Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

18 Februari 2009

(13) Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun


Bapak Sosiologi dan Sejarah


Oleh: Ratman al-Kebumeny



Siapakah Dia?

Siapakah yang diakui sebagai bapak sosiologi dan ilmu sejarah dari kalangan kaum muslimin? Dia adalah Ibnu Khaldun, seorang yang dilahirkan di Tunis sekitar tahun 732 H / 1322 M. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Abu Zaid Ibnu Khaldun. Dia berasal dari keluarga kalangan atas yang berpindah dari Seville Spanyol Islam. Adapun nenek moyangnya adalah orang Arab dari Yaman yang tinggal di Spanyol pada masa awal kekuasaan Islam di sana sekitar abad ke-8 M.
Kehidupannya membentuk ia jadi seorang sosiolog (ahli sosiologi). Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dan semua hal yang berhubungan dengannya. Pada masa awalnya Ibnu Khaldun ikut aktif dalam keluarganya di bidang politik dan kehidupan intelektual perkotaan. Karena keluarganya mempunyai kedudukan dan pengaruh, maka tidak jarang dikunjungi oleh para pemimpin politik dan ilmuwan dari wilayah Islam Barat, yaitu Afrika Utara dan Spanyol. Kehidupan keluarganya yang demikian itulah membantu dia mempelajari karakter (sifat-sifat) masyarakat. Selain itu, kehidupannya sendiri yang penuh dengan lika-liku di berbagai kalangan membuat ia semakin mumpuni dalam menyusun teori-teori sosiologinya, hingga ia menulis kitab yang terkenal di bidang sosiologi. Setelah sekian lama mengarungi kehidupan penuh dengan hikmah yang bisa dipetik dan berkarya, Ibnu Khaldun akhirnya dipanggil oleh-Nya pada sekitar tahun 808 H / 1406 M.





Apa Karyanya?

Ibnu Khaldun meulai pendidikannya di Tunis, tanah kelahirannya, dan Fez. Di sana ia belajar Alquran dan hadis serta cabang-cabang studi Islam lainnya seperti dialektika teologi dan syari'ah (fikih Islam menurut mazhab Maliki). Selain belajar hal itu, ia juga mempelajari sastra Arab, filsafat, matematika, dan astronomi. Semangat belajarnya yang tinggi menjadikan ia seorang yang memiliki keluasan ilmu dan ketajaman pemikiran yang mendukung bidang yang digelutinya, yaitu sosiologi dan sejarah. Bahkan, di usianya yang masih muda, belasan tahun, Ibnu Khaldun sudah diberi tugas dinas oleh penguasa Mesir yang bernama Sultan Barquq.
Kehidupan pribadinya penuh dengan lika-liku dan berputar-putar. Pad satu waktu ia mengabdi pada Sultan Marinia di Fez sebagai pegawai, namun akhirnya ia dipenjara lantaran terjadi intrik penguasa (pergolakan politik dan kekuasaan). Tak berselang lama kemudian ia dibebaskan dari penjara dan kembali menjabat posisinya sebagai pegawai pemerintah. Tapi, karena suatu sebab tertentu akhirnya ia pun pindah ke Spanyol.
Pada awalnya, kedatangan Ibnu Khaldun di Spanyol disambut baik dan ramah oleh kalangan istana Granada. Tapi, lagi-lagi terjadi kekacauan politik di sana, sehingga memaksanya pindah lagi ke Afrika Utara. Di tempat inilah Ibnu Khaldun menerima jabatan tinggi dari Sultan Bujiya. Tapi, Ibnu Khaldun selalu bersinggungan dengan pergolakan politik dan masyarakat, sehingga di tempat ini pun ia dipenjara, bahkan dipenjara bersama dengan Sultan Bujiya. Peperangan dan kondisi politik yang kacau membuatnya kembali lagi ke Fez, dan selanjutnya pindah lagi ke Tunisia. Di tempat tinggal terakhir inilah Ibnu Khaldun melahirkan karya besarnya, yaitu kitab Al Muqaddimah atau Prolegomena. Kitab karyanya inilah yang berpengaruh dan diakui oleh para ahli sosiologi, sejarah, dan filsafat dalam kurun waktu berabad-abad kemudian, bahkan hingga sekarang.
Setelah terjadi ketidakpastian di Afrika Utara, akhirnya pergi ke Mesir dan menetap di sana selam 24 tahun. Perjalannya hingga sampai di Mesir diawali ketika ia dalam perjalannya ke negeri timur untuk menjalankan haji sampai akhirnya di Mesir. Ketika di Mesir, Ibnu Khaldun mulai mengabdikan diri pada kesultanan Mamluk, yaitu Sultan Barquq sebagaimana disebutkan sebelimnya. Di Kairo ia menjabat sebagai Hakim Agung pada mazhab Maliki. Di sana Ibnu Khaldun juga mengajar di Universitas Al Azhar.
Kehidupan Ibnu Khaldun dari istana ke istana, dari penguasa satu ke penguasa lain menjadikannya memiliki pengalaman dan ilmu sosiologi serta sejarah yang luas dan dalam. Dia banyak menimba ilmu dari para politisi, duta besar, dan ilmuwan Afrika Utara, Spanyol Islam, Mesir, dan ilmuwan muslim lainnya. Maka, tak heran apabila ia terkenal sebagai ahli sosiologi dan sejarah, apalagi dengan kitab Al Muqaddimah-nya yang menjadikannya semakin diakui kepakarannya di bidang itu.
Tema utama kitab Al Muqaddimah membahas kenyataan sosial dan lingkungannya dari aspek psikologi (kejiwaan) maupun ekonomi yang berpengaruh pada perkembangan kehidupan manusia. Ibnu Khaldun menjelaskan dinamika kehidupan antar kelompok yang melahirkan masyarakat baru dengan kekuatan politiknya. Dia juga membahas dan mengkaji kemajuan dan kemunduran suatu kehidupan masyarakat dan sebab-sebabnya. Ia paparkan hal itu dengan ketajaman pemikirannya dan keluasan pengalaman peribadinya dalam berbagai pergolakan politik kekuasaan dan masyarakat. Kitab Al Muqaddimah tidak sekedar teori, tapi pengalaman yang dijalani oleh penulisnya sendiri, sehingga membuat kitab itu berbobot.
Ibnu Khaldun mengemukakan bahwa sejarah senantiasa berulang dalam kehidupan masyarakat. Ia menjelaskan roda kehidupan sebuah masyarakat atau peradaban bahwa pertama kalinya mereka berhasil menciptakan kehidupan baru dengan baik, tapi setelah berlangsung tiga generasi, mereka akan kehilangan kekuatannya dan akhirnya bisa mengalami kemunduran. Penjelasan lebih rinci teori tersebut adalah sebagai berikut:

1. Para penguasa dan pejabat generasi pertama mengetahui persis apa-apa yang menyebabkan keberhasilan mereka mencapai kekuasaan.
2. Penguasa generasi kedua dari mereka turut terlibat dalam dalam upaya penaklukan, sehingga mereka mengetahui hal-hal yang diperlukan untuk tegaknya sebuah kekuasan berdasarkan pengalaman dari generasi pertama.
3. Penguasa generasi ketiga hanya mengetahui hal-hal yang menjadikan keberhasilan kekuasaan dari generasi kedua.
4. Penguasa generasi keempat merasa bahwa kekuasan dan kehormatan itu adalah miliknya sejak lahir. Mulai generasi keempat inilah muncul pergolakan kekuasaan, yang bisa melahirkan kemunduran, bahkan kehancuran.

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa peran agama (Islam) adalah menyatukan orang Arab (kaum muslimin) dan membangkitkan kemajuan peradaban masyarakatnya. Dia juga menunjukkan bahwa ketidakadilan dan kezaliman merupakan tanda-tanda yang jelas bagi keruntuhan suatu negara.
Sedangkan dalam sejarah, Ibnu Khaldun menyampaikan bahwa kesalahan-kesalahan para sejarawan (ahli sejarah) dalam studi mereka diakibatkan karena tiga faktor berikut ini, yaitu:

1. Kebodohan mereka terhadap sifat-sifat peradaban dan orang.
2. Prasangka dan pandangan pribadi yang negatif dahulu (subyektifitas).
3. Penerimaan secara buta atas informasi dari orang lain.

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa kemajuan peradaban didasari atas pemahaman terhadap sejarah dengan benar. Dan pemahaman yang benar terhadap sejarah akan dapat diperoleh dengan tiga hal, yaitu:

1. Seorang ahli sejarah hendaknya tidak berprasangka membela atau menolak seseorang atau idenya. Jadi, seorang sejarawan hendaknya obyektif (jujur) dalam memahami persolan yang terjadi.
2. Seorang ahli sejarah haris mengecek, meneliti, dan mengkaji informasi sejarah yang diterimanya. Seumber informasi itu harus diperiksa kualitas moralnya, ia jujur atau tidak.
3. Seorang ahli sejarah hendaknya tidak membatasi kajiannya pada persoalan politik dan militer saja, atau tentang penguas dan negara saja. Karena, sejarah meliputi banyak hal, termasuk kondisi sosial, agama, dan ekonomi.

Karya lain dari Ibnu Khaldun adalah kitab Al Tasrif. Kitab ini banyak berhubungan dengan kejadian-kejadian kehidupan Ibnu Khaldun sendiri. Selain kitab Al Muqaddimah dan Al Tasrif, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al I'bar. Kitab ini sangat bermanfaat dan mempunyai mutu yang bagus karena ditulis oleh pakarnya. Kitab Al I'bar membahas banyak sejarah berikut ini:

1. Sejarah Arab Sejarah Islam
2. Sejarah para penguasa muslim
3. Sejarah Mesir dan Afrika Utara
4. Sejarah Yunani
5. Sejarah Romawi
6. Sejarah Yahudi
7. Sejarah Persia
8. Sejarah

Kitab-kitabnya telah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan mempunyai pengaruh yang besar, baik di Timur maupun di Barat. Karya-karya Ibnu Khaldun telah menjadi sumber inspirasi perkembangan lebih lanjut dari ilmu-ilmu sebagaimana yang digeluti Ibnu Khaldun, yaitu sosiologi, sejarah, filsafat, dan lainnya. Sampai-sampai Prof. Gumm Ploughs dari Kolosio menganggap Al Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun lebih unggul dalam keilmiahannya daripada buku The Prince-nya Machiavelli yang ditulis satu abad setelah Al Muqaddimah.
Perlu diketahui pula bahwa versi ringkas Al Muqaddimah, an Introduction to History (suatu pengantar sejarah) telah diterbitkan oleh Princeton University Press, Bollingen Series pada tahun 1981 M. []

11 Februari 2009

JP BOOKS Butuh Naskah Buku

JP BOOKS Butuh Naskah Buku

Ini informasi penting bagi Anda yang suka menulis. Tulisan Anda tentu ingin diterbitkan dalam bentuk buku, bukan? Nah, ini kesempatan baik. JP BOOKS, sebuah penerbit Jawa Pos Group membutuhkan naskah buku:

Fiksi
Novel religi, novel sejarah, novel perjalanan, novel keluarga, novel budaya, novel politik, dll. Tapi, bukan novel picisan yang isinya cuma cinta-cintaan model sinetron. Yang dibutuhkan novel yang bermakna, mendidik, dan mengandung nilai-nilai positif.

Nonfiksi
Buku-buku umum: agama, motivasi, teknologi, tips-tips, how to, kesehatan, pendidikan, anak-anak, dll.
Buku-buku penunjang pendidikan: referensi, soal-soal dan solusinya, dll.

Kriteria:
-Naskah diketik komputer (spasi 1.5, fonts Times New Roman, ukuran 12).
-Bahasa baik dan mudah dipahami.
-Susunan naskah/kerangka terstruktur (sistematis).
-Naskah memuat kelengkapannya (biasanya nonfiksi), seperti: kata pengantar, daftar isi, daftar istilah, daftar pustaka, dan lainnya yang diperlukan.
-Naskah yang dirimkankan berupa print out ke JP BOOKS (soft file menyusul jika naskah dinyatakan layak terbit).
-Naskah yang dikirim disertai biodata dan fotocopy KTP yang masih berlaku.

Alamat JP BOOKS:
Jl. Karah Agung No. 45 Surabaya Jatim Tlp. 031-8289999

Contact person:
HP. 085749404009 – email: ratman_alkebumeny@yahoo.com

07 Februari 2009

Sejarah dan Mitos Valentine Day


Valentine's Day, Pesta Setan Mengumbar Sahwat


Oleh: Masyhud SM


Valentine's Day mewarisi tradisi Festival Lupercalia yang merupakan ritual para penyembah berhala (Pagan) Romawi kuno dengan cara mengumbar syahwat, yang kemudian diubah oleh Paus Gelasius II menjadi Hari Valentin yang ditetapkan pada tahun 496 M. sebagai hari yang penting untuk dirayakan oleh Kristen. Tetapi pada tahun 1969 pihak Kristen sendiri melarang perayaan Valentine's Day.

Lalu bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hari Valentin?

A. ASAL USUL VALENTINE'S DAY

Bulan Pebruari dijadikan oleh Romawi sebagai bulan cinta (love) dan kesuburan. Dalam istilah Barat, Love (cinta) lebih menunjukkan hubungan seks. Sedangkan kasih sayang memiliki istilah sendiri, yakni affection. Oleh karena itu arti sebenarnya making love adalah hubungan kelamin, bukan menjalin kasih sayang.

Sejak dulu, bulan Pebruari selalu ditunggu-tunggu orang Romawi penyembah berhala untuk mencari pasangan baru secara resmi, walaupun setiap hari mereka juga terbiasa gonta-ganti pasangan. Perayaan seks mencapai puncaknya pada pertengahan bulan dalam sebuah pesta yang disebut Festival Lupercalia, dimana para perempuan muda memasrahkan tubuhnya pada para pemuda yang memilihnya dan harus melayani syahwat mereka tanpa syarat selama setahun penuh sampai datangnya bulan Pebruari lagi.

Berabad kemudian, Kristen yang ingin manancapkan pengaruhnya di Istana kerajaan Romawi, banyak mengadopsi simbol dan ajaran Paganisme (penyembah berhala) Romawi ke dalam ajaran gereja, sehingga Festival Lupercalia pun dimasukkan sebagai salah satu hari peringatan (memorial day) bagi gereja. Mitos Santo Valentinus pun dibuat untuk meyakinkan semua kalangan. Gereja mengganti istilah Lupercalian Festival dengan The valentine's Day.

Dengan penulisan sejarah yang curang dan konspiratif oleh intelektual Barat yang disebarkan dengan kekuatan pedang dan uang, agar masyarakat dunia meyakini bahwa Valentine's Day merupakan hari yang sungguh penting, bersejarah dan harus dirayakan.

Agar penetrasi budayapenyembah berhala ini bisa diterima oleh banyak kalangan di dunia, terutama pada dunia Islam, maka istilah love yang di Barat sebenarnya bernuansa syahwat, dibelokkan pengertiannya menjadi kasih sayang. Mak jadilah Valentine's Day yang sebenarnya merupakan Hari Perayaan Hubungan Seks mengalami pengaburan dan pembelokan makna (enfimisme) menjadi Hari Kasih Sayang. Padahal siapa pun orang dewasa akan mengetahui esensi (hakekat) perayaan tersebut yang banyak diakhiri dengan ritual making love (hubungan kelamin) dengan pasangan yang tidak sah (zinah).

a. Festival Lupercalia

Festival ini merupakan perayaan yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 18 Pebruari, dimana pada tanggal 15 mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14) dipersembahkan kepada Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

Pada tanggal 13 pagi hari, pendeta tertinggi Pagan (penyembah berhala) Roma menghimpun para pemuda dan pemudi untuk mendatangi kuil pemujaan. Mereka dipisah dalam dua barisan dan sama-sama menghadap altar utama. Semua nama perempuan muda ditulis dalam lembaran-lembaran kecil, setiap satu lembar tertulis satu nama. Lembaran tersebut dimasukkan ke kendi besar.

Setelah itu, pendeta mempersilahkan para pemuda satu per satu mengambil satu nama gadis yang berada pada kendi tersebut secara acak hingga wadah itu kosong. Gadis pemilik nama yang terambil, harus menjadi kekasih pemuda yang mengambil namanya dan berkewajiban melayani segala yang diinginkan oleh pemuda tersebut selama setahun hingga tiba Festival Lupercalia di tahun depan.

Tanpa ikatan pernikahan, mereka bebas berbuat apa saja. Dan malam pertama hari itu, malam menjelang 14 Pebruari hingga malam menjelang tanggal 15, di seluruh kota, para pasangan baru itu merayakan apa yang kini terlanjur disebut sebagai Hari kasih Sayang. Suatu istilah yang benar-benar keliru dan lebih tepat disebut dengan Making Love Day atau Malam Kemaksiatan.

Pada tanggal 15 Pebruari, setelah sehari penuh para pasangan baru itu mengumbar syahwatnya, mereka secara berpasangan kembali mendatangi kuil pemujaan untuk memanjatkan doa kepada Dewa Lupercalia agar dilindungi dari gangguan serigala dan roh jahat. Dalam upacara itu, pendeta pagan Roma membawa dua ekor kambing dan seekor anjing yang disembeli diatas altar sebagai persembahan kepada Dewa Lupercalia. Persembahan ini diikuti dengan ritual meminum anggur.

Setelah itu para pemuda mengambil selembar kulit kambing persembahan dan berlari di jalan-jalan kota diikuti oleh para gadis. Jalan-jalan kota Roma meriah oleh teriakan dan tawa-canda para muda-mudi. Para perempuan berlomba-lomba mendapatkan sentuhan kulit terbanyak dan yang pria berlomba-lomba menyentuh gadis sebanyak-banyaknya.

Perempuan Romawi kuno di zaman itu sangat percaya bahwa kulit kambing yang dipersembahkan kepada Dewa Lupercalia atau Lupercus itu memiliki daya magis yang luar biasa, yang bisa membuat mereka bertambah subur, tambah muda dan cantik. Semakin banyak mereka menyentuh kulit kambing tersebut, mereka yakin akan bertambah cantik dan subur.

b. Mitos Santo Valentinus

Valentine's Day berasal dari kisah dusta tentang seorang Santo (orang suci dalam pandangan Katolik) yang rela menyerahkan nyawanyademi cinta pada orang lain, yaitu Santo Valentinus. Namun pihak gereja sendiri hingga kini tidak menemukan kata sepakat siapa sesungguhnya Santo ini. Oleh karena itu, Gereja sebenarnya telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya untuk ikut-ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.

Menurut catatan Katolik, ada tiga santo (orang suci) yang bernama Valentinus dan semuanya martir (tewas) pada abad ketiga. Bagi orang Eropa, Pebruari merupakan bulan panjang untuk romantika.

Ada tiga versi mitos Valentinus:

1. Santo Valentinus adalah seorang Katolik yang dengan berani mengatakan di hadapan kaisar Claudius II yang berkuasa di Roma bahwa Yesus adalah satu-atunya Tuhan dan menolak menyembah para dewa dan dewi orang Romawi. Kaisar sangat marah dan menjebloskan Valentinus ke penjara. Orang-orang yang bersimpati kepadanya secara diam-diam menulis surat dukungan dan meletakkannya di depan jeruji penjara. Kisah ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah cinta dan kasih sayang.

2. Valentine mungkin tewas dalam upaya menyelamatkan orang-orang Kristen yang melarikan diri dari penjara untuk menghindari penyiksaan dan pembantaian.

3. Valentinus adalah seorang pendeta yang melayani umat Kristen di Roma. Kaisar Roma, Claudius II, berkeyakinan bahwa Romawi akan tetap jaya jika memiliki tentara yang kuat dan tidak terkalahkan. Super tentara ini bisa terpenuhi oleh pemuda-pemuda yang masih suci, belum pernah menyentuh wanita.

Oleh karena karena itu kaisar melarang pemuda Roma untuk menjalin hubungan dengan wanita. Keputusan kaisar ini dianggap oleh Valentinus tidak adil. Dia menentang kaisar dan menikahkan pemuda-pemudi yang saling menyintai secara sembunyi. Ketika kegiatan Valentinnus ini terungkap, Claudius menjatuhi hukuman mati kepadanya.

Versi lain menyebutkan, Ketika Valentine meringkuk di penjara, ia jatuh cinta pada gadis anak penjaga penjara (sipir) yang selalu mengunjunginya hingga santo tersebut mati. Sebelum eksekusi hukuman mati, Santo Valentinus mengirim surat cinta pada gadis itu yang ditandatanganinya dengan nama "From your Valentine's..." (dari kekasihmu Valentine).

Cerita ini menjadi salah satu mitos yang paling dikenang hingga tanggal 14 Pebruari 496 M, Pausl Gelasius meresmikan hari itu sebagai hari untuk memperingati Santo Valentinus. Meskipun begitu, Paus Gelasius sendiri mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui tentang santo tersebut. Ada yang mengatakan, Gelasius sengaja menetapkan hal ini untuk menandingi perayaan Festival Lupercalia.

Hari Valentine yang oleh Paus Gelasius II dimasukkan ke dalam kalender perayaan gereja, pada tahun 1969 dihapus dari kalender gereja, karena tidak diketahui asal-usulnya. Oleh karena itu gereja kemudian melarang Valentine's Day dirayakan. Walaupun demikian, larangan ini tidak ampuh dan V-Day tetap saja dirayakan oleh banyak orang.

Sebagian besar menganggap, Valentine day merupakan budaya untuk mengenang kematian bapak gereja yang sudah dianggap meraih kesucian hidup (santo atau santa, disingkat St.), yakni St. Valentine atau St. Valentinus yang mati sekitar tahun 270 masehi.

B. MISI KRISTEN

Disamping dunia bisnis memanfaatkan moment Valentine day untuk meraup keuntungan besar, Kristen menjadikannya sebagai cara efektif untuk mengkristen-kan generasi Islam melalui teori strategi marketing (pemasaran).

Dalam pemasaran ada tiga faktor yang memiliki nilai jual: Institutional selling value, Product selling value, dan Personal selling value.

1. Institutional selling value (nilai jual lembaga /perusahaan). Suatu lembaga / perusahaan atau merk yang sudah memiliki nama baik (mapan) mempunyai nilai jual lebih tinggi, meskipun produk (barang) yang dipasarkan sebenarnya kualitasnya sama dengan produk merk lain. Seperti Aqua (air), Hewled Packard - IBM - Sony - Toshiba (computer) dan lain-lain.

Kristen sebagai nama (merk) agama tidak memiliki nilai jual (sulit diterima) oleh penduduk Indonesia yang beragama Islam. Sehingga sejak penjajah datang ke Indonesia hingga kini, jumlah pemeluk Kristen di negeri ini tidak bisa mencapai 10% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia.

2. Product selling value (nilai jual produk atau barang). Konsumen berselera tinggi yang suka lukisan, tidak akan mau tahu apakah pelukisnya sudah mandi atau masih belum mandi selama setahun, yang penting dia mendapatkan lukisan yang bagus. Begitu pula kecap, yang tempat memproduksinya baunya menyengat hidung.

Produk atau ajaran Kristen seperti tuhan Yesus, Trinitas, dosa waris dan penebusan dosa tidak akan laku (tidak punya nilai jual) bila dipasarkan ke penduduk yang sudah beragama Islam.

3. Personal selling value (nilai jual person/figur). Penampilan dan kepribadian seseorang - terutama yang sudah memiliki kharisma atau menjadi fublic figur - mudah mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu atau membeli barang yang dianjurkan olehnya.

Melalui poin ketiga inilah Kristen menjadikan St. Valentine sebagai idola dan public figur kasih sayang manusia. Ternyata banyak umat Islam -- terutama para remajanya -- dengan mudah menerima tokoh Kristen tersebut sebagai idolanya.

Jika kematian St. Valentine dijadikan sebagai hari kasih sayang, bisa jadi di 25 Desember nanti, umat Islam ikut-ikutan menjadikan hari kelahiran Yesus (Natal) sebagai hari keselamatan manusia di dunia dan di akhirat.

C. PENETRASI BUDAYA

Budaya yang biasanya didefinisikan sebagai “hasil budi daya manusia” tampaknya netral dan tidak ada muatan nilai agamisnya. Tetapi kalau kita merujuk kata tersebut dari bahasa Inggrisnya, culture, yang tersusun dari dua kata cult (cara penyembahan) dan lore (adat atau kebiasaan), baru kita menyadari bahwa pada dasarnya setiap budaya merupakan kebiasaan cara melakukan penyembahan atau penghambaan kepada Tuhan atau dewa.

Sebagai contoh budaya berpakaian. Sebelum Islam datang ke Indonesia, pakaian wanita-wanita kita sangat minim yang hanya menutupi bagian diatas lutut dan di bawah pusar. Hingga kini di samping kiri jalan masuk kota Malang dari arah Surabaya, kita bisa menyaksikan patung Ken Dedes – selain dari atas lutut dan bawah pusar — masih tampak telanjang.

Kedatangan Islam yang mengajarkan kewajiban menutup aurat, telah merubah budaya berpakaian wanita Indonesia secara perlahan mulai dari berpakaian kemben yang menutupi tubuh mulai dari dada hingga kaki, sampai kemudian muncul budaya berjilbab.

Di Eropa masa lalu, mandi dianggap kebiasaan orang miskin sebagai usaha membersihkan tubuhnya dari kotoran. Setelah Kristen lahir dan merambah benua itu, semakin hari penduduknya yang buta huruf bertambah jumlahnya, hingga jatuh dalam masa kegelapan Eropa. Melalui kerajaan dinasti Muawiyah di Andalusia (Spanyol), Islam memperkenalkan budaya membaca – terutama kewajiban membaca Al-Qur’an – dan ilmu pengetahuan pada Eropa, juga membudayakan kewajiban mandi minimal satu jum’at sekali.

Dari sinilah Eropa berangsung-angsur menapaki jalan pencerahan, sehingga kosakata dari Arab yang bernuansa peradaban diserap kedalam bahasa-bahasa Eropa. Sebagai contoh yang diserap oleh bahasa Spanyol: Alcoba - kamar tidur (dr al-qubba - kubah), alacena – lemari (dr al khizana), almohada – bantal (dr al mukhada), dll; Yang diserap oleh bahasa Potugis: alcatifa – selimut (dr al qatifa), alfandega – rumah penginapan / hotel (dr al funduq), safra – panen (dr isfarra), dll; Yang diserap oleh Inggris: cable – kabel (dr hablun), sugar – gula (dr sukar), algebra – aljabar - matematika (dr al jabr – Ibn Jabir – nama ulama pakar matematika), alchemy – chemical – kimia (dr al kamiyah – hitungan), algoritm – algoritma – matematika (dr Al Khawarizm – nama ulama astronom muslim dan bapak matematika modern), dll.

Jika perayaan Valentine's Day yang memfigurkan dan mengidolakan Santo Valentinus sudah menjadi kebiasaan umat Islam, maka budaya Islam tercemari oleh budaya Kristiani, yang justru pihak Kristen sekarang melarang perayaan tersebut karena dianggap merusak moral manusia.

D. SIKAP ISLAM TERHADAP VALENTINE'S DAY

Pertama, Allah mengingatkan kita agar tidak terpesona dengan rayuan dan tipu daya iblis yang senantiasa menampakkan begitu indahnya perbuatan-perbuatan nista manusia, padahal perbuatan itu sebenarnya amat menjijikkan:

"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas beribadah) di antara mereka." (Q.s. al-Hijr : 39-40)

Kedua,. Allah melarang kita mendekati zinah, apalagi melakukan perzinahan.

"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk." (Q.s. al-Isra' : 32)

Ketiga, Allah melarang kita mudah terpengaruh oleh perilaku kebanyakan orang, tanpa mengetahui dasar mereka untuk melakukan perbuatan tersebut:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Q.s. 6 al An’am 116)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawab-nya.” (Q.s. 17 al Isra’ 36)

Keempat, Rasulullah saw. Mengingatkan kita gar tidak mengikuti perilaku (budaya) orang-orang Yahudi dan Nasrani, juga para penyembah berhala lainnya:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

"Abu Said ra. menyampaikan bahwa Nabi saw. bersabda: "Sungguh kamu akan mengikuti perilaku (budaya) orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, selangkah demi selangkah. Hingga meskipun mereka mendaki memasuki lubang biawak, kamu pun ikut mendakinya." Kami (Abu Said dkk.) bertanya: "Ya Rasulullah! Apakah kami akan mengikuti orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Nabi menjawab: "(Mengikuti) Siapa lagi." (HR. Bukhari no. 3197) []

05 Februari 2009

Buah dari Taubat

Buah dari Taubat


Orang yang mengetahui hakekat taubat dapat merasakan manisnya buah dari taubat. Karena, taubat adalah sebab semua kebaikan dan kebahagiaan, sebab ketenangan jiwa, kebersihan dan kebahagiaan hati. Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaubat dan senang dengan taubatnya. Allah memberikan keindahan dan kebahagiaan dalam hati hamba yang bertaubat. Adapun di antara buah taubat adalah:

1. Ridha Allah
Hamba yang bertaubat akan dicintai, ditolong dan dijaga dari setiap dosa serta musibah oleh Allah. Hamba yang bertaubat dikarunia rahmat, diliputi berkah, dan doanya dikabulkan. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
"Jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk bertindak, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan, Aku akan memberikan perlindungan untuknya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

2. Ketenangan jiwa
Sesungguhnya bahaya maksiat bagi jiwa lebih dahsyat daripada bahaya penyakit bagi tubuh. Bahkan, bahaya maksiat mencakup jiwa dan raga. Orang yang berbuat maksiat selalu dihantui rasa cemas dan bimbang, dihantui dengan bisikan-bisikan, dan dirinya selalu dalam keadaan takut serta khawatir. Itu semua tidak lain karena maksiat dan kesalahan yang pernah dia lakukan. Oleh karenanya, taubat adalah ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati. Imam Hasan al-Bashri –rahimahullâh– berkata: "Kebaikan adalah cahaya di dalam hati dan kekuatan di dalam tubuh. Dan, keburukan adalah kegelapan di dalam hati dan kehinaan di dalam tubuh. Taubat adalah obat untuk penyakit jiwa dan badan yang menghasilkan sifat sabar dan pahala dari Allah. Taubat adalah obat yang membeningkan hati dan menghapus darinya faktor-faktor kesempitan yang menjadi noda. Allah berfirman dalam surat al-Muthaffifîn ayat 14:
"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Q.S. al-Muthaffifîn : 14)

Jika hati dibersihkan dari noda, maka ia akan menjadi ringan dan rileks, tidak mengenal putus asa dan terlepas dari kesulitan.

3. Terhindar dari murka Allah
Sesungguhnya taubat adalah pelindung dari azab Allah. Karena dosa meyebabkan kemurkaan-Nya, maka taubat berperan sebagai penghapus dosa. Allah berfirman tentang Nabi Yunus dalam surat al-Anbiyâ' ayat 87:
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Q.S. al-Anbiyâ' : 87)

Ketahuilah bahwa dosa akan tetap ada. Sesungguhnya taubat adalah pemisah antara hamba dan siksa. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabda:
"Sesungguhnya Allah merasa cemburu, dan sesungguhnya orang yang beriman merasa cemburu. Rasa cemburu Allah adalah jika orang yang beriman melakukan tindakan yang Dia haramkan." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Ingatlah wahai hamba Allah! Engkau adalah manusia. Sesungguhnya karakter manusia mengalir dalam dirimu, yaitu sifat lalai, lupa, berbuat salah, dan berlebih-lebihan. Ini semua agar engkau selalu bertaubat setiap saat. Karena, taubat menghapus dosa dan tindakan tercela dari dirimu. []

(12) Ibnu Nafis

Ibnu Nafis

Si Penemu Pembuluh Darah Kapiler


Oleh: Ratman al-Kebumeny


Siapakah Dia?

Dokter mumpuni yang dianggap sebagai "Ibnu Sina kedua" ini bernama lengkap Abu 'Ala'i 'Alauddin 'Ali bin Abi Hazm bin Nafis Qurasyi Ad Damasyqi, dan terkenal dengan Ibnu Nafis. Ia lahir sekitar tahun 607 H / 1213 M di Damaskus. Ia mengenyam pendidikan di sekolah tinggi kedokteran dan rumah sakit An Nuri yang didirikan oleh Nuruddin Zangi, seorang gubernur Damaskus. Di sekolah ini banyak mahasiswa datang dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu, termasuk mahasiswa kedokteran Nasrani bernama Aminuddaulah Ibnu Tilmidz Al Baghdadi.


Di tempat belajar inilah Ibnu Nafis memperoleh ilmu yang luas dengan fasilitas perpustakaan besar dan lengkap. Karya-karya kedokteran yang telah ada sebelumnya seperti Al Hawi-nya Ar Razi dan Al Qanun fi Ath Thibb-nya Ibnu Sina menjadi hidangan yang dikaji oleh mahasiswa. Ibnu nafis pun tak pelak mengkaji karya-karya pendahulunya itu dengan cermat dan kritis. Dalam belajarnya, Ibnu Nafis dibimbing oleh dokter ahli mata kawakan bernama Ad Dahwar Muhadzibudin Abdurrahim yang menjabat direktur rumah sakit An Nuri. Dari Ad Dahwar inilah Ibnu Nafis banyak memperoleh ilmu dan wejangan kedokteran. Selama kurang lebih 10 tahun Ibnu Nafis belajar kedokteran di Damaskus dengan bimbingan dokter Ad Dahwar, ia muncul ke permukaan dunia kedokteran sebagai seorang mumpuni dalam usia yang tergolong muda.


Selanjutnya, dengan kepakarannya itu, Ibnu Nafis mendapat kepercayaan sebagai kepala rumah sakit Nasri di Kairo. Di Kairo ia banyak mendidik dokter, termasuk ahli bedah terkenal Ibnu Al Quff Al Masihi. Ibnu Nafis juga mendedikasikan dirinya di sekolah Mansuriyah, Kairo. Akhirnya, setelah banyak berkarya dan mengabdi, Ibnu Nafis meninggal sekitar bulan Dzulhijjah 667 H / 1288 M.




Apa Karyanya?

Setelah belajar lama di damaskus dan menjadi dokter mumpuni, hingga akhirnya pindah ke Kairo sebagai kepala rumah sakit di sana, Ibnu Nafis menghasilkan banyak karya yang bermanfaat dan orisinil di dunia kedokteran. Dia termasuk kritikus di dunia kedokteran dan penemu yang jenius. Ibnu Nafis mengkritik pendapat Galen, yang dianggapnya kurang mampu. Bahkan pendahulunya yang masyhur, Ibnu Sina pun tak luput dari kritiknya. Ternyata, kritikan dan pembahasannya terhadap pakar kedokteren di atas dimnegerti dan diikuti oleh para dokter di Mesir. Mereka mengagumi kemampuan Ibnu Nafis, sehingga menjulukinya "Ibnu Sina kedua".


Ibnu Nafis tak hanya mengkritik, tapi juga memberikan perbaikan-perbaikan yang bermutu. Kitab Ibnu Nafis yang membahas Al Qanun fi Ath Thibb-nya Ibnu Sina adalah Syarhu Tasyrih Ibnu Sina (Komentar atas Anatomi Ibnu Sina). Buku ini menjadi referensi penting dunia kedokteran. Dalam kitabnya itu, Ibnu Nafis membedakan berbagai jenis pembedahan. Bedah otak adalah bagian dari pengobatan penyakit kepala, bedah mata masuk pengobatan penyakit mata, dan sebagainya. Mengenai pengelompokkan yang dilakukan Ibnu Sina, ia tidak keberatan, bahkan ia menjelaskan teori-nya Ibnu Sina ke dalam buku Ibnu Nafis sendiri sampai dua jilid. Ia juga termasuk orang yang bertekad menjadikan ilmu anatomi menjadi bagian dari ilmu kedokteeran yang berdiri sendiri.


Dalam pembedahan, Ibnu Nafis juga mumpuni. Ia mengkaji pembedahan tulang dan persendian, pembedahan hati, saluran darah, rongga badan, jantung, syaraf, dan kulit. Dalam hal bedah, Ibnu Nafis mengomentari Ibnu Sina, apakah Ibnu Sina pernah melakukan pembedahan diam-diam? Padahal waktu itu membedah mayat dilarang.


Ibnu Nafis juga menulis Asy Syamil fi Ath Thib yang direncanakan sebanyak 300 jilid. Ia bertekad mengumpulkan hasil karyanya beserta hasil karya kedokteran di zamannya ke dalam ensiklopedi kedokteran melengkapi Al Hawi-nya Ar Razi. Namun, Asy Syamil fi Ath Thib tak terselesaikan penulisannya karena Ibnu Nafis lebih dahulu dipanggil oleh Allah menghadap-Nya. Ia hanya baru mampu menulis 80 jilid sampai tutup usianya dan tidak sampai 300 jilid. Akan tetapi, ia sempat membuat ringkasannya secara sempurna dalam kitabnya Al Maujaz fi Ath Thib yang sampi dicetak ulang beberapa kali.


Kitab lainnya karya Ibnu Nafis adalah Al Muhadzdzab yang membahas pengobatan beberap penyakit kornea mata. Dalam persolan makanan dan penyakit, ia juga membahasnya dalam Al Mukhtar fi Al Aghdiya. Dalam kitab ini diterangkan dampak-dampak makanan terhadap kesehatan dan pengobatan pasien.


Dan hal yang sangat penting dari karyanya adalah temuannya mengenai pembuluh kapiler. Peredaran darah kecil melalui pembuluh darah secara lebih detail dan akurat dikemukakan pertama oleh Ibnu Nafis, 400 tahun sebelum William Harvey, seorang ahli kedokteran Inggris mengemukakan hal yang sama dengan Ibnu Nafis. Sebelum mengemukakan temuannya, Ibnu Nafis menjelaskan dan mengoreksi teori dan pendapat mengenai peredaran darah oleh para dokter sebelumnya. Ibnu Sina dan pakar kedokteran lain mengemukakan bahwa jantung manusia terdiri atas tiga bagian, sedangkan Ibnu Nafis menyatakan dua bagian, yaitu bilik kanan dan kiri.


Mengenai peredaran darah, Ibnu Nafis menjelaskan bahwa darah dari tubuh masuk ke bilik kiri (melalui pembuluh darah balik), kemudian masuk ke paru-paru bercampur oksigen, lalu ke bilik kiri, dan selanjutnya dipompakan oleh jantung ke seluruh tubuh. Penemuan Ibnu Nafis ini merupakan temuan baru sama sekali di dunia kedokteran.pendapat sebleum Ibnu Nafis mengatakan bahwa peredaran darah berlangsung antara jantung dan paru-paru, dan antara paru-paru dan jantung. Maka, dengan temuan berunya ini, Ibnu Nafis merintis teori peredaraan darah kecil yang bersumber pada paru-paru. Dan sampai akhir abad ke-15 tak seorang pun dari Universitas Padua di Italia yang berhasil mengemukakan teori baru tentang perdaran darah kecil, antara jantung dan paru-paru dan sebaliknya, serta system peredarannya sendiri, apakah lurus atau peredaran darah balik.


Mengenai penemuan peredaran darah kecil Ibnu Nafis ada kisah yang menarik. Kitab Syarhu Tasyrih Ibnu Sina-nya Ibnu Nafis diterjmahkan ke bahasa Latin oleh dokter Italia bernama Elbago. Penerbitan terjemahan ini mnegundang perhatian ilmuwan Eropa, bahakan dijadikan acuan tiga karya tulis tiga orang ahli kedokteran Universitas Badwa Italia yang menjelaskan peredaran daarah kecil. Mereka adalah Mighel Sayarvetus (dari Spanyol), Rialdo Colombo dan Andre Sizalbito (keduanya dari Italia). Dengan demikian berarti teori peredaran darah kecil Ibnu Nafis sudah dipakai oleh ahli kedokteran Eropa.


Hingga masa kemudian, kajian mengenai teori peredaran darah kecil di Eropa terus berlangsung, termasuk di Inggris. Salah satu orangnya adalah William Harvey, seorang dokter lulusan Universitas Italia yang mengembangkan teorinya di di tanah asalnya, Inggris. Ia membahas teori peredaran darah besar dan kecil dengan lengkap. Uraiannya ditulis dalam bukunya Studi-studi Anatomik-Analisis terhadap Jantung dan Peredaran Darah Hewan. Buku William Harvey yang ditulis abad ke-17 M itu sama sekali tidak menunjuk dan merujuk sumber bahasa Arab hasil tulisan Ibnu Nafis, maupun yang berbahasa Itali dari buku Ibnu Nafis yang diterjemahkan. Karena tulisan William Harvey inilah kemudian di dianggap oleh pakar kedokteran di dunia sebagai penemu pertama kali peredaran darah kecil, bukannya Ibnu Nafis. Pakar dunia melupakan (atau sengaja melupakan?) temuan dan karya besar Ibnu Nafis dalam peredaran darah kecil, jauh sebelum William Harvey lahir. Padahal, karya Ibnu Nafis sudah dikenal dan dipakai oleh ahli kedokteran Eropa melalui terjemahan Elbago ke dlam bahasa Latin di Universitas Padua Italia.


Kenyataan baru terjadi di abad ke-20 M ketika seorang dokter ahli dari Mesir bernama Muhyiddin Atathawi belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Freiburg Jerman. Ketika mengajukan hasil penelitiannya untuk meraih doktoralnya tahun 1924 M, Muhyiddin Atathawi menemukan manuskrip Syarhu Tasyrih Ibnu Sina-nya Ibnu Nafis. Maka, dalam disertasi doktoralnya mengenai peredaran darah dengan judul Peredaran Darah Sebagai Akibat Udara Dingin, ia menyatakan bahwa Ibnu Nafis-lah penemu peredaran darah kecil di abad ke-13 M, jauh sebelum William Harvey yang dianggap penemunya.


Kasus Muhyiddin Atathawi membuat heran dan merasa asing para penguji dan promotornya. Karena tidak mengetahui bahasa Arab, mereka tidak mengakui temuan Muhyiddin Atathahawi. Namun, mereka masih menghargai karya Muhyiddin Atathawi dengan mengirim salinan disertasinya kepada Mayerhov, seorang orientalis yang pernah tinggal di Kairo, untuk dimintai pendapatnya mengenai kebenaran disertasi tersebut. Mayerhov pun mengkaji disertasi Muhyiddin Atathawi dan manuskrip Ibnu Nafis yang telah lama hilang di peredaran, dan menyatakan bahwa disertasi Muhyiddin Atathahawi dan manuskrip Ibnu Nafis adalah benar adanya.


Mayerhov kemudian menyatakan kebenaran disertasi Muhyiddin Atathawi ke penguji dan promotornya. Tak hanya itu, Mayerhov juga memberitahukan tentang manuskrip Ibnu Nafis kepada George Sarton, seorang sejarawan, agar ditulis dalam buku-bukunya. George Sarton pun mempublikasikan hal tersebut. Penelitian untuk melacak karya-karya Ibnu Nafis juga dilakukan oleh Mayerhov. Dengan usaha baik Mayerhov inilah kemudian dunia mengakui kembali Ibnu Nafis sebagai penemu teori-teori kedokteran dan ilmuwan besar di bidangnya. Begitulah, emas akan tetap emas walapun diceburkan ke lumpur. []

04 Februari 2009

Taubat Nasuha

Taubat Nasuha (23



Ibnu Katsir –rahimahullâh– telah mendefinisikan taubat nasuha sebagai berikut: "Taubat yang benar dan pasti, yang menghapus kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan pada masa lalu, membulatkan keinginan orang yang bertaubat, dan menghindarkannya dari dosa-dosa yang pernah dia lakukan." []

_______________
23) Lihat Abdul Aziz Muhammad bin Abdullah as-Sadhan, Lâ Ba'sa Thahûr Insyâ' Allâh, Taqdim: Mufti Besar Kerajaan Syeikh Abdul Aziz Ali Syeikh, Dar al-Ashimah, Riyadh, 1426 H / 2005 M, cet. I, hlm. 10.

Taubat yang Sempurna

Taubat yang Sempurna


Dalam taubat, hamba mengumpulkan semua tekad dan keinginannya untuk selalu mempertahankan kesucian diri hingga akhir hayatnya serta menjauhkan diri dari dosa. Dia bersikeras untuk tidak kembali melakukan dosa sebagaimana susu tidak akan kembali pada putingnya.
Taubat itu dimulai dengan penyesalan dan diakhiri dengan amal saleh serta ketaatan. Taubat itu mengingatkan hati, melepaskannya dari kotoran kemaksiatan, dan mendorongnya untuk tidak kembali pada dosa selama-lamanya. Hendaknya taubat hanya karena Allah, bukan karena menjaga kesehatan atau harta, bukan karena untuk memperoleh bagian kenikmatan dunia, bukan karena takut balasan seseorang atau jeratan hukum, dan bukan karena tidak ada faktor yang mendorongnya melakukan maksiat. Tetapi, hamba meninggalkan dosa karena tidak ingin membuat Allah dan Rasul-Nya murka.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya taubat itu wajib hukumnya atas setiap bagian tubuh manusia. Taubatnya mata adalah dengan mengelakkan pandangan dari hal-hal yang haram. Taubatnya tangan adalah dengan menghindarkannya dari perilaku yang diharamkan. Taubatnya telinga adalah dengan menjauhkannya dari aktifitas mendengarkan suara yang diharamkan. Dan, taubatnya kemaluan adalah dengan menjauhkannya dari zina, dan sebagainya.
Hendaknya hamba memperbaiki kesalahan-kesalahannya yang telah lalu dengan melaksanakan semua kewajiban yang pernah dia tinggalkan, mengembalikan hak kepada orang yang berhak mendapatkannya, menyibukkan anggota badan –yang dulu biasa digunakan untuk melakukan kemaksiatan– dengan taat kepada Allah, mengikuti perintah-perintah-Nya, mengkonsumsi makanan yang halal serta menjauhkan diri dari makanan syubhat (belum jelas hukumnya) dan haram. []

(11) Umar Khayyam

Umar Khayyam

Sang Ilmuwan yang Pujangga



oleh: Ratman al-Kebumeny


Siapakah Dia?

Adalah Umar Khayyam, seorang yang dikenal sebagai ilmuwan yang mempunyai kemampuan bersyair yang tinggi. Siapakah dia sebenarnya? Nama lengkapnya adalah Ghiyatuddin Abul Fath Umar Ibnu Ibrahim Al Khayyami. Khayyam artinya adalah pembuat kemah. Ia lahir di Naisaphur, ibukota provinsi Khurasan pada sekitar tahun 429 H / 1038 M. Dia dikenal oleh khalayak sebagai orang Persia, sehingga terkenal dengan sebutan "penyair Persia". Tapi, nenek moyangnya adalah orang Arab dari suku Khayyami yang bermigrasi (pindah) dan menetap di Persia. Hidupnya Umar Khayyam sezaman dengan penguasa Nizham Al Mulk Tusi.
Umar Khayyam sebenarnya seorang matematikawan (ahli matematika) yang mempunyai bakat syair tinggi. Oleh karenanya, selain menekuni matematika, ia juga membuat syair, yang justru karena syair itulah ia lebih terkenal di Barat sebagai seorang penyair kawakan dari Timur (Persia). Setelah menulis kitabnya dalam bidang matematika dan syair, serta mengarungi kehidupannya, akhirnya ia meninggal di Naishapur sekitar tahun 517 H / 1123 M. Di Naishapur inilah ia dimakamkan, dan banyak orang dari berbagai tempat menziarahi pusaranya.





Apa Karyanya?

Sejak awal, Umar Khayyam mengenyam pendidikannya di Naishapur, tanah kelahirannya. Namun, gairah belajarnya tak terbendung hingga ia menuntut ilmu ke beberapa sekolah terkenal di di Bukhara, Balkh, Samarqand, dan Isfahan. Akhirnya, dia tinggal di Naishapur dan Samarqand dalam hampir seluruh usia hidupnya hingga kewafatannya di Naishapur.
Sebagaimana disebutkan di depan bahwa Umar Khayyam ahli dalam matematika, terutama aljabar. Dia menekuni aljabar hingga mampu menulis sebuah kitab yang membahasnya dengan judul Maqalat fi Al Jabr wa Al Muqabila. Kitabnya ini memberikan sumbangan berharga bagi kemajuan matematika, khususnya aljabar. Dia menjelaskan aljabar hingga pada tingkat kerumitan yang cukup tinggi. Dalam karyanya, Umar Khayyam mengelompokkan persamaan aljabar berdasarkan kerumitannya hingga mengetahui tiga belas persamaan pangkat tiga. Ia juga membuat metode geometri untuk mencari persamaan dalam kerucut. Selain itu, Umar Khayyam juga menyelesaikan persamaan pangkat tiga dengan mengiriskan sebuah (bentuk) parabola dari sebuah lingkaran. Teori-teori lain juga ia kemukakan, bahkan ia orang pertamanya, seperti teori biner dan menentukan koefisien biner. Kitab aljabarnya Umar Khayyam berpengaruh terhadap karya segitiga pascal yang kita kenal sekarang.
Karya lain Umar Khayyam adalah dalam hal perhitungan tahun. Ia bekerja untuk seorang Sultan Dinasti Saljuq yang bernama Malikshah Jalal Al Din. Dan salah satu tugas yang harus dia kerjakan adalah mengembangkan kalender (penanggalan) matahari yang nantinya digunakan untuk kepentingan pendapatan (pajak) dan kepentingan administrasi lainnya oleh pemerintah saat itu.
Demi suksesnya tugas tersebut, Umar Khayyam melakukan observasi (pengamatan) di Rayy sekitar tahun 1074 M dengan cermat dan sungguh-sungguh. Berkat kesungguhannya, maka dia berhasil membuat kalender matahari yang disebut dengan Al Tarikh Al Jalali (Kalender Jalal). Kalender ini lebih tepat (akurat) dan lebih baik dari kelender Gregorius. Umar Khayyam mencatat bahwa setahun terdapat 365,24219858156 hari. Ini menunjukkan bahwa Umar Khayyam menganggap pentingnya akurasi (ketepatan) hitungan hingga ia menghitung sampai sebelas decimal. Adapun hitungan hari sekarang dalam setahun adalah 365,242190 hari.
Begitulah Umar Khayyam dalam bidang matematika dan astronomi, khususnya perhitungan hari matahari. Lalu, mengapa Umar Khayyam terkenal sebagai seorang penyair dari Persia? Ternyata Umar Khayyam masyhur sebagai seorang penyair karena salah satu karyanya dalam sastra, yaitu syairnya dalam Ruba'iyyat (quatrain) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1859 M oleh Edward Fitzgerald (1809-1883 M) pada zaman penerjemahan di Inggris. Syairnya ini tersusun dengan empat baris, makanya disebut Ruba'iyyat (quatrain) atau perempatan. Ruba'iyyat Umar Khayyam tidak hanya membuatnya terkenal di Barat, tapi juga di Timur. Bahkan, mungkin jika tidak karena Ruba'iyyat-nya, Umar Khayyam tak masyhur sebagai penyair di Timur, pujangga dari Persia.
Terdapat lebih dari 1000 ruba'iyyat yang telah dihasilkan oleh Umar Khayyam. Karya manuskripnya baru mulai berkembang dua abad setelah meninggalnya. Oleh karenanya, agak sulit memastikan bahwa ia benar-benar menuliskan seluruh karya tersebut. Andaikan benar, maka itu sebuah prestasi dan kebanggan besar sebagai seorang ilmuwan yang punya andil dalam sastra, khususnya ruba'iyyat yang bernuansa kesufian.
Umar Khayyam memang tidak hanya aahli matematika dan seorang pujangga, tapi juga berbagai bidang lain ia miliki ilmunya. Oleh karenanya, ada sekitar 10 buku dan 30 monografi Umar Khayyam yang masih ada hingga kini, yaitu:

1. Bidang matematika 4 buku
2. Bidang aljabar 1 buku
3. Bidang geometri 1 buku
4. Bidang fisika 3 buku
5. Bidang metafisika 3 buku

Perlu kita ketahui pula bahwa Umar Khayyam menulis kitab dalam bidang yang lain. Dalam bidang metafisika, Umar Khayyam menulis kitab Risalah Dar Al Wujud dan Nauruz Namah. Sedangkan pada akhir masa hidupnya, Umar Khayyam menyusun sebuah tabel astronomis yang diberi nama Zij Malik Syah.
Demikianlah beberapa hal yang patut kita ketahui dari seorang Umar Khayyam, ilmuwan yang juga pujangga. Makanya benar kiranya pernyataan Bertrand Russel dalam bukunya History of Western Philosophy bahwa Umar Khayyam merupakan satu-satunya orang yang dikenal oleh kalangan filosof Barat, baik sebagai penyair maupun ahli matematika.[]