Ibnu Khaldun
Bapak Sosiologi dan Sejarah
Oleh: Ratman al-Kebumeny
Siapakah Dia?
Siapakah yang diakui sebagai bapak sosiologi dan ilmu sejarah dari kalangan kaum muslimin? Dia adalah Ibnu Khaldun, seorang yang dilahirkan di Tunis sekitar tahun 732 H / 1322 M. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Abu Zaid Ibnu Khaldun. Dia berasal dari keluarga kalangan atas yang berpindah dari Seville Spanyol Islam. Adapun nenek moyangnya adalah orang Arab dari Yaman yang tinggal di Spanyol pada masa awal kekuasaan Islam di sana sekitar abad ke-8 M.
Kehidupannya membentuk ia jadi seorang sosiolog (ahli sosiologi). Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dan semua hal yang berhubungan dengannya. Pada masa awalnya Ibnu Khaldun ikut aktif dalam keluarganya di bidang politik dan kehidupan intelektual perkotaan. Karena keluarganya mempunyai kedudukan dan pengaruh, maka tidak jarang dikunjungi oleh para pemimpin politik dan ilmuwan dari wilayah Islam Barat, yaitu Afrika Utara dan Spanyol. Kehidupan keluarganya yang demikian itulah membantu dia mempelajari karakter (sifat-sifat) masyarakat. Selain itu, kehidupannya sendiri yang penuh dengan lika-liku di berbagai kalangan membuat ia semakin mumpuni dalam menyusun teori-teori sosiologinya, hingga ia menulis kitab yang terkenal di bidang sosiologi. Setelah sekian lama mengarungi kehidupan penuh dengan hikmah yang bisa dipetik dan berkarya, Ibnu Khaldun akhirnya dipanggil oleh-Nya pada sekitar tahun 808 H / 1406 M.
Apa Karyanya?
Ibnu Khaldun meulai pendidikannya di Tunis, tanah kelahirannya, dan Fez. Di sana ia belajar Alquran dan hadis serta cabang-cabang studi Islam lainnya seperti dialektika teologi dan syari'ah (fikih Islam menurut mazhab Maliki). Selain belajar hal itu, ia juga mempelajari sastra Arab, filsafat, matematika, dan astronomi. Semangat belajarnya yang tinggi menjadikan ia seorang yang memiliki keluasan ilmu dan ketajaman pemikiran yang mendukung bidang yang digelutinya, yaitu sosiologi dan sejarah. Bahkan, di usianya yang masih muda, belasan tahun, Ibnu Khaldun sudah diberi tugas dinas oleh penguasa Mesir yang bernama Sultan Barquq.
Kehidupan pribadinya penuh dengan lika-liku dan berputar-putar. Pad satu waktu ia mengabdi pada Sultan Marinia di Fez sebagai pegawai, namun akhirnya ia dipenjara lantaran terjadi intrik penguasa (pergolakan politik dan kekuasaan). Tak berselang lama kemudian ia dibebaskan dari penjara dan kembali menjabat posisinya sebagai pegawai pemerintah. Tapi, karena suatu sebab tertentu akhirnya ia pun pindah ke Spanyol.
Pada awalnya, kedatangan Ibnu Khaldun di Spanyol disambut baik dan ramah oleh kalangan istana Granada. Tapi, lagi-lagi terjadi kekacauan politik di sana, sehingga memaksanya pindah lagi ke Afrika Utara. Di tempat inilah Ibnu Khaldun menerima jabatan tinggi dari Sultan Bujiya. Tapi, Ibnu Khaldun selalu bersinggungan dengan pergolakan politik dan masyarakat, sehingga di tempat ini pun ia dipenjara, bahkan dipenjara bersama dengan Sultan Bujiya. Peperangan dan kondisi politik yang kacau membuatnya kembali lagi ke Fez, dan selanjutnya pindah lagi ke Tunisia. Di tempat tinggal terakhir inilah Ibnu Khaldun melahirkan karya besarnya, yaitu kitab Al Muqaddimah atau Prolegomena. Kitab karyanya inilah yang berpengaruh dan diakui oleh para ahli sosiologi, sejarah, dan filsafat dalam kurun waktu berabad-abad kemudian, bahkan hingga sekarang.
Setelah terjadi ketidakpastian di Afrika Utara, akhirnya pergi ke Mesir dan menetap di sana selam 24 tahun. Perjalannya hingga sampai di Mesir diawali ketika ia dalam perjalannya ke negeri timur untuk menjalankan haji sampai akhirnya di Mesir. Ketika di Mesir, Ibnu Khaldun mulai mengabdikan diri pada kesultanan Mamluk, yaitu Sultan Barquq sebagaimana disebutkan sebelimnya. Di Kairo ia menjabat sebagai Hakim Agung pada mazhab Maliki. Di sana Ibnu Khaldun juga mengajar di Universitas Al Azhar.
Kehidupan Ibnu Khaldun dari istana ke istana, dari penguasa satu ke penguasa lain menjadikannya memiliki pengalaman dan ilmu sosiologi serta sejarah yang luas dan dalam. Dia banyak menimba ilmu dari para politisi, duta besar, dan ilmuwan Afrika Utara, Spanyol Islam, Mesir, dan ilmuwan muslim lainnya. Maka, tak heran apabila ia terkenal sebagai ahli sosiologi dan sejarah, apalagi dengan kitab Al Muqaddimah-nya yang menjadikannya semakin diakui kepakarannya di bidang itu.
Tema utama kitab Al Muqaddimah membahas kenyataan sosial dan lingkungannya dari aspek psikologi (kejiwaan) maupun ekonomi yang berpengaruh pada perkembangan kehidupan manusia. Ibnu Khaldun menjelaskan dinamika kehidupan antar kelompok yang melahirkan masyarakat baru dengan kekuatan politiknya. Dia juga membahas dan mengkaji kemajuan dan kemunduran suatu kehidupan masyarakat dan sebab-sebabnya. Ia paparkan hal itu dengan ketajaman pemikirannya dan keluasan pengalaman peribadinya dalam berbagai pergolakan politik kekuasaan dan masyarakat. Kitab Al Muqaddimah tidak sekedar teori, tapi pengalaman yang dijalani oleh penulisnya sendiri, sehingga membuat kitab itu berbobot.
Ibnu Khaldun mengemukakan bahwa sejarah senantiasa berulang dalam kehidupan masyarakat. Ia menjelaskan roda kehidupan sebuah masyarakat atau peradaban bahwa pertama kalinya mereka berhasil menciptakan kehidupan baru dengan baik, tapi setelah berlangsung tiga generasi, mereka akan kehilangan kekuatannya dan akhirnya bisa mengalami kemunduran. Penjelasan lebih rinci teori tersebut adalah sebagai berikut:
1. Para penguasa dan pejabat generasi pertama mengetahui persis apa-apa yang menyebabkan keberhasilan mereka mencapai kekuasaan.
2. Penguasa generasi kedua dari mereka turut terlibat dalam dalam upaya penaklukan, sehingga mereka mengetahui hal-hal yang diperlukan untuk tegaknya sebuah kekuasan berdasarkan pengalaman dari generasi pertama.
3. Penguasa generasi ketiga hanya mengetahui hal-hal yang menjadikan keberhasilan kekuasaan dari generasi kedua.
4. Penguasa generasi keempat merasa bahwa kekuasan dan kehormatan itu adalah miliknya sejak lahir. Mulai generasi keempat inilah muncul pergolakan kekuasaan, yang bisa melahirkan kemunduran, bahkan kehancuran.
Ibnu Khaldun menyatakan bahwa peran agama (Islam) adalah menyatukan orang Arab (kaum muslimin) dan membangkitkan kemajuan peradaban masyarakatnya. Dia juga menunjukkan bahwa ketidakadilan dan kezaliman merupakan tanda-tanda yang jelas bagi keruntuhan suatu negara.
Sedangkan dalam sejarah, Ibnu Khaldun menyampaikan bahwa kesalahan-kesalahan para sejarawan (ahli sejarah) dalam studi mereka diakibatkan karena tiga faktor berikut ini, yaitu:
1. Kebodohan mereka terhadap sifat-sifat peradaban dan orang.
2. Prasangka dan pandangan pribadi yang negatif dahulu (subyektifitas).
3. Penerimaan secara buta atas informasi dari orang lain.
Ibnu Khaldun menyatakan bahwa kemajuan peradaban didasari atas pemahaman terhadap sejarah dengan benar. Dan pemahaman yang benar terhadap sejarah akan dapat diperoleh dengan tiga hal, yaitu:
1. Seorang ahli sejarah hendaknya tidak berprasangka membela atau menolak seseorang atau idenya. Jadi, seorang sejarawan hendaknya obyektif (jujur) dalam memahami persolan yang terjadi.
2. Seorang ahli sejarah haris mengecek, meneliti, dan mengkaji informasi sejarah yang diterimanya. Seumber informasi itu harus diperiksa kualitas moralnya, ia jujur atau tidak.
3. Seorang ahli sejarah hendaknya tidak membatasi kajiannya pada persoalan politik dan militer saja, atau tentang penguas dan negara saja. Karena, sejarah meliputi banyak hal, termasuk kondisi sosial, agama, dan ekonomi.
Karya lain dari Ibnu Khaldun adalah kitab Al Tasrif. Kitab ini banyak berhubungan dengan kejadian-kejadian kehidupan Ibnu Khaldun sendiri. Selain kitab Al Muqaddimah dan Al Tasrif, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al I'bar. Kitab ini sangat bermanfaat dan mempunyai mutu yang bagus karena ditulis oleh pakarnya. Kitab Al I'bar membahas banyak sejarah berikut ini:
1. Sejarah Arab Sejarah Islam
2. Sejarah para penguasa muslim
3. Sejarah Mesir dan Afrika Utara
4. Sejarah Yunani
5. Sejarah Romawi
6. Sejarah Yahudi
7. Sejarah Persia
8. Sejarah
Kitab-kitabnya telah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan mempunyai pengaruh yang besar, baik di Timur maupun di Barat. Karya-karya Ibnu Khaldun telah menjadi sumber inspirasi perkembangan lebih lanjut dari ilmu-ilmu sebagaimana yang digeluti Ibnu Khaldun, yaitu sosiologi, sejarah, filsafat, dan lainnya. Sampai-sampai Prof. Gumm Ploughs dari Kolosio menganggap Al Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun lebih unggul dalam keilmiahannya daripada buku The Prince-nya Machiavelli yang ditulis satu abad setelah Al Muqaddimah.
Perlu diketahui pula bahwa versi ringkas Al Muqaddimah, an Introduction to History (suatu pengantar sejarah) telah diterbitkan oleh Princeton University Press, Bollingen Series pada tahun 1981 M. []
18 Februari 2009
(13) Ibnu Khaldun
Ratman Boomen 18 Februari 2009 Comments (0 )
11 Februari 2009
JP BOOKS Butuh Naskah Buku
JP BOOKS Butuh Naskah Buku
Ini informasi penting bagi Anda yang suka menulis. Tulisan Anda tentu ingin diterbitkan dalam bentuk buku, bukan? Nah, ini kesempatan baik. JP BOOKS, sebuah penerbit Jawa Pos Group membutuhkan naskah buku:
Fiksi
Novel religi, novel sejarah, novel perjalanan, novel keluarga, novel budaya, novel politik, dll. Tapi, bukan novel picisan yang isinya cuma cinta-cintaan model sinetron. Yang dibutuhkan novel yang bermakna, mendidik, dan mengandung nilai-nilai positif.
Nonfiksi
Buku-buku umum: agama, motivasi, teknologi, tips-tips, how to, kesehatan, pendidikan, anak-anak, dll.
Buku-buku penunjang pendidikan: referensi, soal-soal dan solusinya, dll.
Kriteria:
-Naskah diketik komputer (spasi 1.5, fonts Times New Roman, ukuran 12).
-Bahasa baik dan mudah dipahami.
-Susunan naskah/kerangka terstruktur (sistematis).
-Naskah memuat kelengkapannya (biasanya nonfiksi), seperti: kata pengantar, daftar isi, daftar istilah, daftar pustaka, dan lainnya yang diperlukan.
-Naskah yang dirimkankan berupa print out ke JP BOOKS (soft file menyusul jika naskah dinyatakan layak terbit).
-Naskah yang dikirim disertai biodata dan fotocopy KTP yang masih berlaku.
Alamat JP BOOKS:
Jl. Karah Agung No. 45 Surabaya Jatim Tlp. 031-8289999
Contact person:
HP. 085749404009 – email: ratman_alkebumeny@yahoo.com
Ratman Boomen 11 Februari 2009 1 komentar
07 Februari 2009
Sejarah dan Mitos Valentine Day
Valentine's Day, Pesta Setan Mengumbar Sahwat
Oleh: Masyhud SM
Valentine's Day mewarisi tradisi Festival Lupercalia yang merupakan ritual para penyembah berhala (Pagan) Romawi kuno dengan cara mengumbar syahwat, yang kemudian diubah oleh Paus Gelasius II menjadi Hari Valentin yang ditetapkan pada tahun 496 M. sebagai hari yang penting untuk dirayakan oleh Kristen. Tetapi pada tahun 1969 pihak Kristen sendiri melarang perayaan Valentine's Day.
Lalu bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hari Valentin?
A. ASAL USUL VALENTINE'S DAY
Bulan Pebruari dijadikan oleh Romawi sebagai bulan cinta (love) dan kesuburan. Dalam istilah Barat, Love (cinta) lebih menunjukkan hubungan seks. Sedangkan kasih sayang memiliki istilah sendiri, yakni affection. Oleh karena itu arti sebenarnya making love adalah hubungan kelamin, bukan menjalin kasih sayang.
Sejak dulu, bulan Pebruari selalu ditunggu-tunggu orang Romawi penyembah berhala untuk mencari pasangan baru secara resmi, walaupun setiap hari mereka juga terbiasa gonta-ganti pasangan. Perayaan seks mencapai puncaknya pada pertengahan bulan dalam sebuah pesta yang disebut Festival Lupercalia, dimana para perempuan muda memasrahkan tubuhnya pada para pemuda yang memilihnya dan harus melayani syahwat mereka tanpa syarat selama setahun penuh sampai datangnya bulan Pebruari lagi.
Berabad kemudian, Kristen yang ingin manancapkan pengaruhnya di Istana kerajaan Romawi, banyak mengadopsi simbol dan ajaran Paganisme (penyembah berhala) Romawi ke dalam ajaran gereja, sehingga Festival Lupercalia pun dimasukkan sebagai salah satu hari peringatan (memorial day) bagi gereja. Mitos Santo Valentinus pun dibuat untuk meyakinkan semua kalangan. Gereja mengganti istilah Lupercalian Festival dengan The valentine's Day.
Dengan penulisan sejarah yang curang dan konspiratif oleh intelektual Barat yang disebarkan dengan kekuatan pedang dan uang, agar masyarakat dunia meyakini bahwa Valentine's Day merupakan hari yang sungguh penting, bersejarah dan harus dirayakan.
Agar penetrasi budayapenyembah berhala ini bisa diterima oleh banyak kalangan di dunia, terutama pada dunia Islam, maka istilah love yang di Barat sebenarnya bernuansa syahwat, dibelokkan pengertiannya menjadi kasih sayang. Mak jadilah Valentine's Day yang sebenarnya merupakan Hari Perayaan Hubungan Seks mengalami pengaburan dan pembelokan makna (enfimisme) menjadi Hari Kasih Sayang. Padahal siapa pun orang dewasa akan mengetahui esensi (hakekat) perayaan tersebut yang banyak diakhiri dengan ritual making love (hubungan kelamin) dengan pasangan yang tidak sah (zinah).
a. Festival Lupercalia
Festival ini merupakan perayaan yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 18 Pebruari, dimana pada tanggal 15 mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14) dipersembahkan kepada Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.
Pada tanggal 13 pagi hari, pendeta tertinggi Pagan (penyembah berhala) Roma menghimpun para pemuda dan pemudi untuk mendatangi kuil pemujaan. Mereka dipisah dalam dua barisan dan sama-sama menghadap altar utama. Semua nama perempuan muda ditulis dalam lembaran-lembaran kecil, setiap satu lembar tertulis satu nama. Lembaran tersebut dimasukkan ke kendi besar.
Setelah itu, pendeta mempersilahkan para pemuda satu per satu mengambil satu nama gadis yang berada pada kendi tersebut secara acak hingga wadah itu kosong. Gadis pemilik nama yang terambil, harus menjadi kekasih pemuda yang mengambil namanya dan berkewajiban melayani segala yang diinginkan oleh pemuda tersebut selama setahun hingga tiba Festival Lupercalia di tahun depan.
Tanpa ikatan pernikahan, mereka bebas berbuat apa saja. Dan malam pertama hari itu, malam menjelang 14 Pebruari hingga malam menjelang tanggal 15, di seluruh kota, para pasangan baru itu merayakan apa yang kini terlanjur disebut sebagai Hari kasih Sayang. Suatu istilah yang benar-benar keliru dan lebih tepat disebut dengan Making Love Day atau Malam Kemaksiatan.
Pada tanggal 15 Pebruari, setelah sehari penuh para pasangan baru itu mengumbar syahwatnya, mereka secara berpasangan kembali mendatangi kuil pemujaan untuk memanjatkan doa kepada Dewa Lupercalia agar dilindungi dari gangguan serigala dan roh jahat. Dalam upacara itu, pendeta pagan Roma membawa dua ekor kambing dan seekor anjing yang disembeli diatas altar sebagai persembahan kepada Dewa Lupercalia. Persembahan ini diikuti dengan ritual meminum anggur.
Setelah itu para pemuda mengambil selembar kulit kambing persembahan dan berlari di jalan-jalan kota diikuti oleh para gadis. Jalan-jalan kota Roma meriah oleh teriakan dan tawa-canda para muda-mudi. Para perempuan berlomba-lomba mendapatkan sentuhan kulit terbanyak dan yang pria berlomba-lomba menyentuh gadis sebanyak-banyaknya.
Perempuan Romawi kuno di zaman itu sangat percaya bahwa kulit kambing yang dipersembahkan kepada Dewa Lupercalia atau Lupercus itu memiliki daya magis yang luar biasa, yang bisa membuat mereka bertambah subur, tambah muda dan cantik. Semakin banyak mereka menyentuh kulit kambing tersebut, mereka yakin akan bertambah cantik dan subur.
b. Mitos Santo Valentinus
Valentine's Day berasal dari kisah dusta tentang seorang Santo (orang suci dalam pandangan Katolik) yang rela menyerahkan nyawanyademi cinta pada orang lain, yaitu Santo Valentinus. Namun pihak gereja sendiri hingga kini tidak menemukan kata sepakat siapa sesungguhnya Santo ini. Oleh karena itu, Gereja sebenarnya telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.
Menurut catatan Katolik, ada tiga santo (orang suci) yang bernama Valentinus dan semuanya martir (tewas) pada abad ketiga. Bagi orang Eropa, Pebruari merupakan bulan panjang untuk romantika.
Ada tiga versi mitos Valentinus:
1. Santo Valentinus adalah seorang Katolik yang dengan berani mengatakan di hadapan kaisar Claudius II yang berkuasa di Roma bahwa Yesus adalah satu-atunya Tuhan dan menolak menyembah para dewa dan dewi orang Romawi. Kaisar sangat marah dan menjebloskan Valentinus ke penjara. Orang-orang yang bersimpati kepadanya secara diam-diam menulis surat dukungan dan meletakkannya di depan jeruji penjara. Kisah ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah cinta dan kasih sayang.
2. Valentine mungkin tewas dalam upaya menyelamatkan orang-orang Kristen yang melarikan diri dari penjara untuk menghindari penyiksaan dan pembantaian.
3. Valentinus adalah seorang pendeta yang melayani umat Kristen di Roma. Kaisar Roma, Claudius II, berkeyakinan bahwa Romawi akan tetap jaya jika memiliki tentara yang kuat dan tidak terkalahkan. Super tentara ini bisa terpenuhi oleh pemuda-pemuda yang masih suci, belum pernah menyentuh wanita.
Oleh karena karena itu kaisar melarang pemuda Roma untuk menjalin hubungan dengan wanita. Keputusan kaisar ini dianggap oleh Valentinus tidak adil. Dia menentang kaisar dan menikahkan pemuda-pemudi yang saling menyintai secara sembunyi. Ketika kegiatan Valentinnus ini terungkap, Claudius menjatuhi hukuman mati kepadanya.
Versi lain menyebutkan, Ketika Valentine meringkuk di penjara, ia jatuh cinta pada gadis anak penjaga penjara (sipir) yang selalu mengunjunginya hingga santo tersebut mati. Sebelum eksekusi hukuman mati, Santo Valentinus mengirim surat cinta pada gadis itu yang ditandatanganinya dengan nama "From your Valentine's..." (dari kekasihmu Valentine).
Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga tanggal 14 Pebruari 496 M, Pausl Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus. Meskipun begitu, Paus Gelasius sendiri mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui tentang santo tersebut. Ada yang mengatakan, Gelasius sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi perayaan Festival Lupercalia.
Hari Valentine yang oleh Paus Gelasius II dimasukkan ke dalam kalender perayaan gereja, pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja, karena tidak diketahui asal-usulnya. Oleh karena itu gereja kemudian melarang Valentine's Day dirayakan. Walaupun demikian, larangan ini tidak ampuh dan V-Day tetap saja dirayakan oleh banyak orang.
Sebagian besar menganggap, Valentine day merupakan budaya untuk mengenang kematian bapak gereja yang sudah dianggap meraih kesucian hidup (santo atau santa, disingkat St.), yakni St. Valentine atau St. Valentinus yang mati sekitar tahun 270 masehi.
B. MISI KRISTEN
Disamping dunia bisnis memanfaatkan moment Valentine day untuk meraup keuntungan besar, Kristen menjadikannya sebagai cara efektif untuk mengkristen-kan generasi Islam melalui teori strategi marketing (pemasaran).
Dalam pemasaran ada tiga faktor yang memiliki nilai jual: Institutional selling value, Product selling value, dan Personal selling value.
1. Institutional selling value (nilai jual lembaga /perusahaan). Suatu lembaga / perusahaan atau merk yang sudah memiliki nama baik (mapan) mempunyai nilai jual lebih tinggi, meskipun produk (barang) yang dipasarkan sebenarnya kualitasnya sama dengan produk merk lain. Seperti Aqua (air), Hewled Packard - IBM - Sony - Toshiba (computer) dan lain-lain.
Kristen sebagai nama (merk) agama tidak memiliki nilai jual (sulit diterima) oleh penduduk Indonesia yang beragama Islam. Sehingga sejak penjajah datang ke Indonesia hingga kini, jumlah pemeluk Kristen di negeri ini tidak bisa mencapai 10% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia.
2. Product selling value (nilai jual produk atau barang). Konsumen berselera tinggi yang suka lukisan, tidak akan mau tahu apakah pelukisnya sudah mandi atau masih belum mandi selama setahun, yang penting dia mendapatkan lukisan yang bagus. Begitu pula kecap, yang tempat memproduksinya baunya menyengat hidung.
Produk atau ajaran Kristen seperti tuhan Yesus, Trinitas, dosa waris dan penebusan dosa tidak akan laku (tidak punya nilai jual) bila dipasarkan ke penduduk yang sudah beragama Islam.
3. Personal selling value (nilai jual person/figur). Penampilan dan kepribadian seseorang - terutama yang sudah memiliki kharisma atau menjadi fublic figur - mudah mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu atau membeli barang yang dianjurkan olehnya.
Melalui poin ketiga inilah Kristen menjadikan St. Valentine sebagai idola dan public figur kasih sayang manusia. Ternyata banyak umat Islam -- terutama para remajanya -- dengan mudah menerima tokoh Kristen tersebut sebagai idolanya.
Jika kematian St. Valentine dijadikan sebagai hari kasih sayang, bisa jadi di 25 Desember nanti, umat Islam ikut-ikutan menjadikan hari kelahiran Yesus (Natal) sebagai hari keselamatan manusia di dunia dan di akhirat.
C. PENETRASI BUDAYA
Budaya yang biasanya didefinisikan sebagai “hasil budi daya manusia” tampaknya netral dan tidak ada muatan nilai agamisnya. Tetapi kalau kita merujuk kata tersebut dari bahasa Inggrisnya, culture, yang tersusun dari dua kata cult (cara penyembahan) dan lore (adat atau kebiasaan), baru kita menyadari bahwa pada dasarnya setiap budaya merupakan kebiasaan cara melakukan penyembahan atau penghambaan kepada Tuhan atau dewa.
Sebagai contoh budaya berpakaian. Sebelum Islam datang ke Indonesia, pakaian wanita-wanita kita sangat minim yang hanya menutupi bagian diatas lutut dan di bawah pusar. Hingga kini di samping kiri jalan masuk kota Malang dari arah Surabaya, kita bisa menyaksikan patung Ken Dedes – selain dari atas lutut dan bawah pusar — masih tampak telanjang.
Kedatangan Islam yang mengajarkan kewajiban menutup aurat, telah merubah budaya berpakaian wanita Indonesia secara perlahan mulai dari berpakaian kemben yang menutupi tubuh mulai dari dada hingga kaki, sampai kemudian muncul budaya berjilbab.
Di Eropa masa lalu, mandi dianggap kebiasaan orang miskin sebagai usaha membersihkan tubuhnya dari kotoran. Setelah Kristen lahir dan merambah benua itu, semakin hari penduduknya yang buta huruf bertambah jumlahnya, hingga jatuh dalam masa kegelapan Eropa. Melalui kerajaan dinasti Muawiyah di Andalusia (Spanyol), Islam memperkenalkan budaya membaca – terutama kewajiban membaca Al-Qur’an – dan ilmu pengetahuan pada Eropa, juga membudayakan kewajiban mandi minimal satu jum’at sekali.
Dari sinilah Eropa berangsung-angsur menapaki jalan pencerahan, sehingga kosakata dari Arab yang bernuansa peradaban diserap kedalam bahasa-bahasa Eropa. Sebagai contoh yang diserap oleh bahasa Spanyol: Alcoba - kamar tidur (dr al-qubba - kubah), alacena – lemari (dr al khizana), almohada – bantal (dr al mukhada), dll; Yang diserap oleh bahasa Potugis: alcatifa – selimut (dr al qatifa), alfandega – rumah penginapan / hotel (dr al funduq), safra – panen (dr isfarra), dll; Yang diserap oleh Inggris: cable – kabel (dr hablun), sugar – gula (dr sukar), algebra – aljabar - matematika (dr al jabr – Ibn Jabir – nama ulama pakar matematika), alchemy – chemical – kimia (dr al kamiyah – hitungan), algoritm – algoritma – matematika (dr Al Khawarizm – nama ulama astronom muslim dan bapak matematika modern), dll.
Jika perayaan Valentine's Day yang memfigurkan dan mengidolakan Santo Valentinus sudah menjadi kebiasaan umat Islam, maka budaya Islam tercemari oleh budaya Kristiani, yang justru pihak Kristen sekarang melarang perayaan tersebut karena dianggap merusak moral manusia.
D. SIKAP ISLAM TERHADAP VALENTINE'S DAY
Pertama, Allah mengingatkan kita agar tidak terpesona dengan rayuan dan tipu daya iblis yang senantiasa menampakkan begitu indahnya perbuatan-perbuatan nista manusia, padahal perbuatan itu sebenarnya amat menjijikkan:
"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas beribadah) di antara mereka." (Q.s. al-Hijr : 39-40)
Kedua,. Allah melarang kita mendekati zinah, apalagi melakukan perzinahan.
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk." (Q.s. al-Isra' : 32)
Ketiga, Allah melarang kita mudah terpengaruh oleh perilaku kebanyakan orang, tanpa mengetahui dasar mereka untuk melakukan perbuatan tersebut:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Q.s. 6 al An’am 116)
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawab-nya.” (Q.s. 17 al Isra’ 36)
Keempat, Rasulullah saw. Mengingatkan kita gar tidak mengikuti perilaku (budaya) orang-orang Yahudi dan Nasrani, juga para penyembah berhala lainnya:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
"Abu Said ra. menyampaikan bahwa Nabi saw. bersabda: "Sungguh kamu akan mengikuti perilaku (budaya) orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, selangkah demi selangkah. Hingga meskipun mereka mendaki memasuki lubang biawak, kamu pun ikut mendakinya." Kami (Abu Said dkk.) bertanya: "Ya Rasulullah! Apakah kami akan mengikuti orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Nabi menjawab: "(Mengikuti) Siapa lagi." (HR. Bukhari no. 3197) []
Ratman Boomen 07 Februari 2009 Comments (3 )
05 Februari 2009
Buah dari Taubat
Buah dari Taubat
Orang yang mengetahui hakekat taubat dapat merasakan manisnya buah dari taubat. Karena, taubat adalah sebab semua kebaikan dan kebahagiaan, sebab ketenangan jiwa, kebersihan dan kebahagiaan hati. Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaubat dan senang dengan taubatnya. Allah memberikan keindahan dan kebahagiaan dalam hati hamba yang bertaubat. Adapun di antara buah taubat adalah:
1. Ridha Allah
Hamba yang bertaubat akan dicintai, ditolong dan dijaga dari setiap dosa serta musibah oleh Allah. Hamba yang bertaubat dikarunia rahmat, diliputi berkah, dan doanya dikabulkan. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
"Jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk bertindak, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan, Aku akan memberikan perlindungan untuknya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)
2. Ketenangan jiwa
Sesungguhnya bahaya maksiat bagi jiwa lebih dahsyat daripada bahaya penyakit bagi tubuh. Bahkan, bahaya maksiat mencakup jiwa dan raga. Orang yang berbuat maksiat selalu dihantui rasa cemas dan bimbang, dihantui dengan bisikan-bisikan, dan dirinya selalu dalam keadaan takut serta khawatir. Itu semua tidak lain karena maksiat dan kesalahan yang pernah dia lakukan. Oleh karenanya, taubat adalah ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati. Imam Hasan al-Bashri –rahimahullâh– berkata: "Kebaikan adalah cahaya di dalam hati dan kekuatan di dalam tubuh. Dan, keburukan adalah kegelapan di dalam hati dan kehinaan di dalam tubuh. Taubat adalah obat untuk penyakit jiwa dan badan yang menghasilkan sifat sabar dan pahala dari Allah. Taubat adalah obat yang membeningkan hati dan menghapus darinya faktor-faktor kesempitan yang menjadi noda. Allah berfirman dalam surat al-Muthaffifîn ayat 14:
"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Q.S. al-Muthaffifîn : 14)
Jika hati dibersihkan dari noda, maka ia akan menjadi ringan dan rileks, tidak mengenal putus asa dan terlepas dari kesulitan.
3. Terhindar dari murka Allah
Sesungguhnya taubat adalah pelindung dari azab Allah. Karena dosa meyebabkan kemurkaan-Nya, maka taubat berperan sebagai penghapus dosa. Allah berfirman tentang Nabi Yunus dalam surat al-Anbiyâ' ayat 87:
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Q.S. al-Anbiyâ' : 87)
Ketahuilah bahwa dosa akan tetap ada. Sesungguhnya taubat adalah pemisah antara hamba dan siksa. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabda:
"Sesungguhnya Allah merasa cemburu, dan sesungguhnya orang yang beriman merasa cemburu. Rasa cemburu Allah adalah jika orang yang beriman melakukan tindakan yang Dia haramkan." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Ingatlah wahai hamba Allah! Engkau adalah manusia. Sesungguhnya karakter manusia mengalir dalam dirimu, yaitu sifat lalai, lupa, berbuat salah, dan berlebih-lebihan. Ini semua agar engkau selalu bertaubat setiap saat. Karena, taubat menghapus dosa dan tindakan tercela dari dirimu. []
Ratman Boomen 05 Februari 2009 Comments (0 )
