbatu (batu ginjal), memperlebar bab ar rahim (pintu rahim), menyambung nadi, dan sebagainya. Pembedahannya sudah mencapai taraf spesialis, kemampuan yang tidak banyak dikuasai oleh umum. Dasar-dasar yang ia terapkan dijadikan sebagai kaeya asli di bidang ilmu kedokteran, khususnya bedah. Penemuannya berpengaruh hingga lima abad setelahnya, bahkan menjadi dasar ilmu bedah modern. Maka tak heran apabila hal tersebut mengundang komentar Dr. Campbell dalam buku History of Arab Medicine (Sejarah Kedokteran Arab) mengatakan bahwa dasar-dasar kedokteran Az Zahrawi melebihi apa yang ditemukan oleh Galen (dokter terkenal Romawi) dalam kurikulum kedokteran Eropa.

Karya tulis yang dihasilkan Az Zahrawi juga banyak, mencerminkan kepakarannya dalam ilmu bedah. Ia memiliki kemampuan keilmuan yang ensiklopedis (banyak ilmu yang dikuasai). Karya ensiklopedi terkenalnya adalah Al Tasrif li Man Ajaz 'an Al Talif sebanyak 30 jilid. Kitab tersebut ia buat antara lain untuk membantu orang-orang yang tidak mampu membaca buku-buku besar, sehingga terjemahan judul bukunya adalah An Aid to Him Who Lacks the Capacity to Read Big Books. Kitab Al Tasrif li Man Ajaz 'an Al Talif diterjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judul Liber Azaragui de Cirurgia.

Tiga jilid dari ensiklopedinya tersebut membahas teknik pembedahan yang ia miliki dan temukan. Sedangkan dalam jilid terakhirnya memuat gambar diagram dan gambar peralatan pembedahan yang kebanyakan hasil temuannya, yang berjumlah sekitar 200-an.
Az Zahrawi menjelaskan secara detail berbagai macam operasi pembedahan beserta penanganannya seperti berikut ini:

1. Pembedahan tenggorokan (tracheotomy dan tonsillectomy)
2. Pembedahan tumor hidung (polyptiom)
3. Pembedahan dalam persalinan (caesar)
4. Pembedahan hidu-hidup (vivisection)
5. Pembedahan binatang
6. Pembedahan telinga
7. Pembedahan mata
8. Pembakaran luka (cauterization)
9. Pengeluaran bayi yang mati di kandungan (craniotomy)
10. Pengeluaran batu ginjal
11. Pemeriksaan internal dari urethra (air seni)
12. Obat penahan aliran darah
13. Pemotongan (dissection)
14. Amputasi, dll.

Contoh alat yang digunakan oleh Az Zahrawi dalam pembedahan antara lain:

1. Alat yang dimasukkan dalam lubang tubuh (catheter)
2. Alat pencabut gigi (tooth extractor)
3. Penekan lidah (tongue depressor)
4. Peralatan kandungan (obstretric), dll.
Dalam penjelasannya mengenai peralatan tajam pembedahan, Az Zahrawi mengemukakan bahwa alat tajam hanya digunakan untuk antara lain:

1. Operasi pemotongan tonsil (tensillectomy)
2. Operasi pada tenggorokan (tracheotomy)
3. Operasi pemecahan kepala janin yang mati di kandungan (craniotomy)

Selain penggunaan alat bedah tajam, Az Zahrawi juga menjelaskan bagaimana cara-cara pemakaian alat bedah yang lain, yaitu:

1. Bagaimana cara menggunakan sebuah kait untuk mengeluarkan tumor (polyption) hidung.
2. Bagaimana menggunakan alat suntikan (bulb syringe) untuk memberi suntikan cairan ke usus besar (enemas) pada anak-anak.
3. Bagaimana menggunakan sebuah suntikan dari logam untuk batu ginjal (metallic bladder syringe).

Az Zahrawi telah melakukan operasi pembakaran luka (cauterization) berbeda dengan 50 jenis operasi yang telah ada. Dan, Az Zahrawi pun orang pertama dalam hal-hal berikut ini:

1. Orang pertama yang menjelaskan masalah hemophilia (hemofilia), yaitu penyakit yang darah penderitanya cenderung tidak mau membeku sehingga akan terus-menerus mengalir apabila penderita terluka. Penyakit atau kelainan ini (hemofilia) biasanya bersifat turun-temurun.
2. Orang pertama yang menggunakan benang sutera untuk menjahit luka (stitching wounds).
3. Orang pertama yang membuat obat tablet dengan cetakan.

Selain itu, Az Zahrawi dalam karyanya tersebut juga membahas beberapa persoalan yang penting dan berharga sebagai berikut:

1. Ramuan obat-obatan dan menerapkan berbagai macam teknik penyubliman (sublimation) dan penuangan (decantation)
2. Masalah penggunaan diuretic (obat untuk meningkatkan urin/air seni)
3. Masalah penggunaan sudorifics (obat untuk mengeluarkan keringat)
4. Masalah penggunaan purgatives (obat cuci perut)
5. Pemandian air panas (spa)
6. Penyerapan anggur, dll.

Ternyata Az Zahrawi juga mahir dalam bedah mulut dan kedokteran gigi. Kitab Al Tasrif li Man Ajaz 'an Al Talif-nya berisi sketsa mengenai instrumen (alat) yang kompleks (bermacam-macam), yang ia kembangkan sendiri. Di menjelaskan masalah gigi yang tanggal (lepas), mengalami perubahan bentuk, dan menguraikan pula cara-cara memperbaiki kerusakannya. Cara pembuatan dan pemasangan gigi palsu yang terbuat dari tulang hewan pun ia kembangkan.
Sehubungan dengan metode pengobatan yang lain, Az Zahrawi dikenal sebagai ahli al kayy 'ashriyyah (al kayy modern), yaitu ilmu kedokteran al kayy yang berperalatan lengkap dan hanya meninggalkan bekas yang bersifat sementara pada kulit. Al kayy adalah metode pengobatan dengan menggunakan besi panas yang diletakkan pad bagian yang terkena penyakit.
Dalam menjalankan praktek dokternya, selain menggunakan cara-cara yang maju, Az Zahrawi juga tetap berpegang teguh pada kode etik kedokteran. Maka, dalam prakteknya ia benar-benar melakukan pemeriksaan dan penanganan serius dan tepat untuk kemaslahatan umat manusia. Ia juga mengingatkan dokter-dokter palsu yang mengaku ahli bedah, padahal tidak memiliki kemampuan yang memadai, dan hanya mencari kekayaan.

Kitab karya Az Zahrawi telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Beberapa edisi bukunya tentang pembedahan telah diterbitkan di Venice (1497 M), Basel (1541 M), dan Oxford (1778 M). Bukunya telah dijadikan bahan pengajaran selama lima abad sebagai buku wajib pembedahan di Universitas Salerno, Italia dan Montpellier di Perancis serta beberapa universitas Eropa. Ini adalah prestasi mengagumkan dari seorang Az Zahrawi. Bukunya yang lain selain Al Tasrif li Man Ajaz 'an Al Talif adalah A'mar Al Aqaqir Al Mufradah wa Al Murakkabah. Bukunya yang ke-28 dalam bahasa Latin dikenal berjudul Liber Servitoris de Preparatione Medicinarum Simplicium. Itulah Az Zahrawi "si ahli bedah" yang telah banyak berkarya dan tak kenal lelah. []










Pintu taubat Terbuka

Pintu Taubat Terbuka


Ibnu al-Qaim –rahimahullâh– berkata: "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia akan membukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan, rasa bersalah, hina, membutuhkan, meminta pertolongan kepada-Nya, keinginan kembali kepada-Nya, rendah diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal kebaikan. Dosa itu tidak menjadi sebab turun rahmat-Nya, hingga musuh Allah berkata: "Andai aku meninggalkannya dan tidak melakukannya." Inilah maksud dari nasehat beberapa ulama salaf: "Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa, kemudian dia masuk surga karenanya. Dan dia melakukan kebaikan, kemudian masuk neraka karenanya." Mereka berkata: "Bagaimana bisa demikian?" Dijawab: "Dia melakukan dosa, dan senantiasa dirinya merasa takut berbuat dosa, rindu, menangis, menyesal, dan malu kepada Tuhannya, menundukkan kepala di hadapan-Nya, dan bersikap rendah hati. Maka, dosa itu lebih bermanfaat baginya daripada ketaatan-ketaatan, dan mengantarkannya kepada kebahagiaan hingga dosa tersebut menjadi penyebab dia masuk surga."17

Sungguh Allah –dengan kemuliaan dan kebaikan-Nya– telah membuka pintu taubat, karena Dia memerintahkan untuk itu. Dia menganjurkan taubat dan berjanji untuk menerima taubat, baik dari orang-orang kafir, musyrik, munafik, murtad, penyeleweng, ateis, zhalim, dan orang-orang yang durhaka. Di bawah ini dijelaskan satu per satu di antara karunia Allah dalam membuka pintu taubat.18

1. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk bertaubat dalam firman-Nya surat az-Zumar ayat 55:

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya." (Q.S. az-Zumar : 55)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: "Kembalilah kepada Allah, menyerahlah kepada-Nya. Bersegeralah untuk bertaubat, melakukan amal yang saleh sebelum datang siksa."

2. Sesungguhnya Allah berjanji untuk menerima taubat, meskipun dosa itu besar. Dia berfirman dalam surat asy-Syûrâ ayat 25:

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. asy-Syûrâ: 25)

3. Sesungguhnya Allah memperingatkan sikap putus asa dari rahmat-Nya. Dia berfirman dalam surat az-Zumar ayat 53:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. az-Zumar : 53)

Ibnu Katsir berkata: "Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas r.a. menafsirkan ayat ini: 'Allah menyeru –agar meminta ampun– kepada orang yang mengklaim bahwa al-Masih (Nabi Isa) adalah Allah, orang yang mengklaim bahwa al-Masih adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Uzair adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Allah itu fakir, orang yang mengklaim bahwa 'Tangan' Allah terbelenggu, dan orang yang mengklaim bahwa Allah adalah ketiga unsur dalam trinitas.'" Allah berfirman dalam surat al-Mâ'idah ayat 74:

"Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Mâ'idah : 74)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan ayat di atas sebagai berikut: "Maksud ayat dari surat az-Zumar tersebut adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meski dosa-dosa yang dilakukannya besar. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat Allah." Oleh karenanya, beberapa ulama salaf berkata: "Fakih yang benar-benar fakih adalah dia yang tidak membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah dan tidak menjerumuskannya ke dalam maksiat."

4. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membentangkan 'Tangan-Nya' di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan 'Tangan-Nya' di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di malam hari. Rasul saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membentangkan 'Tangan-Nya' di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan 'Tangan-Nya' di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di malam hari hingga matahari terbit dari barat." (Diriwayatkan oleh Muslim)

5. Sesungguhnya Allah memberikan pahala yang besar dan menjanjikan karunia yang melimpah bagi orang bertaubat. Beberapa orang bijak berkata: "Maksiat setelah maksiat adalah balasan dari maksiat. Kebaikan setelah kebaikan adalah pahala dari kebaikan. Barangkali balasan yang disegerakan di dunia sifatnya implisit (ma’nawi)." Beberapa pemuka Bani Israil berkata: "Wahai Tuhanku! Betapa banyak aku mendurhakai-Mu, sedangkan Engkau tidak membalasku." Allah menjawab: Berapa banyak Aku membalasmu, tetapi kamu tidak tahu akan hal itu? Bukankah Aku telah mengharamkanmu dari manisnya kedekatan dengan-Ku?"
Ibnu al-Jauzi berkata: "Bagi seorang yang berakal harus berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan. Sesungguhnya api kemaksiatan itu di bawah abu neraka. Siksa itu bisa jadi datang terlambat dan bisa jadi datang dengan segera."

6. Putus asa dari rahmat Allah. Di antara manusia ada orang yang ketika berlebihan dalam melakukan maksiat atau taubat berkali-kali kemudian melakukan dosa kembali, dia merasa putus asa dari rahmat Allah. Dia mengira bahwa dia adalah orang yang ditakdirkan dalam kesengsaraan. Kemudian dia terus-menerus melakukan dosa dan meninggalkan taubat. Ini adalah dosa besar, bisa jadi lebih besar dari sekedar dosa pertama yang dilakukannya. Karena, sesungguhnya tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir. Maka, hendaknya dia memperbarui taubatnya dan bersungguh-sungguh mendekat kepada Allah hingga dia merasa yakin.

7. Putus asa dari taubat para pelaku maksiat. Di antara manusia ada yang senang dengan kebaikan, nasehat, dan cinta membangun. Dia tampak bersungguh-sungguh dalam menyeru kepada para pelaku maksiat dari segala latar belakang. Ketika dia menemukan seseorang yang mengelak dari nasehat, menolak kebaikan dan terus-menerus melakukan dosa, dia merasa putus asa untuk meluruskan mereka ke jalan hidayah dan mengurangi memberi nasehat kepada mereka. Dia berpikir barangkali Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan mereka jalan yang benar. Berapa banyak manusia yang terus-menerus melakukan kelaliman dan kriminalitas –hingga mereka dikira akan meninggal dalam keadaan seperti itu– kemudian Allah meniupkan sepercik hidayah sehingga mereka termasuk golongan orang-orang yang mulia dan terpilih?

Umat yang kembali ke jalan kebajikan, sungguh-sungguh bertaubat dan kembali kepada Allah, maka Allah akan membuka pintu taubat bagi mereka, mengangkat derajat mereka, mengembalikan kemuliaan mereka, menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran dan kesulitan akibat dosa yang mereka lakukan, kemungkaran yang mereka sebarkan dengan latah, kefasikan, kesyirikan, bid’ah dan hukum yang tidak Allah turunkan, dan juga akibat dari keberpihakan terhadap musuh-musuh Allah, menyelewengkan dakwah Islam, amar ma'ruf nahi munkar, dan lain sebagainya yang menyebabkan mereka pantas mendapatkan siksa dan laknat.
Jika umat tersebut bertaubat kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan mereka kebahagiaan hidup, memberikan mereka kekuasaan dan kekuatan, memberikan keamanan, dan memantapkan keberadaan mereka di bumi. Allah berfirman dalam surat an-Nûr ayat 55:

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (Q.S. an-Nûr : 55)

Pembaca yang budiman, amal perbuatan berjalan dan hari-hari berlalu. Umur semakin pendek dan ajal semakin dekat. Manusia tidak tahu kapan ajal menjemputnya. Seorang penyair berkata:

Anak kecil menjadi remaja dan orang tua mulai meninggal
Sebagaimana malam pergi dan sore pun tiba
Ketika malam berganti malam
Datanglah setelah itu hari yang muda
Kita pergi dan beranjak memenuhi kebutuhan kita
Dan kebutuhan orang hidup yang tidak terpenuhi

Taubat dari segala dosa wajib hukumnya dilakukan seketika, baik yang kecil maupun yang besar. Imam Nawawi –rahimahullâh– berkata: "Ulama sepakat bahwa taubat dari segala kemaksiatan wajib hukumnya dilakukan seketika. Tidak diperbolehkan menunda-nunda taubat, baik taubat dari kemaksiatan ukuran kecil maupun besar." []

_______________
17 Lihat Syeikh Abdul Aziz al-Muhammad as-Salman, Mawârid azh-Zham`ân li Durus az-Zaman, jilid I, hlm. 46.
18 Lihat Muhammad Ibrahim al-Hamad, At-Taubah Wazhifat al-‘Umr, Dar Ibn Khuzaimah, Riyadh, 1421 H, cet. I, hlm. 33.


01 Januari 2009

(6) Ar Razi


Ar Razi

(Rhazes)

Sang Dokter Muslim Terbesar



Oleh: Ratman al-Kebumeny

Siapakah Dia?

Siapakah dokter terbesar muslim yang hidup di abad pertengahan dengan berbagai karya dan khidmatnya kepada umat manusia? Tak salah apabila jawabannya adalah orang yang di Barat disebut Rhazes, dengan nama aslinya Abu Bakr Muhammad bin Zakariya Ar Razi. Sang dokter ini lahir di Persia, tepatnya di Rayy dekat Teheran sekarang, pada sekitar tanggal 1 Sya'ban 251 H / 864 M. Ternyata Ar Razi sejak kecil bukanlah orang yang bercita-cita menjadi dokter handal. Malah, hingga usianya mencapai 30 tahun ia menjadi seorang pemusik, seorang seniman. Namun, roda kehidupannya terus berputar, hingga ia belajar kimia, filsafat, logika, matematika, dan fisika. Tapi, dorongan besar hatinya mengalihkan perhatiannya di dunia kedokteran. Sebuah pilihan hidup yang akhirnya kita katakana tepat, setelah melihat karya-karya besarnya di bidang baru yang ia geluti.

Pendidikan Ar Razi dimulai di tanah kelahirannya, Rayy, dan kemudian berpindah-pindah pada beberapa orang guru untuk mengkaji asas ilmu kimia, obat-obatan, kedokteran, filsafat, dan hisab (matematika). Kemahirannya yang luar biasa menjadikan Ar Razi disebut juga dengan "Galen Arab". Galen (Jalun) adalah ahli farmasi dan kedokteran terkenal Romawi yang telah menulis sekitar 50 jilid buku mengenai filsafat, obat-obatan, dan kedokteran. Ya, Ar Razi setara, bahkan mungkin lebih hebat dari dokter-dokter hebat sebelumnya dalam segi yang lain. Ia belajar, mengajar, mengabdi, dan menulis hingga tua dan buta, yang menjadikannya kembali ke tanah kelahirannya di Rayy untuk memanfaatkan sisa umur yang diberikan Allah-Nya. Setelah berkarya dan mengamalkan ilmunya dengan landasan iman yang kuat, sang dokter Ar Razi menghembuskan nafas terakhirnya pada sekitar tahun 320 H / 930 M.


Apa Karyanya?

Setelah perhatiannya fokus pada bidang kedokteran, Ar Razi sangat tekun belajar. Ia menimba ilmu kedokteran dari gurunya, Ali Ibnu Suhal bin Rabban Ath Thabari. Selain itu, ia juga melahap referensi-referensi kedokteran yang ditulis oleh Jalun (Galen), Hifukratun (Hipokrates), Faul Ajina (Paul Agina), dan lainnya. Tak ketinggalan pula ia mengkaji kitab-kitab Hindu dan Nasrani. Ar Razi juga belajar pada Hunain Ibnu Ishaq yang menguasai seluk beluk Yunani Kuno serta pengobatan Persia dan India. Ketekunannya belajar membuahkan hasil yang besar, hingga ia menjadi dokter mumpuni dan disegani, dengan banyak orang pula belajar padanya walaupun mereka berasal dari jauh seperti Asia. Ia dikenal sebagai guru yang luas luas ilmunya dan ramah pergaulannya.

Kemampuannnya di bidang kedokteran menjadikan ia diangkat sebagai direktur Rumah Sakit Rayy, dan naik kariernya menjadi direktur Rumah Sakit Pusat Baghdad pada masa kekuasaan Khalifah Al Muqtafi. Dan ada satu kisah menarik dari Ar Razi ketika ia memilih tempat untuk membangun rumah sakit di Baghdad. Metodenya cukup unik. Yang Ar Razi lakukan adalah menempatkan potongan daging segar di beberapa tempat di Bagdad. Beberapa waktu setelah itu, ia mengecek daging yang disebar di berbagai tempat itu. Mana tempat yang ia pilih sebagai tempat rumah sakit? Yang Ar Razi pilih adalah tempat yang dagingnya paling tahan lama busuknya dari daging di tempat lain. Kita tentu bisa menjawab mengapa Ar Razi memilih tempat yang dagingnya tahan lama busuk.

Selain sibuk sebagai dokter, Ar Razi banyak melakukan penelitian dan kajian kedokteran, sehingga banyak karya yang ia hasilkan. Dari berbagai kajiannya, Ar Razi merupakan pelopor dalam berbagai bidang ilmu kesehatan, khususunya obat dan perawataan. Sedangkan dalam praktek, ia merupakan seorang spesialis dari:

1. Pediatric (ilmu kesehatan anak)

2. Obstetric (ilmu kandungan) dan

3. Ophthalmology (ilmu tentang mata)

Dengan demikian Ar Razi dikenal sebagai dokter klinis terbesar Islam, baik di dunia Islam maupun Barat dan Timur.. Maka, tak heran jika dokter kelahiran Rayy ini menulis kitab yang berkualitas dan banyak. Sedangkan wibawanya dalam ilmu medis hanya bisa disaingi oleh dokter saudara sesama muslimnya, yaitu Ibnu Sina.

Ar Razi merupakan orang pertama yang memberikan laporan ekstraksi katarak dan ilmuwan pembahas reaksi pupil mata yang membesar dan mengecil. Dia mengatakan bahwa reaksi pupil mata terjadi karena otot-otot kecil bekerja sesuai dengan intensitas cahaya yang diterimanya. Rhazes juga dokter pertama yang melakukan hal-hal berikut:

  1. Memakai air dingin untuk mengobati demam.
  2. Menciptakan benang untuk operasi dari usus hewan.
  3. Mengadakan percobaan pada hewan.
  4. Menemukan faktor keturunan, yaitu bahwa sebagian penyakit dapat menular karena faktor keturunan.
  5. Memisahkan ilmu kedokteran dengan ilmu farmasi.

Karya tulisnya mencapai lebih dari seratus karya. Debutan tulisannya dimulai dengan karya prestisiusnya, yaitu kitab Al Hawi (Comprehensive Book on Medocine/Kitab Komprehensif) yang disebut pula kitab Al Jami' Al Khas li Shina'ah Ath Thib atau dalam bahasa Latin dikenal dengan Liber Continens. Karyanya yang ini menguraikan ilmu dan praktek kedokteran sampai pada masanya yang berjumlah 20 jilid, tapi ada yang mengatakan pula 100 jilid, mungkin karena beda jilidannya. Dengan banyaknya jilid tersebut, maka Al Hawi menjadi ensiklopedi di bidang kedokteran terbesar dan luar biasa kala itu. Al Hawi berisi metode kedokteran campuran antara Suriah, Mesir, Yunani, Arab Irak, dan Hindu yang kemudian ia kaji dan ditambah catatan-catatan hasil observasi klinis Ar Razi sendiri, dan akhirnya ia menyatakan pendapat finalnya mengenai hal yang dibahas dalam kitab tersebut. Di kemudian hari, tampaknya kitab Al Hawi disempurnakan oleh murid-murid Ar Razi.

Prestasi Al Hawi menjadikannya sebagai rujukan penting dunia kedokteran, hingga banyak diterjemahkan ke bahasa Eropa dan dicetak beberapa kali. Atas perintah Raja Charles I dari Anjao pada tahun 1279 M, kitab Al Hawi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh seorang tabib Yahudi Sisilia bernama Faray Ibnu Salim (Farragut) dengan judul Liber Continens, atau ada pula yang mencatat Al Hawi diterjemahkan ke bahasa Latin tahun 1468 M oleh Salim Ibnu Farj dengan judul Liber Dictus Elhawi. Dan dari 20 jilid Al Hawi, hanya 10 jilid yang masih ada tersimpan di perbagai perpustakaan seperti di Escorial, Berlin, Leningrad, dan London.

Kitab Al Hawi yang berpengaruh itu memang dirasakan sangat tebal oleh beberapa kalangan. Oleh karenanya, sekian waktu kemudian seorang dokter Persia bernama Ali Ibnu Al Abbas Al Majusi (wafat 994 M) membuat semacam ensiklopedi dengan kelengkapan yang sama dengan Al Hawi, tapi tidak setebal karya Ar Razi tersebut. Buku itu disebut Al Kunnash Al Malaki atau The Complete Art of Medicine. Ali Ibnu Al Abbas Al Majusi adalah dokter istana Sultan 'Adud Ad Daula.

Setah kitab Al Hawi, ada kitab lain yang dikenal luas, yaitu kitab Al Manshuri fi Ath Thib atau Liber Almanzoris yang terdiri atas 10 jilid. Kitab ini merupakan hadiah Ar Razi kepada penguasa Khurasan yang juga sahabatnya, Al Manshur Ishaq. Kitab ini membahas masalah kedokteran Arab-Yunani. Dalam buku tersebut Ar Razi menjelaskan anatomi tubuh manusia dengan detail dalam pokok bahasan tersendiri. Dibahas pula di kitab Al Manshuri fi Ath Thib persoalan saraf motorik dan sensorik. Di kitab itu juga dijelaskan intervertebral foramina (rongga di antara tulang belakang) dan spinal chord (jaringan syaraf tulang belakang). Ar Razi juga membahas efek kerusakan syaraf. Dikatakannya bahwa luka pada otak atau pada sinal chord akan menyebabkan kelumpuhan di bagian organ tubuh yang suplai syarafnya rusak atau hancur.

Kitab Al Manshuri fi Ath Thib telah terjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1480/1481 M di Milano dengan terjemahan Liber Almanzoris. Selain ke dalam bahasa Latin, kitab karya Ar Razi yang ini juga dialihbahasakan ke dalam bahasa Jerman dan Perancis secara terpisah dari sebagian jilidnya. Adalah Gerard dari Cremona yang menyusun terjemahan jilid ke-9 Kitab Al Manshuri fi Ath Thib dengan judul Nonus Al Mansuri yang terkenal hingga abad ke-16. Judul Latin terjemahan dari karya Ar Razi oleh Gerard of Cremona antara lain Liber Albubtri Rasis qui dicitur Al Mansoris (Liber Almanzoris), Liber divisionum continens CLIV capitula cum quibusdamconfectionibus ejusdem, Liber introductionis in medicina parvus, dan De juncturarum aegritudinibus. Kitab Al Manshuri fi Ath Thib juga diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani oleh Shem tob ben Isac (Babi ha Tortosi) sekitar tahun 1267 M.

Ar Razi juga meninggalkan tulisan mengenai campak, cacar, dan batu ginjal. Kitabnya Al Judari wa Al Hasabah merupakan karya orinisil Ar Razi dalam pembahasan carar dan cacar air. Buku ini merupakan tulisan hasil temuannya sendiri. Kitab ini pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1565. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa yang lain hingga dicetak ulang 40 edisi antara tahun 1498 dan 1866 M. Adalah A. Greenhill pada tahun 1848 M di London, yang menerjemahkan Al Judari wa Al Hasabah ke dalam bahasa Inggris. Dan khalayak pyn tahu dengan kitab ini, Ar Razi dikenal sebagai orang pertama yang membedakan antara smallpox dan chickenpox atau cacar dan cacar air dengan kajiannya yang berkualitas.

Ada lagi karyanya di bidang selain kedokteran, Ar Razi juga menghasilkan kitab dalam bidang kimia dengan kitabnya Al Kimiya, yang di dalamnya dibahas anasir (unsurr-unsur) seperti logam, amoniak, al ghul, al kali, unsur nabati, unsur hewan, unsur manusia, dan lainnya. Ar Razi diduga mengembangkan kimia secara independent dari "bapak kimia" Jabir Ibnu Haiyan. Ia juga membahas reaksi kimia lengkap dengan uraian dan 20 instrumen untuk penelitian kimia. Sedangkan kitanya Al Asrar membahas berbagai zat kimia seperti batu, boraks, garam, dan lainnya. Ar Razi membagi benda-benda itu berdasar kategori mudah menguap dan lambat menguap. Dan, kitab Al Asrar diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Liber Experimentorum. Kebesaran Ar Razi lengkap dengan produktifnya ia menulis kitab. Kitab-kitab karyanya yang lain antara lain:

1. Mukhtashar fi Al Laban (Ringkasan tentang Susu),

2. Man la Yahdhurhu Ath Thabib (Orang yang tak Datang ke Dokter),

3. Al Mafasil, Bar As Sa'ah,

4. At Taqsim wa At Takhsir,

5. Thibb Al Athfal (Kedokteran Anak)

Manuskrip karya-karya Ar Razi dapat dijumpai di berbagai perpustakan antara lain di Iran, Perancis (Paris), Inggris, dan India (Rampur). Sungguh, Ar Razi benar-benar mengagumkan dan memberikan contoh mulia pada kita tentang semangat belajar dan mengamalkan ilmu. Kebesarannya diakui oleh dunia Timur dan Barat hingga kini, dan lukisan Ar Razi pun menghiasi aula Fakultas Kedokteran Universitas Paris sebagai bentuk penghormatan untuknya. Dalam buletin WHO (World Health Organization) pada Mei 1970 memberikan penghargaan padanya dengan menyatakan bahwa penemuan Ar Razi mengenai cacar dan cacar air menunjukkan orisinalitas dan akurasi, dan esainya mengenai berbagai penyakit menular merupakan karya ilmiah pertama mengenai subyek ini. []