Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

02 Juli 2010

10 Ribu Beli Waktu; Kisah Naif di Penjara


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Lapas Narkotika Pamekasan, Madura. Saya dan kawan-kawan hendak membesuk seorang teman yang “dipenjara” di sana. Teman saya itu bukan bandar narkoba, bukan pula pengedar ganja. Bukan pemburu sabu-sabu, bukan pula pengoplos pil koplo. Dia disel karena menabrak mati seorang pengendara motor di sebuah tikungan saat jam 2 tengah malam. Untungnya, kejadian naas itu dalam rangka kerja, sehingga bisa dibantu lebih oleh rekan-rekan kerja.

Perjalanan ke Madura pagi itu lumayan cukup ramai. Kami memakai 3 mobil; 1 kijang dan 2 mobil box karena sekalian mengantar barang di Pulau Garam itu. Rombongan cukup banyak orang. Yang begitu menyentuh hati, istri dan anak-anak kecil teman saya yang dipenjara itu ikut juga. Betapa sedihnya jika sang ayah tak bisa bersama dalam keluarga untuk beberapa saat, apalagi di sebuah tempat yang sangat tidak diinginkan. Saya hanya bisa membatin dan mengelus dada. Nelangsa rasanya.

Kami melewati jembatan Suramadu selepas keluar dari tol Perak. Saat di tengah jembatan Suramadu, seolah saya berada di antara dua masyarakat dan dua budaya yang berbeda: Jawa dan Madura. Selesai menyeberang jembatan 4,5 kilometer itu, roda mobil mulai menapaki jalan aspal Madura yang tidak terlalu lebar. Belum lagi betapa macetnya jalan karena tumpahan pasar di Tanah Merah. Harus hati-hati. Ada pemandangan menarik di Pasar Tanah Merah, penumpang dan sapi “duduk” bersama dalam mobil angkutan. Mereka akrab dan sepertinya tidak ada yang merasa terganggu dengan bau badan penumpang berkaki empat itu.

Sepanjang jalan, saya memperhatikan beberapa kultur masyarakat Madura yang khas, mulai dari pola bangunan rumah hingga kegiatan di pasar. Hampir di setiap rumah pasti ada bangunan kecil di dekatnya yang mirip saung. Itu bukan sekadar saung, tapi mushala pribadi. Tidak hanya itu, sebagian ada makam keluarga di belakang rumahnya. Cukup menarik, dan mengingatkan saya pada 6 tahun silam saat pertama kali saya ke Madura, ke Pondok al-Amien Prenduan Sumenep.

Perjalanan hampir 4 jam itu akhirnya mengantar kami sampai ke Lapas juga. Itu pengalaman pertama saya ke penjara. Saat mahasiswa dulu, fakultas sering mengadakan kunjungan ke penjara, tapi saya tak pernah ikut. Terik mentari tengah hari itu membuat suasana cukup panas. Bangunan khas penjara di depan mata. Tembok dengan tebal satu meter lebih itu berdiri kokoh. Cat putihnya membuat makin mencolok terterpa sinar matahari. Kawat berduri yang dialiri tegangan listrik mengitari ujung tembok. Beberapa pos penjagaan tampak nongkrong di pojok-pojok tembok dengan sombongnya. “Penjara memang sombong dan egois,” batin saya.

Kawan yang menjadi sesepuh rombongan mendekati pos jaga di sebelah pintu masuk. Wow, pintu kayu abu-abu itu tebal juga. Seperti pintu gerbang benteng di film-film perang kuno. Tiba-tiba seorang petugas menuding-nuding ke saya sambil meneriakkan sesuatu ke kawan sesepuh itu. Wah, ternyata penjaga itu tahu kalau saya memotret penjara, padahal saya sudah berpura-pura SMS. Karena memotret penjara dilarang, maka saya pun akhirnya mengakhiri memotret dan merekam setelah dapat beberapa gambar. Ada sesuatu yang menarik saya untuk mengambil gambar di dekat pintu masuk itu. Sangat menarik!

Setelah berbicara beberapa saat dengan petugas jaga, kawan sesepuh tadi berbalik menuju kami yang menunggu di seberang. “Ono opo, Mas?” tanya kami. “Mbayar mlebune je,” jawabnya dengan muka anyel. Asem tenan, batin saya. Hati saya mulai panas, benci sekali dengan perilaku aparat hukum. Saya tahu, itu jelas bukan oknum, tapi kebejatan yang terstruktur. Bagaimana tidak, jelas sekali terlihat tulisan besar di samping pintu masuk: TIDAK DIPUNGUT BIAYA! Tapi, apa yang terjadi? Semua pengunjung harus membayar 20 ribu per kepala. Apa biar nggak bayar harus masuk tanpa kepala? Bayangkan saja, berapa uang yang terkumpul dalam sehari jika ada 100 pengunjung. Rombongan saya saja sekitar 13 orang. Berapa uang dalam sepekan, sebulan, setahun dan seterusnya? Jika sehari ada 100 pengunjung, akan terkumpul 2 juta rupiah. Dalam sepekan akan terkumpul 14 juta rupiah. Dalam sebulan akan terkumpul 60 juta rupiah. Dan, dalam setahun akan terkumpul 720 juta rupiah! Hampir satu milyar! Itu baru dari pungutan liar masuk, belum dari pungli lainnya. Badala...!

Yang membuat saya anyel sekali adalah karena ada tulisan “TIDAK DIPUNGUT BIAYA” itu. Andaikata tidak ada tulisan itu, mungkin saya agak memaklumi walaupun tetap anyel. Masak masuk penjara aja bayar, kayak masuk kebun binatang saja. Apa sudah begitu bejatnya moral (oknum?) aparat hukum kita hingga tak punya malu lagi terang-terangan melakukan kebejatan? Apakah syaraf “kemaluan” mereka sudah putus? Entahlah… “Saya akan buktikan nanti bagaimana di dalam penjara,” batin saya.

Setelah mengumpulkan uang “karcis” liar dan KTP dari kami semua, kawan sesepuh itu kembali ke loket dekat pintu masuk tepat di bawah tulisan “TIDAK DIPUNGUT BIAYA” tadi. Sungguh, saya ingin memaki-maki sambil terbahak-bahak melihat pemandangan konyol itu, tapi tak bisa. Benar-benar menggeramkan sekaligus menggelikan. Naif…naif….

Kami pun akhirnya masuk ke dalam penjara satu per satu. Pintu tebal itu tak dibuka lebar-lebar, hanya cukup masuk untuk satu orang bergiliran. Di balik pintu, seorang petugas memberikan kalung semacam co-card pengunjung. Kalung itu pun sudah sangat lusuh. Selanjutnya kami disuruh masuk ke sebuah ruangan sekitar 4mx4m, lebih luas sedikit dari kamar saya di pesantren mahasiswa dulu yang dihuni dua santri. Ruangan itu ternyata untuk pemeriksaan pengunjung. Ada tiga meja petugas dengan kursinya sejajar tembok. Di depannya ada beberapa kursi dan bangku panjang untuk pengunjung. Di sisi lain ada sekitar tiga kamar kecil dari tripleks dengan masing-masing sebuah bangku agak panjang di dalamnya. Saya tengok ke dalam, sepertinya kamar kecil itu untuk penggeledahan yang bersifat privasi.

Kami berdesak-desakan dalam ruang yang tak cukup itu karena berisi banyak orang. Ditambah lagi pengunjung lain. Barang-barang pangunjung diperiksa. Tas plastik dan bungkusan dibuka, juga ditanyakan isinya. Dilihat sebentar, lalu dibungkus kembali. Tak diperiksa sampai dalam dan detail. Tidak ada detektor atau sensor. Sejak masuk, saya perhatikan juga tidak ada kamera CCTV. Semua secara manual tanpa peralatan memadai, apalagi teknologi canggih. Waktu itu, petugas pemeriksanya wanita. Ada beberapa petugas pria juga. Kelihatannya pemeriksaan barang itu sekadarnya saja. Saya berani menjamin, kalau ada pengunjung yang menaruh narkoba di dalam nasi atau roti, tidak akan ketahuan. Wong cuma dilihat luarnya saja kok. Kalau begitu ya maklum saja jika Lapas Narkoba malah jadi sarangnya bandar narkoba. Bandar narkoba yang dipenjara bukannya tobat, tapi tambah hebat.

Cukup lama kami di ruang pemeriksaan itu. Setelah semua barang bawaan diperiksa, tak berapa lama teman kita yang dipenjara itu datang. Ternyata petugas memperbolehkan kita bertemu di ruang itu. Betapa harunya saat teman kita memeluk erat anak paling kecilnya yang baru sekitar 1 tahun lebih sedikit. Tak terasa kedua kelopaknya pun basah oleh airmata kesedihan dan kerinduan. Kami yang memperhatikannya hanya bisa diam dan termangu, tenggelam dalam suasana haru. Diamnya kami untuk beberapa saat itu seolah mempersilakan dia menumpahkan semua perasaan batinnya kepada anak-nanak dan istrinya. Saya lihat, istrinya pun berkaca-kaca, walau tak tersedu-sedu. Saya sangat memahami apa yang dirasakannya.

Karena banyaknya rombongan kami dan agar pertemuan dengan teman yang dipenjara itu lebih nyaman, petugas akhirnya menyuruh kami ke balai-balai di sebelah dalam kompleks. Menuju balai lesehan itu, kami harus merelakan HP dititipkan petugas di ruang pemeriksaan tadi. “Waduh, gak bisa curi-curi foto lagi nih,” keluh saya dalam hati.

Menuju balai lesehan, sebuah pintu besi kami lalui. Balai lesehan itu memang digunakan untuk pertemuan tahanan dengan pembesuknya. Cukup luas, muat untuk acara kenduren satu RT. Cukup dingin, karena lantai yang diaci tanpa dialasi tikar. Di sisi tembok ada papan besar seukuran meja sekolah bertuliskan kata-kata mutiara Menteri Hukum dan HAM masa lalu, DR. Yusril Ihza Mahendra. Mau tahu tulisannya? “ORANG YANG TIDAK BAIK HIDUP DALAM SISTEM YANG BAIK AKAN MENJADI BAIK, ORANG YANG BAIK HIDUP DALAM SISTEM YANG TIDAK BAIK AKAN MENJADI TIDAK BAIK”. Mantap benar tulisan itu. Benar-benar kata-kata mutiara. “Apakah kata-kata itu terefleksi di penjara ini?” tanya retoris hati saya.

Kami pun melingkar seperti mau kenduren saja. Perbincangan hangat dimulai. Gelak tawa kami ciptakan agar teman kita tidak larut dalam kesedihan penjara. Cerita-cerita di penjara keluar dari mulut teman kita itu. Dari sekian banyak ceritanya, kok lebih banyak yang tidak menyenangkan. Nampak benar, uang tetap menjadi raja di penjara. Mau lebih nyaman sedikit di dalam sel, pakai uang. Mau apa sedikit, pakai uang. Hampir semua pakai uang. Sepertinya penjara tahu benar pepatah Barat: time is money. Yang bisa moni hanya money. Kalau gak punya money, gak bisa moni! Nek kere money, isone mung moni-moni.

Bincang-bincang kita tidak terlalu lama. Jarum jam sudah menembus waktu dhuhur. Tiba-tiba ada seorang petugas yang mondar-mandir di dekat kami. Tak lama kemudian dia bilang, “Mas, waktunya tinggal 5 menit lagi ya?” Emangnya waktunya berapa lama sih, kok dari tadi gak ada pengarahan dan pemberitahuan waktu berkunjung? Teman kita yang dipenjara ternyata tahu apa maunya si petugas dan trik menghadapinya. “Kasih uang saja dia, 10 ribu aja. Bilang uang rokok,” sarannya. Lalu seorang kawan menghampiri dan memberikan uang itu tanpa banyak bicara. Si petugas menerima tanpa malu-malu sambil melihat ke arah kita. Tak ada penolakan sedikit pun. Wajahnya tak menyiratkan ewuh pakewuh alias sungkan sama sekali. Transaksi itu tanpa sembunyi-sembunyi, di balik tembok atau diselipkan, misalnya. Semua serba terang. Semua seolah sudah biasa. Kita hanya bisa saling pandang dan tersenyum kecut.
“Sepuluh ewu iso nggo tuku wektu pirang menit yo?” tanya saya pada teman lain.
“Wah, mbuh ora ngerti. Didelok wae mengko nganti jam piro,” jawabnya.
Setelah menerima upeti itu, si petugas langsung klewes-klewes pergi. Asem tenan….memang money yang moni di sini! Kalau sudah begini, siapa yang salah, petugas atau pengunjung? Saya bingung menjawabnya.

Kami pun melanjutkan bincang-bincang pascpemberian uang rokok itu. Jarum jam terus saya hitung. Saya penasaran sampai berapa menit harga 10 ribu tadi. Ternyata setelah hampir 20-an menit, petugas tadi kembali sambil memberitahukan, “Mas, waktunya sudah habis.” “Nggih, Paaaak!” jawab kami hampir serempak. Saya pun akhirnya tahu berapa lama waktu seharga 10 ribu itu. Selama perjalanan pulang, otak saya muter-muter melihat pengalaman konyol dan naif barusan. Ada pertanyaan besar di kepala saya, apa Menteri Hukum dan HAM bisa memberantas yang beginian? Saya kok 100% meragukannya. Pantas saja kongkalikong kamar sel mewah seperti Artalita Suryani alias Ayin wajar terjadi. Saya jadi yakin dengan alasan kenapa saya nggak mau jadi hakim, jaksa, pengacara, apalagi sipir penjara walaupun saya, katanya ijasah sekali lagi katanya ijasah, sarjana hukum. Saat perjalanan pulang, saya SMS istri: “Mieh, ad crita knyol n naif d pnjara”. “Oke tak tnggu ya,” jawabnya dari seberang Pulau Jawa sana. []

Ratman Boomen

0 Responses: