Tanda-tanda Kejujuran
Orang yang Bertaubat
Sebatas mengucapkan taubat bukanlah bukti kejujuran melakukan taubat, selama orang yang bertaubat tidak menunjukkan tanda-tanda yang menjadi bukti nyata taubat. Di antara tanda-tanda yang menunjukkan kejujuran orang yang bertaubat adalah:21
1. Meninggalkan dosa dan menggantinya dengan ketaatan. Ini adalah bukti kepekaan hati, penyesalan terhadap dosa, dan keinginan untuk bertaubat.
2. Berkeinginan untuk meninggalkan dosa masa lalu dan memperbaiki yang akan datang. Jika pada masa lalu sering meninggalkan ibadah, berbuat zhalim, melakukan kesalahan yang tidak menyebabkan denda, maka hendaknya hamba bersedih karena dia telah melakukan itu semua. Ini adalah bukti pengagungan Allah dalam hati, ketakutan yang sangat akan murka-Nya, pengharapan terhadap ridha-Nya, dan keinginan untuk meraih surga-Nya.
3. Bumi baginya terasa sempit sebagaimana sempitnya bumi bagi Ka’ab bin Malik dan kedua sahabatnya,22 sehingga dia akan merasa sedih dan menangis yang menghindarkannya dari sendau gurau dan tertawa.
4. Hendaknya keadaan setelah taubat lebih baik dari sebelumnya. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 37:
"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Baqarah : 37)
5. Hendaknya dia tidak merasa aman dengan tipuan (makr) Allah. Allah berfirman dalam surat al-Ma‘ârij ayat 27-28:
"Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena, sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)." (Q.S. al-Ma‘ârij : 27-28)
Dia akan disertai rasa takut selama hidupnya dan akan terus dalam keadaan seperti itu hingga mendengar suara malaikat yang akan mencabut nyawanya, sebagaimana disebutkan dalam surat Fushshilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga (jannah) yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (Q.S. Fushshilat : 30)
6. Hamba merasa sakit dan menyesal terhadap dosa yang pernah dilakukannya, dan takut akan akibat yang buruk.
7. Hamba selalu mengingat akan cepatnya bertemu dengan Tuhannya, pada setiap saat dia menanti tibanya ajal. Dan, sesungguhnya ajal itu lebih dekat dengannya daripada tali sepatunya. Rasulullah saw. bersabda:
"Surga itu lebih dekat dengan salah satu di antara kalian daripada tali sepatunya, demikian juga dengan neraka." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)
8. Di antara tanda paling kuat kejujuran hamba dalam bertaubat adalah cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta orang-orang yang beriman, dan melakukan tindakan yang menunjang cinta ini. []
________________
21 Lihat Al-Taubat ilâ Allâh, hlm. 58.
22 Lihat kisahnya dalam Shahîhain (Dua Kitab Shahîh), Shahîh al-Bukhari, 4156, Kitab al-Maghâzî.
03 Januari 2009
Tanda-tanda Kejujuran Orang yang Bertaubat
Ratman Boomen 03 Januari 2009 Comments (0 )
Hal-hal yang Mendorong untuk Melakukan Taubat
Hal-hal yang Mendorong
untuk Melakukan Taubat
1. Mengikhlaskan niat karena Allah dalam taubat dan amal-amal lainnya.
2.orang yang bertaubat hendaknya bersungguh-sungguh melakukan ama-amal saleh semampunya –setelah Allah menunjukkan jalan kebaikan.
3. Hendaknya dia merasakan buruknya dosa yang pernah dia lakukan serta akibat buruknya bagi agama dan kehidupan akhirat.
4. Menjauhkan diri dari tempat yang pernah digunakan untuk melakukan maksiat.
5.Membuang peralatan-peralatan haram yang pernah digunakan untuk melakukan kemaksiatan atau yang mengingatkan pada kemaksiatan.
6. Mencari teman yang saleh yang dapat membantunya menuju jalan kebaikan. Hendaknya jangan berteman dengan orang yang berakhlak tercela yang pernah melakukan kemaksiatan bersamanya.
7.Membudayakan membaca ayat-ayat al-Qur'an atau hadis yang menakut-nakuti orang-orang pendosa agar dapat mengelakkannya dari kemungkinan kembali pada dosa, serta membaca ayat-ayat yang menganjurkan taubat dan membahas tentang diterimanya taubat.
8.Hendaknya hamba sadar bahwa siksa di dunia dapat datang kapan saja.
9.Hendaknya hamba selalu ingat kepada Allah ta’ala. []
Ratman Boomen Comments (0 )
(8) Ibnu Haitsam
(Alhazen)
Sang Pakar Optik
Oleh: Ratman al-Kebumeny
Dunia optik, apalagi di kalangan kaum muslimin tentu mengenal sosok yang punya kontribusi besar ini di abad pertengahan. Bahkan, hasil penelitiannya berpengaruh hingga sekarang. Dialah Al Haitsam, yang di barat dikenal dengan Alhazen. Abu Ali Hasan Ibnu Al Haitsam adalah nama lengkapnya. Ia dilahirkan di Basrah sekitar tahun 350 H / 965 M.
Pendidikannya diperoleh sejak di Basrah, kemudian Baghdad. Dalam episode kehidupannya, ia pernah diminta untuk mencari penyelesaian banjir Sungai Nil di Mesir. Tapi, usahanya tidak berhasil, sehingga ia khawatir dengan hukuman yang bakal menimpanya dari khalifah. Akhirnya, Ibnu Haitsam berpura-pura gila hingga orang-orang benar-benar menganggapnya gila. Sandiwaranya ini berlangsung hingga kurang lebih tiga tahun sampai meninggalnya Khalifah Al Hakim bi Amrillah.
Selanjutnya ia banyak melakukan penelitian optikal, fisika, matematika, dan obat-obatan. Kegiatannya di bidang ilmiah sempat pula ia lakukan di Spanyol. Prestasinya yang membuat ia terkenal dan diakui kepakarannya adalah masalah optik. Perjalanan hidupnya berakhir di kairo sekitar tahun 431 H / 1038 M, tapi ada juga yang menuliskan 1040 M setelah menghasilkan sekitar 200 karya.
Apa Karyanya?
Ketika di tengah-tengah berpura-pura gila itulah Ibnu Haitsam mulai menemukan dunia optiknya. Dia melihat fenomena optik ketika ada sinar masuk melalui lubang kaca yang digunakan penjaga untuk mengintai dirinya. Selanjutnya, setelah khalifah Al Hakim meninggal babak baru kehidupannya yang bebas dimulai lagi ketika masa Sittul Malik dan bebas pergi ke Darul 'Ilm untuk belajar. Dia memafokuskan dirinya di bidang optik dengan melakukan eksperimen mengenai penyebaran cahaya dan warna, ilusi optik dan pemantulan.
1. Kelopak mata (covum orbita)
2. Selaput mata (conjunctiva)
3. Selaput jala (retina)
4. Otot-otot mata (muskulus orbita)
5. Biji mata (bulbur okuli)
6. Selaput bening
7. Inti mata
8. selaput putih (sclera),
9. Kornea,
10. Selaput pembuluh, dll.
Alhazen juga mengoreksi teori Euclid dan Ptolemy, bahwa mata memancarkan sinar visualkepada obyek penglihatan, dengan dalil bahwa bukan sebuah sinar yang meninggalkan mata dan bertemu obyek yang menimbulkan penglihatan. Lebih pada bentuk obyek yang dapat dilihat dengan jelas yang melintas ke dalam mata dan berubah disebabkan benda jernih (tembus pandang) atau lensa. Ia pun mengembangkan teori pemfokusan, pembesaran dan inversi dari bayangan. Dalam karya-karyannya, kita dapat menemukan penjelasan mengenai perkembangan metode ilmiah, pengamatan sistematis mengenai fenomena fisika dan hubungannya dengan teori ilmiah. Sang pakar optik ini membuat terobosan penting dalam hal ini.
Ratman Boomen Comments (0 )
02 Januari 2009
Taubat yang Diterima
Taubat yang diterima Allah terbagi menjadi dua bagian, yaitu:20
1. Rahmat Allah kepada hamba-Nya untuk bertaubat sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 118:
"Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya." (Q.S. at-Taubah : 118)
Maksudnya: menolong mereka untuk bertaubat, kemudian mereka bertaubat.
2. Allah menerima taubat dari hamba-Nya, sebagimana firman Allah dalam surat Thâhâ ayat 82:
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (Q.S. Thâhâ : 82)
Yaitu: taubat dari seorang hamba dengan kembali kepada Allah, ikhlas untuk ridha-Nya dengan cara meninggalkan kemaksiatan, menyesal melakukan dosa, berkeinginan keras untuk tidak kembali ke jalan maksiat, dan taubatnya itu pada waktunya yang tepat.
Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama dia belum sekarat." (Diriwayatkan oleh at-Turmudzi, Ibnu Majah, dll.)
Artinya, ketika dalam keadaan sekarat, ruh telah sampai pangkal tenggorokan dan tampak jelas kemuliaan atau kehinaan seseorang, –pada saat itu– taubat maupun iman sudah tidak bermanfaat. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ghâfir ayat 85:
"Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (Q.S. Ghâfir : 85)
Dan firman Allah dalam surat an-Nisâ' ayat 18:
"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.' Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati, sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (Q.S. an-Nisâ' : 18)
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. dari Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya setan berkata: 'Wahai Tuhanku, demi keperkasaan-Mu aku akan selalu menggoda mereka selama ruh masih menempel pada jasad mereka.' Allah ‘azza wa jalla menjawab: 'Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku akan selalu mengampuni mereka selama mereka meminta ampun.'" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan di-shahîh-kan oleh al-Albani)
Jika taubat diterima sebelum datangnya kematian meski hanya terpaut waktu sedikit, maka terkabulnya taubat pada waktu jauh sebelum ajal tiba lebih diprioritaskan. Allah berfirman dalam surat al-A’râf ayat 156:
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (Q.S. al-A’râf : 156)
Allah berfirman dalam surat asy-Syûrâ ayat 25:
"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. asy-Syûrâ : 25)
Allah berfirman dalam surat Thâhâ ayat 82:
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat." (Q.S. Thâhâ : 82)
Allah berfirman dalam surat ar-Rûm ayat 47:
"Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (Q.S. ar-Rûm : 47)
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a. berkata: Aku membonceng Nabi saw. di atas keledai, kemudian Nabi bersabda: "Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-Nya? Dan apa hak hamba kepada Allah?" Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi berkata: "Hak Allah atas hamba-Nya adalah hendaknya hamba tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan hak hamba kepada Allah adalah Allah tidak menyiksa hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah)
Allah memberikan karunia kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki dan menolongnya dalam beramal. Dia memberi karunia kepada hamba-Nya dengan menerima amal kebaikannya dan memberikan balasan atas amalnya. Oleh karenanya, Allah memberi nama balasan atas amal tersebut dengan nama 'pahala' (ajr). Allah berfirman dalam surat Âli ‘Imrân ayat 179:
"Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar." (Q.S. Âli ‘Imrân : 179)
Sebagaimana Allah memberi nama 'sedekah' (ash-shadaqah) dengan 'pinjaman' (qardh). Allah berfirman dalam surat al-Hadîd ayat 18:
“Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul- Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.”
Allah menyebut sedekah sebagai pinjaman adalah sebagai penghormatan dan kebaikan atas hamba-Nya. Allah mengharuskan Dzat-Nya untuk memberi pahala bagi orang yang melakukan amal saleh. Seorang penyair berkata:
Bagi hamba tak ada hak yang wajib atas Dzat-Nya
Sekali-kali tidak, tak ada amal yang sia-sia di hadapan-Nya
Jika mereka disiksa, maka itulah keadilan-Nya
Dan jika mereka diberi nikmat, itu karena karunia-Nya
Dialah Yang Mahamulia lagi Mahaluas
Amal saleh menjadi sebab masuk surga. Dan, masuk surga itu karena rahmat-Nya. Allah telah mewajibkan atas Dzat-Nya untuk memberikan rahmat. Oleh karenanya, Rasul saw. bersabda: "Salah seorang di antara kamu tidak akan masuk surga karena amalnya." Mereka bertanya: "Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?" Rasul berkata: "Tidak juga aku, kecuali jika Allah memberikan rahmat dan karunianya kepadaku." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullâh– berkata: "Setiap orang yang beriman harus melakukan taubat. Tak seorang pun sempurna kecuali dengan taubat." Ibnu Taimiyah juga berkata: "Taubat bukanlah sebuah kekurangan, tetapi taubat adalah semulia-mulianya kesempurnaan. Allah telah memberitahukan kepada kita berita tentang para nabi yang melakukan taubat dan meminta ampun; tentang Nabi Adam, Ibrahim, Musa, dan yang lainnya."
Dikatakan bahwa maksiat yang membawa penyesalan dan rasa rendah diri itu lebih baik daripada ketaatan yang membawa kesombongan dan kecongkakan. Setiap pelaku dosa itu tak lain karena dia tidak tahu, lalai, dan kurang bijak. Setiap dosa kepada Allah itu timbul karena ketidaktahuan, baik pelakunya adalah orang yang ’alim maupun orang yang bodoh, orang yang ingat maupun yang lupa, sengaja maupun tidak sengaja, dalam keadaan dapat memilih ataupun terpaksa. Hal itu berdasarkan firman Allah yang artinya:
"Bagi orang-orang yang melakukan keburukan karena ketidaktahuan." (Q.S. an-Nisâ' : 17)
Ibnu Taimiyah –rahimahullâh– berkata: "Orang yang mendurhakai Allah adalah orang yang bodoh, apapun itu keadaannya. Dan orang yang taat kepada-Nya itu karena dia tahu." Oleh karenanya, Allah berfirman dalam surat Fâthir ayat 28:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." (Q.S. Fâthir : 28)
Setiap orang yang ’alim akan merasa takut kepada Allah. Orang yang tidak takut kepada Allah, maka dia tidak termasuk golongan ulama, tetapi termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu. Ibnu Mas’ud r.a. berkata: "Cukuplah takut kepada Allah sebagai pengetahuan, dan cukuplah mendurhakai-Nya sebagai ketidaktahuan." Seseorang berkata kepada asy-Sya’bi: "Wahai orang yang berilmu!" asy-Sya’bi menjawab: "Orang ’alim yang berilmu hanyalah orang yang takut kepada Allah."
Wahai hamba Allah, segeralah bertaubat karena Allah telah berfirman dalam surat an-Nisâ' ayat 17:
"Kemudian mereka bertaubat dengan segera." (Q.S. an-Nisâ' : 17)
Maksudnya adalah sebelum ajal menjemput. Jika manusia tidak tahu kapan ajal menjemput, maka dia harus berusaha mati dalam keadaan telah bertaubat agar dia tidak mati dalam keadaan berdosa, atau dengan kata lain dia selamanya tinggal dalam kemaksiatan.
Rasulullah saw. berkata kepada Abdullah bin Umar r.a.: "Jadilah kamu di dunia seakan-akan sebagai orang asing atau orang yang melintasi jalan."
Pembaca yang budiman, diterima atau ditolaknya taubat tergantung pada ketetapan dan kehendak Allah. Tetapi, syarat-syaratnya yang telah disinggung sebelumnya harus dipenuhi, yaitu: meninggalkan maksiat, menyesal melakukan maksiat, dan berkeinginan keras untuk tidak kembali melakukan maksiat. Jika berhubungan dengan hak-hak adami, syarat tersebut ditambah dengan: menunaikan hak orang yang disalahi, atau sesuatu yang menyamai hak tersebut, meminta maaf dan kerelaannya dengan ketulusan tanpa ada unsur paksaan. Oleh karena itu, bertaubatlah dengan taubat yang sebenar-benarnya sebelum engkau meninggal, sebelum mulut ditutup, dan nyawa dicabut. Karena, sesungguhnya taubat adalah harta karun bagi orang-orang yang mau kembali. []
________________
20 Lihat Dr. Sulaiman Ibrahim al-Lahim, At-Taubah wa Syurûthuhâ wa min Man Tuqbal wa Matâ?, Dar ash-Ashimah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Riyadh, 1424 H, cet. I, hlm. 6.
Ratman Boomen 02 Januari 2009 Comments (0 )
