Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

05 April 2009

Menulis: ANTUSIASME dan SPIRITUALITAS!!!


Pekan kemarin Pak Dahlan (CEO Jawa Pos Group) datang ke salah satu perusahaan penerbitan milik Jawa Pos Group. Saya tahu apa yang dilakukannya. Datang untuk mengecek naskah buku 'terbatas' yang beliau tulis khusus untuk kalangan Jawa Pos Group, tidak dijual dan dipublikasikan. Ya, semacam buku 'resep jurus khusus' bagi perguruan Jawa Pos. Buku itu tipis, cuma 58-an halaman. Tanpa halaman prelim, tanpa daftar isi. Murni judul-judul dalam lembaran-lembaran halamannya. Ukuran bukunya pun kecil, seperti ukuran buku komik. Kecil tapi berenergi. Buku itu bagi saya sebuah 'kitab energi'. Kitab yang menurut saya memuat saripati bagi orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik atau tulis-menulis, termasuk penulis. Memuat inti jurus paling dalam dalam 'menulis-tulisan'. Apa inti jurus itu?

Inti jurus itu sebagaimana judul bukunya: HIDUP ANTUSIAS!!! Bergambar anak-anak Deteksi Jawa Pos yang berkumpul dan berekspresi antusias saat berpose dalam ulang tahun Deteksi. Ya, antusiasme. Mengapa antusiasme? Buku kecil itu dimulai dengan cerita Pak Dahlan tentang 'gulung tikar'-nya koran di Seattlle (AS) yang sudah berumur 147 tahun!!! Koran Seattlle Post-Intellegencer (disebut kotan P-I). Lalu Pak Dahlan mengaitkan kasus runtuhnya koran P-I itu dengan 'bagaimana Jawa Pos menghadapi tantangan ke depannya'. Ini semacam nasihat. Belajar dari kasus, sebagaimana pepatah: pengalaman adalah guru terbaik, experience is the best teacher. Kira-kira begitu. Dalam bahasa agama mungkin 'bermuhasabah' untuk kemudian mengmbil langkah.

Inti buku itu ada di bab terakhir, ya HIDUP ANTUSIAS itu. Antusiasme dalam menulis. karena antusiasme menulis itulah yang akan menghasilkan energi luar biasa dalam berkarya, bekerja. Antusiasme itu juga yang akan menumbuhkan kreativitas langkah-langkah dan ide-ide brilian dalam menghadapi tantangan yang lebih berat ke depan. Entah di mana letak antusisme dalam ilmu manajemen diri dan motivasi, katanya, tapi yang jelas itu energi kehidupan. Motor motivasi. Apapun dan di manapun orang itu berkarya.

Antusiasme layaknya 'nafsu'. Jika minus antusiasme, minus nafsu!!! Letoy, lemas, tak berdaya!!! Menulis juga butuh nafsu, nafsu nulis. Mungkin kalau di bahasa Arab jadi nafsul kitabah (maaf kalau salah ya...). Jenis nafsu inilah yang menjangkiti para ulama dan ilmuwan muslim terdahulu sehingga menghasilkan karya yang luar biasa berkualitas dan banyak jumlahnya. Lihat saja Ibnu Khaldun dengan kitab 'Al-Muqaddimah'-nya, Ar-razi dengan kitab 'Al-Hawi'-nya, Ibnu Sina dengan kitan 'Al-Qonun ath-Thibb'-nya, dan lain-lain. Mereka tak hanya menulis satu kitab, tapi berjilid0jilid kitab. Kita lihat juga Imam Bukhari yang hafal di luar kepala 100 ribu hadis shahih dan 200 ribu hadis yang tidak shahih, telah menulis puluhan kitab berkualitas yang berjilid-jilid. Kitab monumentalnya 'Shahih Bukhari' berjilid-jilid, lengkap dengan matan dan sanad hadisnya. Kitab ini bukan lagi best-seller, tapi lebih dari itu...entah apa namanya. tidak hanya ter-copy lebih dari 100 ribu eksemplar, tapi kitab Imam hadis itu dipakai sepanjang waktu sejak ditulisnya dan terus dicetak. Kualitasnya bukan lagi masuk Kick Andy, tapi "kitab tershahih di kolong langit ini setelah Al-Qur'an"!!! Apa kita tak mau terjangkiti virus intelektual Imam Bukhari ini???

Mengapa Imam Bukhari bisa sampai bisa menulis demikian? Karena memiliki antusiasme! Coba saja lihat, Imam Bukhari rela melakukan perjalanan untuk mengecek sebuah hadis ke wilayah yang kalau sekarang di sebut 'pergi ke luar negeri', dalam waktu berhari-hari, bertahun-tahun. Saat itu tidak dengan Boeing, tapi maksimal dengan hewan berkaki empat (entah kuda atau onta). Bisa dibayangkan kan jika tanpa antusiasme. Lalu, ia pun menulisnya dengan antusias apa yang dia miliki dari karunia ilmiah yang diberikan Allah kepadanya.

Kembali ke Pak Dahlan. Di buku kecil itu, selain antusiasme, beliau juga menyebutkan SPIRITUALITAS!!! Ya, spiritualitas. Nilai-nilai spiritual, energi batin yang menggelora dari aras keyakinan ruhani atas dasar landasan ilahiyah. Spiritualitas bergabung dengan antusiasme. Saya nggak tahu mana yang mempengaruhi, antusiasme mempengaruhi spiritualitas atau sebaliknya. Sulit memang memilahnya, karena abstrak. Tapi, kita bisa merasakan keberadaan dan efeknya. Spiritualitas ini menurut saya sebuah 'keyakinan' yang tertancap dalam jiwa. Maka, antusiasme menurut saya adalah 'semangat'. Dengan demikian, jika antusiasme digandengakan dengan spiritualitas menjadi: KEYAKINAN yang melahirkan SEMANGAT. Mungkin semacam itu. Ini analisa saya lohh... Anda bisa gak percaya, gak setuju, atau mengabaikannya. Terserah. Yang penting, Anda punya antusiasme dan spiritualitas.

Jika Anda (dan saya tentunya) masih malas menulis dan malas hidup, mungkin kita perlu 'membeli' antusiasme dan spiritualitas. Kalau tidak bisa bayar cash ya kredit saja. Bunganya 0% kok. Di mana belinya? Banyak yang jualan. Ada di orang lain, tokoh yang sukses, atau orang terdekat. Tapi yang jelas, dalam diri kita ada pabrik antusiasme dan spiritualitas. Tinggal kita saja yang mau memproduk atau nggak. Itu saja!!! Bagaimana memproduknya, terserah Anda.

Sepertinya itu dulu ya. Antusiasme dan spiritualitas. Ini mungkin yang menginspirasi salah satu iklan produk seluler: ANTI MATI GAYA!!! Kalau dalam menulis ya, ANTI MATI KARYA!!!

Salam antusias dan spiritualitas!!!
Terima kasih Pak Dahlan.

---------------------
Ratman

04 April 2009

Buku: Ilmuwan-ilmuwan Muslim ....Karya Pertamaku



Apakah Anda ingin menulis? Dan diterbitkan menjadi buku? Atau Anda ingin menulis tapi susah banget mau nulis apa dan bagaimana nulisnya? Rumit dan susah banget kayaknya ya?

Ya, dulu saya juga seperti itu. Pengin banget nulis, bingung nulis apa dan gimana nulisnya. Tapi akhirnya ada "energi" besar yang menyelinap tubuh dan jiwaku sehingga saya pun bisa menghasilkan karya: buku!!!! Wah seneng banget rasanya punya karya. Apalagi jika bisa dinikmati orang lain dan membawa manfaat.

Memang sejak kuliah saya "nyambi" kerja, jadi editor!!! Walaupun saya ngedit buku, tapi saat itu saya belum bisa nulis. Payah kan? Nah akhirnya saya bernikan diri dengan mengumpulkan energi dan membangkitkan nafsu menulis. Saya dulu beli komputer, tapi lama gak dipakai nulis. Didiamin aja...mangkrak!! Paling-paling buat nulis-nilis dikit ide-ide atau apapun yang aku pelajari, diskusikan, dan kajian dengan teman-teman. Termasuk beberapa pengetahuanku dari referensi yang aku baca dan analisis.

Saat mahasiswa dulu memang "bacaholic" (maaf kalu istilahnya tidak tepat ya...). Juga "belibukuholic". ini bukan bermaksud sombong, tapi ini terjadi pad saya saat mahasiswa. Saya sering berhari-hari di kamar mbaca buku. Bisa sehari habis dua-tiga buku, tergantung tebal tipis dan kedalaman dan keseriusan materi buku yang aku baca. Kalau bukunya serius bisa lama bacanya...sekalian dianalisa gitu....

Yang ini juga membuat saya gak habis pikir: belibukuholic! Ya, untuk ukuran mahasiswa seperti saya dulu yang sudah gak dapat "beasiswa" ari ortu harus cari duit sendiri, termasuk tidak wajar dalam beli buku. kebetulan di Solo sering book fair dan banyak tempat buku bekas seperti Gladak (utara alun-alun Solo) dan Sriwedari (mba' Sri... gitu kata temen-temen). Sering gaji saya dari nyambi kerja 80% habis buat beli buku! Lalu makannya gimana? Tau ah...nyatanya bisa hidup juga sampe sekarang ya haha.... Pernah juga yang ini lucu. Saat Gramedia bazar buku, struk pembelianku panjangnya hampir SATU METER! Saking banyaknya buku yang kubeli, sampe-sampe temen saya geleng-geleng. Prinsipku: buku itu investasi! Aku yakin buku yang kubeli nanti akan menghasilkan buku dari karya-karyaku. Nyatanya? Terbukti!!! Kalaupun misalnya buku yang kubeli gak sempat aku baca, minimal jadi warisan anakku (bener kan?).

Oh ya kembali ke buku pertamaku: Ilmuwan-ilmuwan Muslim. Buku itu benar-benar butuh energi yang besar untuk mennulisnya. Kenapa? Karena saya menulisnya dalam waktu sekitar 2x24 jam!!!! Gak percaya kan? Saya aja dulu gak percaya kok. Tapi nyatanya iya. Saya sampe tidak tidur 2x24 jam. Istirahat paling makan, sholat, dan mandi. kebetulan waktu itu saya masih di pondok, jadi suasananya kondusif banget. Capai dan ngantuk banget. setelah selesai ya balas dendam tidurnya haha... Wajar kan? setelah sekian lama menunggu proses cetak, betapa bahagianya saat buku itu jadi. Seolah diriku benar-benar eksis karena telah punya karya. ANTI MATI KARYA!!! (sorry mlesetin iklannya 3).

Saya menyadari memang menulis awalnya butuh perjuangan: lahir dan batin. Menulis, kata Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group, butuh ANTUSIASME dan SPIRITUALITAS!!! percaya gak dengan kata Pak Dahlan? Aku percaya, karena Pak Dahlan juga membuktikan itu hingga dalam waktu yang relatif tidak lama bisa menghasilkan sekitar lima buku: Ganti Hati, Hati Baru, Pelajaran dari Tiongkok, Menegakkan Akal Sehat, Kentut Model Ekonomi, dan Tidak Ada yang Tidak Bisa! Buku Ganti Hati (yang menceritakan kisah ganti hatinya), dan Tidak Ada yang Tidak Bisa (bercerita tentang perjalanan Pak Karmaka, CEO Bank NISP) masuk Kick Andy. Belum lagi tulisan-tulisan Pak dahlan di koran yang sangat disukai pembaca.

Hehe...kok malah ngomong soal nulis ya...Aku gak menggurui loh. banyak yang lebih pinter dan banyak karya dari saya, PASTI!!! Saya masih bayi soal karya buku. harus banyak "ngangsu kawruh" dari banyak orang yang sukses menulis.

Kembali ke bukuku yang pertama, buku Ilmuwan-ilmuwwan Muslim itu berisi "biografi" ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu, baik dari bidang fisika, kimia, biologi, matematika, sastra, dan sosial. Misalnya Ibnu Sina (Avicena), Ibnu Haitsam, Ibnu Khaldun, ar-Razi, Jabir ibnu Haiyan, dan lainnya. Karya-karya ilmiah dan penemuannya juga saya tuliskan. Buku ini memberikan pengetahuan bagi kita betapa kaum muslim memiliki ilmuwan yang terkenal dan sebenarnya jauh sebelum ilmuwan-ilmuwan Barat. Bahkan penemuan-penemuan ilmuwan muslim saat itu menjadi pondasi penemuan ilmuwan Barat selanjutnya. Saya justru menganalisa ada semacam "penyembunyian sejarah" dalam masalah ilmiah ini, sehingga nama-nama mereka tak terkenal di buku-buku pelajaran sekolah.

Oh ya ni data bukunya:
Judul : Ilmuwan-ilmuwan Muslim
Penulis : Ratman al-Kebumeny
Penerbit : Mediatama, Solo
Thn terbit : 2007

Sekian dulu, terima kasih.
Selamat membaca. Selamat berkarya!!!

02 April 2009

Buku: Tokoh dan Ulama Hadis




Alhamdulillah ....

Berkat rahmat Allah juga buku saya berikutnya yang berjudul "Tokoh dan Ulama Hadis" telah terbit berbarengan dengan buku "Menyingkap Rahasia Mukjizat Alquran". Buku ini menguraikan tentang tokoh-tokoh dan ulama-ulama hadis; mereka-mereka yang terkenal dalam bidang hadis. Tokoh dan ulama hadisnya mulai dari sahabat Nabi, tabi'in, hingga ulama zaman selanjutnya. Di situ diuraikan siapa dan bagaimana, misalnya, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abu Sa'id al-Khudri, dll dari kalangan sahabat. Dari kalangan ulama selanjutnya diuraikan siapa itu Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmudzi, Abu Dawud, Imam Nasa'i, dan Ibnu majah serta kitab-kitab mereka (kutubus sittah). Buku ini sangat layak dibaca bagi siapaun yang ingin mengetahui tokoh-tokoh hadis dan bagaimana hadis bisa sampai terpelihara sebegitu rupa hingga sampai di zaman kita.

Berikut data bukunya:
Judul : Tokoh dan Ulama Hadis
Penulis : Ibnu Ahmad 'Alimi
Penerbit : Mashun (Kelompok Masmedia Buana Pustaka)
Thn terbit: 2008
Tebal : 241 halaman
Distribusi: toko buku di seluruh Indonesia (Gramedia, Togamas, dll)

Selamat membaca!!!

Buku: Menyingkap Rahasia Mukjizat Alquran






Alhamdulillah....

Dengan rahmat Allah buku saya (Ratman Boomen, dengan nama pena Ibnu Ahmad 'Alimi, karena bapak saya namanya Ahmad 'Alimi) yang berjudul "Menyingkap Rahasia Mukjizat Alquran" telah terbit. Buku ini mengungkap kemukjizatan Alquran. Selain bicara mukjizat Alquran, buku ini juga membahas kaitannya dengan kitab-kitab lain, yaitu Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Buku ini layak dibaca siapapun yang ingin memngetahui dan membuktikan kebenaran Alquran, baik muslim maupun non-muslim.

Berikut ini data buku tersebut:
Judul : Menyingkap Rahasia Mukjizat Alquran
Penulis : Ibnu Ahmad 'Alimi
Penerbit : Mashun (Kelompok Masmedia Buana Pustaka)
Thn terbit: 2008
Tebal : 146 halaman
Distribusi: toko buku di seluruh Indonesia (Gramedia, Togamas, dll)

Selamat membaca!!!

Teladan Cinta Ummu Salamah

Teladan Cinta
Ummu Salamah



Di sini akan kuuraikan kisah Ummul Mukminin Ummu Salamah sebagai suri teladan cinta hakiki seorang istri kepada suaminya. Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anha berkata: “Tatkala Abu Salamah (suaminya) hendak bepergian ke Madinah, ia menyiapkan untukku seekor unta, lalu menaikkanku ke atas punggung unta tersebut serta mengikutkan anak kami, Salamah, di pangkuanku. Kemudian kami melakukan perjalanan dengan unta tersebut tanpa istirahat (tidak berhenti dan tidak menunggu sesuatu).

Sebelum kami berpisah dengan Makkah (sebelum keluar dari perbatasan Makkah), datanglah rombongan dari kaumku, yaitu Bani Makhzum mendekati dan menghardik kami, sembari berkata kepada Abu Salamah: “Jika engkau sudah mengalahkan kami untuk tidak menuruti kehendak kami, bagaimana tentang wanita ini?! Dia adalah keturunan kami, apa alasan kami membiarkanmu untuk membawanya, lalu kalian meninggalkan kami di sini?” Kemudian, mereka menahan Abu Salamah dan merampasnya dariku secara paksa.

Mendengar peristiwa yang menimpaku, kaum suamiku dari Bani Abdul Asad datang mengambilku serta anakku sehingga membuat mereka sangat marah dan berkata: “Kami tidak terima perlakuan kalian ini, dan demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak ini bersama wanita dari bani kalian setelah kalian rampas mereka berdua dari anak kami secara paksa. Anak ini adalah anak kami juga dan kami lebih berhak terhadapnya.”
Kemudian mereka memulai saling tarik-menarik untuk memperoleh anakku, Salamah.

Kejadian itu terjadi di depan mataku hingga terlepaslah Salamah dari tanganku dan mereka mengambilnya dariku. Beberapa saat setelah aku sadar, aku menemukan diriku dalam kebingungan dan kesendirian tanpa ada seorang pun di sekelilingku. Adapun suamiku tercinta menyelamatkan diri pergi ke Madinah memperjuangkan agama dan dirinya, sedangkan anakku di bawa Bani Abdul Asad dari pelukanku.
Aku saat itu berada dalam kungkungan kaumku, Bani Makhzum, dan mereka melarangku untuk pergi ke mana-mana. Mereka pisahkan antara aku dengan suamiku, dan antara aku dengan anakku begitu cepat.

Mulai saat itu aku selalu keluar di saat menjelang petang ke suatu tempat ketidakberdayaanku. Aku pun duduk lesu di tempat peristiwa kepiluanku sembari mengingat-ingat kembali bayangan kepedihan perpisahanku dengan suami dan anakku di tempat itu. Dan, aku terpaku menangis hingga malam mulai mencekam. Aku terus-menerus seperti itu sampai setahun kemudian atau mendekati setahun, hingga tergugahlah hati seseorang dari kaum pamanku melihat keadaanku dan berkata kepada kaumku: “Apakah tidak sebaiknya kalian bebaskan wanita ini?! Kalian telah pisahkan dia dengan suami dan anaknya.”

Lama-kelamaan kaumku mulai tergugah hati mereka dengan ucapan dari salah seorang bani pamanku, hingga akhirnya mereka berkata kepadaku: “Jikalau engkau mau, pergilah mencari suamimu.” Namun, bagaimana aku bingung mencari suamiku di Madinah, sedangkan anakku masih berada di Makkah bersama Bani Abdul Asad.

Bagaimana mungkin hatiku tenang dan air mataku kering seandainya aku berada di Madinah, sedangkan buah hatiku tinggal di Makkah dan tidak mengetahui kabarnya sama sekali. Di saat sedih seperti itu ada sebagian masyarakat yang memperhatikan kepedihan dan kegundahan yang kurasakan, sehingga terdetiklah hati mereka untuk membantu dan membicarakan keadaanku kepada Bani Abdul Asad serta merayu mereka sampai Bani Abdul Asad mengembalikan anakku, Salamah, kepadaku.

Dalam pada itu, di Makkah aku mencari-cari seseorang yang bisa menolongku untuk menemaniku pergi ke Madinah, karena aku takut bila terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan selama dalam perjalanan menuju Madinah tempat suamiku berlindung. Tapi apatah hendak di kata, tidak seorang pun kudapatkan yang bersedia menemaniku. Walaupun demikian, aku tetap bergegas menyiapkan unta dan anakku yang kuletakkan di gendonganku. Kemudian, aku pun pergi menuju Madinah mencari suamiku tercinta tanpa seorang pun menemaniku.

Setelah aku sampai di daerah Tan’im, aku bertemu dengan seorang pemuda bernama Usman bin Thalhah sembari bertanya kepadaku: “Wahai putri Zad Rakib, ke manakah engkau mau pergi?” Aku pun menjawab: “Aku hendak pergi menjumpai suamiku di Madinah.” Ia bertanya lagi: “Tidak adakah orang yang menemanimu?” Aku pun menjawab: “Demi Allah, tidak ada. Hanya Allah yang bersamaku dan anakku ini.” Lalu ia berkata lagi: “Demi allah, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri ke sana dan aku akan menemanimu sampai di kota Madinah.” Kemudian, ia pegang pelana untaku dan ikut mengantarku pergi ke Madinah.

Aku bersumpah bahwasanya aku tidak pernah ditemani seorang pemuda Arab semulia dia. Dan, apabila sampai di suatu tempat penginapan, ia menurunkan untaku dan menungguku sampai turun dari punggung unta. Ketika aku sudah turun dari punggung untaku dan sampai ke tanah, ia mendekati unta itu kembali dan membawanya ke sebuah pohon, lalu mengikatnya. Kemudian, ia pun mencari pohon yang lain untuk berteduh dan istirahat di bawah naungannya.

Setelah istirahat selesai, ia langsung berdiri mengambil untaku dan membawanya ke hadapanku sembari menunggu sampai betul-betul siap, lalu ia pun berkata: “Naiklah.” Setelah aku menaiki untaku dan berada di atasnya, ia datang menghampiri seraya mengambil pelana dan siap untuk berangkat kembali.

Sikap seperti itu ia lakukan setiap hari hingga kami sampai di Madinah. Tatkala kami sampai di daerah Quba′ tepatnya di daerah Bani ‘Amru bin ‘Auf, ia berkata: “Suamimu berada di daerah ini, maka masuklah ke daerah ini dengan rida Allah.” Dan, ia pun kemudian kembali lagi ke Makkah.

Setelah berpisah begitu lama, mereka akhirnya pun berkumpul kembali. Air mata Ummu Salamah menetes tak terbendung dan Abu Salamah sendiri sangat bahagia memiliki keluarga seperti Ummu Salamah serta anaknya. Inilah sekilas kisah cinta Ummu Salamah terhadap suaminya yang begitu tulus.

Perhatikanlah wahai pemuda Islam!
Apakah orang yang engkau cintai akan melakukan seperti apa yang dilakukan Ummu Salamah terhadapa suaminya dan orang yang paling dia cintai?
Dan, perhatikanlah wahai pemudi Islam!

Apakah engkau mampu menghadapi masalah seperti yang terjadi pada Ummu Salamah yang telah berpisah begitu lama dari suami dan anaknya, hidup dalam kesendirian dan menangis pilu berkepanjangan?

Pada peristiwa Perang Uhud, Abu Salamah terluka parah, lalu Ummu Salamah sang istrinya tercinta mengobatinya hingga hampir sembuh. Namun, sangat disayangkan luka tersebut semakin membengkak dan parah seolah-olah lukanya terbuka yang menyebabkan Abu Salamah terus berada di atas ranjangnya.

Tatkala Abu Salamah sedang diobati lukanya, ia berkata kepada istrinya: “Wahai Ummu Salamah! Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang terkena musibah, hendaklah ia mengucapkan innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.” Kemudian, Abu Salamah menambahkan: “Ya Allah, kukembalikan kepadamu seluruh musibah yang mengenaiku. Ya Allah, berikanlah kepada istriku yang lebih baik dari diriku.” Allah pun kemudian mengabulkan doanya.
Tak berapa lama Abu Salamah wafat dan Ummu Salamah mengingat apa yang diriwayatkan Abu Salamah dari Rasulullah sembari berdoa: “Ya Allah, kuserahkan kepadamu seluruh musibahku ini ….”

Akan tetapi, hati Ummu Salamah sebenarnya tidak menerima jikalau dikatakan kepadanya: “Berikanlah pengganti yang lebih baik untuknya” atau “berikanlah penggantiku yang lebih baik untuk istriku”, yang membuat hati Ummu Salamah bertanya-tanya: “Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah?” Namun, selang beberapa waktu Ummu Salamah berdoa.

Di waktu berikutnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang untuk meminangnya Ummu Salamah, namun ia menolak lamaran tersebut. Kemudian, Umar bin Khattab datang juga ingin melamar Ummu Salamah, akan tetapi jawabannya sama seperti jawabannya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian, giliran Rasulullah datang melamar Ummu Salamah dan ia pun menjawab: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai tiga sifat kekurangan. Pertama: aku seorang wanita pencemburu, oleh karena itulah aku takut engkau melihat kekurangan itu dariku sehingga membuatmu marah dan Allah akan mengazabku. Kedua: aku seorang wanita lanjut usia . Dan, ketiga: aku seorang janda yang sudah mempunyai anak.”

Mendengar alasan tersebut, Rasulullah bersabda: “Adapun yang engkau uraikan tentang kecemburuanmu, maka sesungguhnya aku berdoa kepada Allah agar dihilangkan-Nya sifat cemburumu itu. Adapun alasan karena engkau sudah lanjut usia, maka sesungguhnya aku sama sepertimu. Dan, adapun karena engkau seorang janda yang sudah mempunyai anak, maka sesungguhnya anakmu adalah anakku juga.”

Kemudian, Rasulullah pun menikah dengan Ummu Salamah. Dan, Allah telah mengabulkan doa Ummu Salamah serta mengganti untuknya dengan yang lebih baik, yaitu Rasulullah suri teladan umat manusia.

Kisah ini merupakan salah satu contoh pelajaran yang baik dalam masalah cinta sebagai bukti nyata bahwa Islam sangat menghormati cinta dan para pecinta sejati. Contohnya, Ummu Salamah tidak mau cintanya diganti dengan orang lain kecuali pengganti suaminya itu sederajat Rasulullah. Ummu Salamah telah memberikan suri teladan bagi kita bagaimana sebenarnya cinta suci yang hakiki.

Bukti cinta Ummu Salamah kepada Rasulullah terlihat ketika beliau memusyawarahkan suatu masalah dengannya, yaitu manakala Rasulullah datang kepadanya dalam keadaan bimbang dan bersabda: “Para pengikutku telah binasa.” Peristiwa tersebut terjadi ketika para pengikut Rasulullah mengingkari perintah beliau setelah disetujui sebuah kesepakatan perdamaian. Saat itu beliau bersabda kepada pengikutnya: “Berdirilah engkau sekalian dan sembelihlah kurban, lalu bersegeralah mencukur rambut.” Ketika itu tak seorang pun mentaati perintah Rasulullah.

Ummu Salamah memberikan solusi kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Nabi Allah, keluarlah kepada mereka dan jangan berbicara sepatah kata pun kepada salah seorang dari mereka sampai mereka menyembelih kurban (unta) dan engkau segera panggil pencukur untuk menyukur rambutmu.” Rasulullah kemudian keluar dan tidak berbicara sepatah kata pun kepada mereka serta melakukan apa yang diidekan istrinya tercinta. Beliau pun menyembelih kurban (unta) dan memanggil pencukur rambut untuk menyukur rambut beliau. Ketika para sahabat melihat hal itu, mereka pun langsung berdiri dan menyembelih kurban. Kemudian, mereka juga saling mencukur rambut sampai hampir terjadi keributan.

Demikianlah kisah Ummu Salamah yang sempat menyelamatkan umat Islam dari kebinasaan dan kedurhakaan, sampai-sampai Rasulullah sendiri bersabda: “Telah binasalah umat manusia.” Sabda Rasulullah ini terucap karena para pengikut beliau tidak mentaati perintahnya.

Begitulah cara Ummu Salamah mencintai suaminya Abu Salamah, mencintai Salamah, dan mencintai Rasulullah, serta mencintai umat Islam dengan menyelamatkan mereka dari kebinasaan yang hampir benar-benar terjadi. Dan, begitulah juga bagaimana Rasulullah mencintai Ummu Salamah serta mempercayainya untuk memusyawarahkan masalah yang sempat menimpa kaum muslimin. Rasulullah menerima idenya di saat kaum muslimin berada di puncak kehancuran. []

teladan Cinta Nabi kepada Sang Istri

Teladan Cinta Nabi
kepada Sang Istri




Sebagaimana telah kita sepakati bersama bahwa Islam selalu menjadikan kehidupan didasari dengan cinta dan kasih sayang yang dibolehkan, sebagaimana suri teladan kita, Rasulullah yang mencintai Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah sampai ke liang lahat. Hal tersebut seperti apa yang telah disabdakan beliau sendiri:
“Allah tidak memberikan pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Dia orang pertama yang beriman kepadaku ketika seluruh manusia mengingkariku, orang pertama yang percaya terhadapku tatkala manusia mendustaiku, menginfakkan seluruh hartanya kepadaku ketika tak seorang pun peduli kepada dakwahku, dan Allah memberikan karunia anak darinya, serta dijauhkan-Nya anak-anak lain dariku.”

Pada suatu hari setelah wafatnya Sayyidah Khadijah, datanglah saudari Sayyidah Khadijah yang bernama Halah binti Khuwailid menjadi tamu di kediaman Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anha. Ketika itu Rasulullah sedang berada di halaman rumah, dan Halah pun mengucapkan salam kepada beliau yang mana suaranya mirip suara saudarinya, Sayyidah Khadijah, yang sangat dicintai dan melekat di hati Rasulullah. Hal tersebut membuat hati beliau berdetak kencang ketika mendengar suara salam itu. Tanpa sadar beliau berucap:
“Ya Allah! Ternyata Halah.”
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:
“Ya Allah! Ternyata Halah binti Khuwailid.”

Mendengar ucapan beliau, Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anha langsung berkata: “Aku cemburu.” Dia (Aisyah) menambahkan: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau masih mengingat perempuan tua dari kabilah Quraisy itu yang sudah lama wafat, sedangkan Allah telah menggantikan untukmu dengan yang lebih baik dari padanya?” (Karena Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anha masih belia dan cantik jelita). Mendengar ucapan Aisyah tersebut Rasulullah sangat marah dan bersabda (seperti hadis sebelumnya):
“Demi Allah! Allah tidak memberikan pengganti yang lebih baik dari padanya, karena dia (Khadijah) telah beriman kepadaku ketika manusia kafir kepadaku ....”

Telah diriwayatkan bahwasanya setelah Rasulullah menyembelih seekor kambing, beliau bersabda:
“Berikan bagian untuk kaum kerabat Khadijah.”
Aisyah radhiyallâhu ‘anha pernah berkata: “Perkataan Rasulullah pernah membuatku jengkel, kemudian aku berkata: “Khadijah?!” Rasulullah pun bersabda:
“Sesungguhnya aku telah diberikan karunia cintanya.”

Wahai pemuda Islam! Mampukah engkau bayangkan cinta seperti ini?
Dan, wahai pemudi Islam! Mampukah engkau gambarkan karunia cinta seperti ini?!
Apakah ada yang sanggup di antara kita mencintai orang yang kita cintai seperti cinta Rasulullah kepada Sayyidah Khadijah radhiyallâhu ‘anha?

Barangsiapa yang mengatakan bahwa Islam melarang cinta, maka dia telah melakukan kekeliruan. Islam selalu mendukung cinta suci yang tidak goyah di telan masa dan tidak berubah walaupun menikah lagi dengan wanita belia nan jelita, juga tidak terpengaruh dengan kekayaan walaupun dia miskin papa. Cinta yang tetap melekat di dalam dada walaupun di saat sakit dan berada di ambang pintu kematian. []

Peringatan Berharga tentang Fitnah Lisan

Sebuah Peringatan Berharga
tentang Fitnah Lisan




Melalui ini akan aku sampaikan kepada kalian peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang berbuat dosa dengan siksaan pedih di akhirat kelak dan kehidupan yang tidak tenang di dunia.

Imam al-Maududi rahimahullâh berkata dalam kitabnya al-Hijâb ‘an Fitnah al-Lisân (Mencegah dari Fitnah Lisan) bahwa prajurit lain dari setan nafsu adalah lisan. Begitu banyak fitnah-fitnah yang disebarkan dan disebabkan oleh lisan. Sebagai contoh, laki-laki dan wanita ketika berbicara. Apabila dilihat dari lahirnya, pembicaraan mereka tidak ada yang berbau negatif, akan tetapi hati yang kotor dapat menjadikan sesuatu yang baik menjadi buruk, suara menjadi fitnah, ungkapan indah dan ucapan manis menjadi tercela. Dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan dengan firman-Nya:
“Hai istri-istri Nabi, engkau sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika engkau bertakwa. Maka, janganlah engkau tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. al-Ahzab: 32)

Di sisi lain, hati yang ada penyakitnya ini bersenang-senang membicarakan kepada khalayak ramai tentang hubungan pribadi mereka, yang kemudian orang lain yang mendengarkannya terbawa olehnya. Karena kenikmatan setaniyah inilah tercipta kisah-kisah cinta dan kasih sayang, baik itu kisah yang nyata atau kisah yang direka-reka yang menjadi bahan perbincangan di tempat keramaian serta hiburan yang kemudian tersebar di kalangan masyarakat seperti api yang berkobar di tengah-tengah jerami. Oleh karena itu, Al-Qur'an mengingatkan kita melalui firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang engkau tidak mengetahui.” (Q.S. an-Nûr: 19)

Fitnah lisan mempunyai banyak bentuk dan setiap macam yang disebabkannya memiliki unsur khianat hati orang yang melakukannya. Islam telah mempelajarinya dan memberikan rambu-rambu. Seorang wanita tidak diperbolehkan menceritakan tentang wanita lain di depan suaminya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:
“Wanita dilarang menceritakan tentang wanita lain di depan suaminya hingga suaminya tersebut seolah-olah melihat langsung wanita yang diceritakan oleh istrinya.”

Kedua belah pihak, yaitu suami istri, dilarang keras menyebarkan rahasia mereka kepada orang lain, karena hal tersebut mengundang fitnah dan menutup hati.
Kami tidak melarang kalian untuk saling mencintai. Cinta adalah sesuatu yang indah. Akan tetapi, kami hanya menyampaikan suatu peringatan agar kalian tidak sampai terjerumus ke jalan setan yang disebabkan oleh cinta buta.

Ibnu Qayim rahimahullâh mengatakan dalam kitabnya Raudhah al-Muhibbîn wa Nuzhah al-Musytâqîn (Taman Cinta dan Kebun Rindu), al-Muda'ini berkata: “Seorang laki-laki mencela temannya yang suka melampiaskan nafsu setannya.” Maka, rahimahullâh barkata: “Jikalaulah ada pilihan lain untuk orang-orang pelampias nafsu, maka dia akan memilih untuk tidak memiliki nafsu.”

Dalam hal ini Rasulullah menegaskan melalui hadisnya yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari kisah Buraira: “Sesungguhnya suami Buraira mengikutinya dari belakang setelah terjadi talak antara keduanya. Maka, dengan sendirinya Buraira menjadi seorang yang asing bagi suaminya. Ketika itu, mengalirlah air mata di pipinya melihat apa yang terjadi.

Rasulullah bersabda:
“Wahai Abbas, apakah engkau tidak takjub kepada cinta Mughits terhadap Buraira dan kemurkaan cinta Buraira terhadap Mughits?”
Kemudian Rasulullah menambahkan:
“Alangkah baiknya jikalau engkau wahai Buraira rujuk kepada suamimu.”
Buraira menjawab: “Wahai Rasullah, apakah engkau menyuruhku?” Rasulullah pun bersabda:
“Sesungguhnya aku adalah pemberi syafaat.”
Buraira berkata: “Aku tidak membutuhkannya kembali.”

Dalam hadis tersebut Rasulullah tidak menyanggah cinta suami kepada istrinya dalam keadaan seperti yang digambarkan, karena hal ini adalah lumrah dan sesuatu yang tidak bisa diikutcampuri serta tergantung keputusan pribadi masing-masing.
Islam tidak pernah melarang percintaan, akan tetapi Islam menghindarkan sesuatu yang menghardik cinta dengan bentuk cercaan, melalui pendengaran, lisan, atau sentuhan yang tidak disyariatkan dalam Islam.

Adapun pandangan yang lama terhadap wanita lain dengan pikiran negatif diharamkan dalam Islam, apalagi pertemuan yang membawa fitnah. Rasulullah bersabda:
“Wahai Ali, jangan barengi pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya pandangan pertama bagimu, sedangkan pandangan kedua bukan hakmu (dosa).”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu berkata: “Bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Diharamkan bagi seorang istri membicarakan tentang wanita lain di depan suaminya yang menjadikan suaminya seolah-olah melihat wanita yang dibicarakan tersebut.”
Maknanya adalah seorang istri itu janganlah menyebut-nyebut tentang wanita lain di depan suaminya yang menjadikan suaminya seolah-olah melihat wanita tersebut. Oleh karena itu, lihatlah wahai pecinta sejati di mana posisimu dalam hadis tersebut supaya engkau tahu batasan hak-hakmu dengan orang yang engkau cintai. Dan, perhatikanlah wahai pemudi kondisimu dalam hadis itu supaya engkau tidak buta tentang batasan hak-hakmu dengan orang yang engkau berikan cinta kepadanya. []

Menikahlah, Karena Nikah itu Solusi (bagian 3)

Islam menghadapi masalah mereka yang hendak menikah dengan metode syariat ilmiah, amaliah, sosial, dan kemasyarakatan serta memberikan kemudahan kepada siapa saja yang hendak melaksanakan pernikahan meskipun secara lahiriah tidak mampu secara ekonomi. Karena bagaimanapun, ini adalah anjuran Allah kepada umat manusia, dan barangsiapa yang mempersulit pintu pernikahan dengan mendahulukan segi materi, sedangkan hidup bukan hanya dipandang dalam satu sudut materi saja, maka sesungguhnya yang demikian itu secara tidak langsung telah memerangi Allah dan Rasul-Nya. Hal tersebut mengakibatkan bertambahnya lajang-lajang dalam masyarakat Islam. Jika hal ini terjadi, maka mereka yang mempersulit pernikahan hendaknya menghadapi dan memperbaiki kebejatan akhlak, masyarakat yang sudah rusak, penyakit lahir dan batin, orang yang lalai terhadap syariat, dan kesehatan yang semakin merosot.

Fakta membuktikan bahwa pemuda-pemudi Islam yang menikah di bawah tangan atau “nikah sirri” yang terjadi di kampus-kampus tak lain dan tak bukan disebabkan karena para wali atau orang tua mereka sangat mempersulit pernikahan dengan memperioritaskan materi daripada keselamatan anak mereka secara psikologis maupun kebutuhan fitrah manusiawi. Di samping itu, tuntutan-tuntutan para orang tua yang sama sekali tidak masuk akal apabila di pandang ke zaman sekarang yang mana manusia telah terkontaminasi dengan kehidupan yang serba bebas, pergaulan bebas antara Habil dan Nabil, jiwa dan tubuh sudah tidak asing lagi berdampingan, serta benteng-benteng pemisah antara para cucu Adam dan cucu Hawa telah sirna.

Mana yang lebih mulia bagi anak perempuan, laki-laki, dan keluarga: pernikahan secara Islam yang dimudahkan dan diresmikan sekedarnya, atau pernikahan yang diselenggarakan tidak menurut syariat dan jauh dari sanak keluarga?
Mana yang lebih penting dan abadi: rumah mewah, kursi bagus, AC, permadani mahal, atau menjaga kesucian, kemulian, kehormatan, dan agama?

Mana yang lebih baik, lebih penting, dan lebih kekal: seorang suami yang bertakwa, wara', serta fakir yang apabila mencintai istrinya dia akan memuliakannya dan apabila membenci istrinya dia tidak akan menzhaliminya, atau seorang suami kaya raya yang memposisikan seorang istri sebagai bagian dari pondasi rumah, istri diumpamakan seperti barang mewah yang dibangga-banggakan kepada sahabat-sahabatnya di acara-acara bisnis dan jika dia melihat yang lebih kaya serta lebih cantik dari istirnya itu, dia akan meninggalkannya dan berpaling kepada kenalan barunya?

Syariat Islam tidak pernah melarang apabila suami seorang konglemerat, berakhlak mulia, dan berpegang teguh kepada agamanya. Islam juga tidak melarang apabila suami memberi istrinya satu kuintal emas jika dia mampu. Karena, hal itu termasuk hak seorang istri yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya:
“Dan jika engkau ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang engkau telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah engkau mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah engkau akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (Q.S. an-Nisâ': 20)

Kita akan menentang dan kecewa apabila pernikahan orang fakir yang berakhlak mulia dan wara' diperlambat hingga ia memang benar-benar siap lahir dan batin. Karena, jika memperlambat waktu pernikahan sedangkan pihak laki-laki dan perempuan sudah siap dapat menyebabkan kerusakan moral, sosial, jiwa, syariat, dan kesehatan lahiriah.

Kita dituntut untuk menutup rapat-rapat seluruh pintu yang menyebabkan dekadensi moral umat, karena bisa menjadi fitnah bagi umat manusia secara keseluruhan. Allah menjelaskan hal ini secara eksplisit dalam firman-Nya:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara engkau. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S. al-Anfâl: 25)

Siksaan Allah sangat keras bagi siapa saja yang mengarahkan terjadinya fitnah.
Siksaan Allah sangat dahsyat bagi siapa saja yang menyebabkan tersebarnya fitnah.
Siksaan Allah sangat kejam bagi orang-orang yang terjerumus dalam fitnah tersebut.
Siksaan Allah sangat mengerikan bagi siapa saja yang rida fitnah ini terjadi.
Siksaan Allah sangat menakutkan bagi siapa saja yang diam dan tidak mencegah ketika fitnah ini terjadi.

Kita semua berharap agar setiap wanita tinggal di villa mewah, istana megah, tapi dengan syarat wanita tersebut menjaga kehormatannya sebagai wanita, menjaga agama, diri, dan akalnya dari hal-hal yang negatif. Namun demikian, kita tidak pernah mengharapkan jika seorang wanita menikah dengan orang yang tidak dicintainya, menikah karena harta dan meminggirkan orang yang memiliki akhlak sangat terpuji hanya karena dia seorang fakir miskin. Dengan demikian, maka hiduplah wanita tersebut dalam penyesalan yang membuatnya kehilangan kebahagiaan hakiki dan akhirnya ia membangun keluarganya tanpa dasar cinta serta agama.
Saudara-saudariku kawula muda!

Pernikahan yang mengikuti jalur syariat disertai dengan rukun-rukunnya yang sempurna adalah jalan Islam satu-satunya yang sah dan benar untuk melanjutkan hubungan cinta suci kalian, karena jalan tersebut adalah jalan Sang Pengasih dan selain itu adalah jalan-jalan setan. Allah berfirman kepada kalian:
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (Q.S. an-Nûr: 33)

Rasulullah pun bersabda kepada kalian:
“Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah), maka hendaklah dia berpuasa, karena itu menjadi penangkal baginya.”

Atau, puasa akan menjadi penjaga, yaitu menjaga dari hal-hal negatif yang disebabkan karena ia belum menikah serta dapat menghilangkan kesuciannya.
Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa tujuan dari puasa itu adalah mengurangi keinginan syahwat dengan mengurangi produksi makanan. Ada yang berpendapat lain bahwa puasa tersebut tidak ada faedahnya apabila orang yang puasa tadi melampiaskan kekurangan produksi makannya di malam hari setelah di siang harinya ia tidak makan dan tidak minum. Adapun mereka yang menelaah hikmah puasa tersebut, dia akan menemukan sisi-sisi lain dari apa yang termaktub di atas. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, telah di wajibkan kepada engkau puasa sebagaimana telah diwajibkan juga kepada umat-umat sebelum engkau, agar engkau termasuk golongan orang-orang bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah: 183)

Puasa menjadikan orang semakin bertakwa, menambah semangat hidup, serta mampu mengalahkan gangguan setan dan prajurit-prajuritnya dengan mudah.
Oleh karena itu, apabila kalian menilai bahwa cinta itu tidak menuju pada pintu pernikahan berarti kalian dalam keadaan bahaya yang serius. Pacaran, ngobrol panjang, hubungan via telpon dan semacamnya dapat menyebabkan kalian terperangkap ke jalan nista. Semoga Allah melindungi kita semua. []

Menikahlah, Karena Nikah itu Solusi (bagian 2)

Wahai pemuda-pemudi Islam yang saling mencintai!
Hanya sekedar mencintai saja, menghabiskan kebahagiaan hidup duniawi belaka dengan lawan jenis, jauh dari keluarga, jauh dari peminangan yang disyariatkan, jauh dari bentuk peresmian adat dan agama, maka kalian sudah melampaui jalan yang Allah ridai dan kalian sudah terpencar dari jalan Allah. Jika kalian mati dalam keadaan seperti ini, maka kalian mati dalam keadaan jahiliyah. Dan, ingatlah bahwa menjalani cinta itu adalah bahaya.

Telaahlah kerusakan-kerusakan duniawi yang disebabkan oleh cinta yang tidak menghasilkan buah pernikahan dan tidak ada unsur kebaikannya. Sesungguhnya, jika tidak ada surga untuk orang-orang yang bertakwa dan tidak ada neraka untuk orang-orang yang durhaka, maka dalam cinta itu terdapat kerusakan-kerusakan duniawi yang tidak mampu menghindarkan kalian dari reputasi buruk, sejarah keji, serta perbuatan maksiat yang dilakukan ketika cinta tersebut menjadi durjana. Di antara kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh cinta adalah: kehilangan akhlak dan nama baik sebagai seorang muslim sejati.

Apakah seorang wanita baik-baik akan menerima begitu saja ketika ada seorang laki-laki mengajukan dirinya atas nama cinta?
Apakah ada seorang yang berakal sempurna meneguk air minum dari sebuah bejana yang jatuh ke dalamnya beberapa lalat, atau dari sebuah kolam yang sudah digenangi oleh anjing?

Seorang penyair berkata:
Akan kutinggalkan bersilaturahim dengan kalian secara terhormat dan mulia
Disebabkan karena kalian semua manusia hina

Penyair lain ada yang berkata:
Jika banyak lalat hinggap di atas makanan
Akan kuangkat tangan dan diriku untuk menyelerainya
Para raja hutan akan menjauhi air
Jika anjing-anjing telah menjilatinya
Wahai pemudi Islam!

Apakah engkau rida jikalau putra-putramu mengetahui bahwa engkau menjalani masa remajamu dengan menerima siapa saja yang mencintaimu atas nama cinta?
Wahai pemuda Islam!

Apakah engkau rida seandainya putri-putrimu mengetahui bahwa engkau menerima setiap wanita yang mendekatimu?

Kalian harus membatasi tujuan cinta. Jika cinta engkau gunakan hanya untuk bersenang-senang dan mau meluangkan sedikit waktu untuk meminang serta menikah, maka engkau sudah berjalan di atas jalan setan dan sesat. Namun, jika kalian saling mencintai untuk membangun rumah tangga yang mawaddah wa rahmah, maka kalian harus bersegera untuk lebih mengetahui seluk-beluk rumah tangga bahagia dan sifat-sifatnya. Apakah rumah tangga tersebut berjalan menurut arahan Allah dan sunnah Rasul-Nya, atau rumah tangga tersebut berjalan di atas agama setan dan pengikut-pengikutnya.

Apakah masuk akal jika seorang muslim membangun rumah tangganya seperti rumah laba-laba yang tidak ditemukan di dalamnya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan di dalamnya setan tidur, makan, bernaung, menari, dan bersenang-senang?

Allah telah mensyariatkan nikah dan menjadikannya sebagai jalan pertemuan pemuda dan pemudi, laki-laki dan wanita, serta seorang kekasih dengan kekasihnya. Penikahan dalam Islam adalah jalur yang disyariatkan untuk memenuhi hasrat dan hubungan intim secara fitrah antara seorang laki-laki dengan wanita, karena hal tersebut merupakan sebuah tujuan mulia dan terpuji apabila seseorang menghendaki lawan jenisnya. Maka dari itu, masyarakat dan mereka yang mampu secara ekonomi berkewajiban menganjurkan pernikahan agar perjalanan hidup manusia mengalir seperti adanya. Adapun harta menjadi pelengkap untuk melestarikan sebuah rumah tangga yang tenteram serta menjaga jiwa agar selalu bersih dan suci.

Islam adalah peraturan Tuhan sebagai mukjizat yang telah sempurna. Karena itulah, Islam tidak menetapkan sebuah peraturan kecuali memang ada sebab musababnya dan menjadikannya sebuah peraturan yang mudah dilaksanakan setiap pemeluknya. Karena itu pula, Islam tidak pernah membuat peraturan yang keras kecuali seseorang itu memang meninggalkan jalan yang mudah dan diridai Allah hingga akhirnya akan menerima hukuman kejam yang memberatkan hidupnya sendiri. Contohnya adalah apabila seseorang yang telah menikah kemudian dia berzina, maka akan dirajam, dan apabila dia belum menikah, maka akan dihukum cambuk sebanyak seratus kali serta dipenjara satu tahun.
Berangkat dari hal itulah, Allah memerintahkan kepada umat Islam agar membantu secara materi atau nonmateri kepada siapa saja yang ingin melaksanakan pernikahan. Secara eksplisit Allah menyatakan:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara engkau, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (Q.S. an-Nûr: 32-33)

Dalam ayat di atas Allah memerintahkan dan menyatakan kepada kita: Wahai para wali dan tuan-tuan serta wahai umat Islam semua! Hendaklah kalian memberi kemudahan dan saling bahu membahu, menghilangkan rintangan maupun kesulitan bagi laki-laki dan perempuan yang belum menikah, serta memberi kemudahan juga kepada hamba-hamba sahaya kalian baik laki-laki maupun perempuan yang sudah cocok untuk menikah. Santunilah mereka dengan bantuan materi dan jangan sekali-kali kalian persulit atau menghalang-halangi mereka untuk menikah. Berikanlah kemudahan yang layak untuk mereka.

Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah dalam ayat di atas adalah wajib, karena dikuatkan dengan hadis Rasulullah:
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara engkau sudah mampu (lahir dan batin untuk menikah), maka segeralah menikah, karena menikah itu menjaga penglihatan dan kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu untuk itu, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu menjadi penahan nafsu (atau dapat menjaga dirinya).” []

Menikahlah, Karena Nikah itu Solusi (bagian 1)

Menikahlah,
Karena Nikah adalah Solusi
(bagian 1)




Wahai pemuda-pemudi Islam!
Kalian layaknya kawula muda di dunia pada umumnya, sama seperti anak cucu Adam ketika dalam posisi jatuh cinta dalam fase ini, tetapi kalian bukan sepenuhnya sama seperti mereka dalam hal akhlak yang harus kalian emban dan sikapi secara Islami. Kalian adalah harapan umat Muhammad yang diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia sebagaimana Allah mengutus beliau sebagai penyempurna agama terakhir sekaligus mengakhiri risalah-Nya bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana telah difirmankan-Nya:
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang diutus kepada manusia untuk mengajak kepada perbuatan malruf dan melarang dari pada perbuatan mungkar, dan (mengajak) beriman kepada Allah.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 110)

Allah telah menjadikan beliau bagi kita sebagai suri teladan akhlak untuk sekalian alam sekaligus contoh tunggal dan terakhir dalam hal mencintai Allah. Risalah kita adalah mengambil perhatian dunia dan berdakwah ke seluruh pelosok dunia dari kesesatan ke cahaya Islam, dari kenistaan penyembahan materi dan kerusakan penggunaannya menjadi cahaya Ilahi yang Mahaesa yang tiada sekutu bagi-Nya serta tempat manusia bersandar. Kita kuasai dunia hingga manusia menuju ke jalan lurus yang Allah ridai agar manusia tidak terpecah belah dan supaya manusia tidak terbuai dengan hawa nafsu duniawi sebagaimana telah terjadi saat ini pada sebagian besar penduduk dunia.

Cinta kasih kalian seperti apa yang dirasakan setiap kawula muda di dunia baik dahulu maupun sekarang, karena fitrah yang diberikan kepada kalian adalah sama. Sama-sama memiliki hati, perasaan, simpati, dan cinta. Akan tetapi, kalian berbeda dengan mereka dalam hal amanah yang diembankan Allah kepada kalian. Oleh karena itulah aku katakan kepada kalian: “Saling mencintailah sebagaimana kalian rasakan. Saling merindulah sebagaimana layaknya perindu. Beranganlah sekedarnya. Saling menanamkan keikhlasan semampunya. Akan tetapi, jangan lupa batasan-batasan cinta yang ditentukan oleh syariat Islam dan diterima dunia nyata. Posisi kalian sangat berbeda dengan posisi mereka yang jauh dari syariat Islam.”

Kalian saling mencintai demi mencapai tali pernikahan dengan rasa cinta yang disyariatkan Allah untuk membentuk keluarga yang selalu bersujud kepada Sang Khaliq. Untuk meletakkan batu pondasi yang Salih di kalangan masyarakat dengan rasa cinta, ikhlas, beramal Salih kepada Allah Yang Maha esa. Agar terbina keluarga besar, kabilah, dan penduduk yang saling mencintai karena Allah. Agar kalian sebagai umat Nabi Muhammad menjadi sebaik-baik umat yang diutus kepada manusia, sebagaimana Allah berfirman secara eksplisit:
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang diutus kepada manusia untuk mengajak kepada perbuatan malruf dan melarang dari pada perbuatan mungkar, dan (mengajak) beriman kepada Allah.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 110)

Kalian hendaknya saling menyayangi karena Allah, karena yang mulia Rasulullah pernah bersabda:
“Barangsiapa mencintai karena Allah, marah karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah, maka telah sempurnalah imannya.”

Jika kalian laksanakan sabda Rasulullah ini, maka kalian akan memperoleh kemenangan dalam cinta kalian. Hanya dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nyalah, iman kalian menjadi sempurna sekaligus kalian telah muliakan agama Islam.

Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata: “Hukum-hukum dan larangan-larangan Allah tidak akan terpelihara dan orang-orang yang merajut silaturahim harus dibentengi dengan tiga faktor, yaitu: cinta (al-hubb), rasa takut (al-khauf), dan harapan (ar-raja′). Tiga faktor inilah yang menjadi pondasi waktu, karena sangat penting dan bermanfaat bagi yang merasakannya. Tiga faktor ini pula yang menjadi asas akhlak untuk mencapai ke jalan Allah. Tiga faktor inilah yang menjadi intisari penyembahan seorang hamba. Tiga faktor ini juga membangkitkan semangat berkarya. Maka dari itulah, ketika hati kosong dari tiga faktor ini niscaya akan menjadi sengsara yang tidak bisa disembuhkan lagi. Jika hati lemah dari tiga faktor tadi, maka imannya pun melemah menurut standar orang yang beriman.”

Islam tidak mengharamkan dan mendiskriminasi cinta. Bahkan, Islam menjunjung tinggi martabat cinta. Ruang lingkupnya sangat luas dalam masyarakat Islam. Dan, Rasulullah sendiri berwasiat bahwa seseorang tidak akan memperoleh cinta sejati kecuali dari hubungan pernikahan, sebagaimana yang termaktub dalam hadis shahih. Kita mencintai untuk membina hubungan erat yang akan membimbing kita ke jalan yang diridai Allah.
Cinta kita terbina dari rumah yang berlabelkan lâ ilâha illallâh Muhammad rasûlullâh. Pondasinya adalah ketenteraman dan sandang pangan. Udara segarnya adalah mawaddah wa rahmah. Allah berfirman:
“Dan dari tanda-tanda kebesaran-Nya adalah Dia telah menciptakan engkau dari diri-diri engkau masing-masing istri-istri agar engkau merasa tenteram di samping mereka dan mejadikan mawaddah dan rahmah di antara engkau. Sesungguhnya semua itu bukti-bukti untuk kaum yang berfikir.” (Q.S. ar-Rûm: 21)

Kasih sayang kita dapat membangun sebuah tempat tinggal yang diharumkan dengan pemantangan hawa nafsu, disegarkan dengan kesucian dan sujud kepada Allah, disinari dengan kelembutan dan kedamaian. Rumah adalah tempat satu-satunya kita bernaung dengan orang yang kita cintai seperti ibu, bapak, istri, dan anak-anak. []

Ibnu Qoyyim dan Cinta

Ibnu Qayyim dan Cinta




Kita mengenal juga seorang alim ulama populer seperti Ibnu Qayyim rahimahullâh pernah berkata dalam kitabnya al-Jawâb al-Kâfî li Man Sa'ala ‘an ad-Dawâ' asy-Syâfî (Jawaban Konkrit Bagi Mereka yang Menanyakan Obat Manjur): “Kasih sayang adalah penyebab hati dan ruh menjadi hidup terpelihara. Hati tidak akan merasa tenteram, nikmat, beruntung, dan merasa hidup bila tanpa cinta. Seandainya hati tanpa cinta, sakitnya lebih terasa daripada mata terasa sakit ketika tidak bisa lagi melihat cahaya, telinga ketika tidak bisa lagi mendengar, hidung ketika tidak bisa lagi mencium, lisan ketika tidak mampu lagi berbicara. Bahkan, hati pun bisa menjadi rusak apabila hampa dari kasih sayang yang sudah merupakan fitrah dalam jiwa manusia. Ia adalah sebuah karunia yang diberikan Sang Pencipta. Oleh karena itu, rusaknya lebih parah daripada kerusakan tubuh manusia yang diisi dengan ruh, dan ini tidak mungkin bisa dikatagorikan menjadi sesuatu yang pasti kecuali orang yang memiliki jiwa yang selalu hidup.”

Ibnu Qayyim rahimahullâh juga berkata dalam kitabnya ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat): “Mencintai wanita itu terbagi tiga, yaitu:
Bagian pertama dan kedua adalah “pendekatan” dan “ketaatan”. Yang termasuk katagori ini dapat dimisalkan seperti mencintai seorang istri. Bentuk cinta semacam ini sangat bermanfaat karena bagaimanapun ia merupakan salah satu syariat yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dalam melaksanakan pernikahan. Karena, pernikahan dapat menghindarkan pandangan mata dan hati dari perbuatan semu yang dilarang Islam. Maka dari itulah Allah ta’ala, Rasul-Nya Muhammad saw., dan seluruh manusia menjunjung tinggi martabat pecinta semacam ini.

Sedangkan bagian ketiga adalah “cinta mubah” (cinta yang dibolehkan), seperti cinta seorang laki-laki ketika disebutkan kepadanya sosok seorang wanita jelita, atau ketika seorang laki-laki melihat wanita secara kebetulan lalu hatinya terpaut kepada wanita tersebut, dengan catatan tidak ada unsur maksiat dalam jatuh cinta itu. Cinta semacam ini pelakunya tidak dibebani dosa dan siksa, namun lebih baik menghindar dan menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan yang lebih bermanfaat lagi positif serta wajib baginya merahasiakan hal itu. Apabila menjaga dan sabar terhadap suatu hal yang berbau negatif, niscaya Allah ta’ala akan memberikan ganjaran pahala kepadanya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”

Ibnu Qayyim rahimahullâh berbicara tentang cinta: “Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya.”
Ibnu Qayyim rahimahullâh berkata lagi dalam kitabnya ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat): “Cinta membangkitkan jiwa dan menata prilaku. Mengungkapkannya adalah suatu kewajaran dan memendamnya menjadi beban.” Lalu, beliau berkata: “Mereka berucap: ‘Kita tidak memungkiri kerusakan cinta jika terbumbui oleh perbuatan tercela kepada sesama makhluk. Yang kita dambakan adalah cinta suci dari seorang laki-laki idaman yang selalu komitmen kepada agama, kehormatan, dan akhlak. Jangan sempat cinta itu menjadi jurang pemisah antara menusia dengan Khaliq-nya dan menyebabkan antara pecinta dengan yang dicintainya jatuh ke dalam perbuatan nista.

Cinta suci seperti inilah yang menjadi pegangan para ulama terdahulu dan tersohor. Di antara mereka adalah Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Ataba bin Mas’ud. Beliau adalah salah seorang ulama “fakih yang tujuh” (al-fuqahâ' as-sab’ah) yang telah jatuh cinta. Peristiwa ini sempat menjadi buah bibir dan tidak seorang pun mengingkarinya. Adapun siapa yang mencelanya, maka ia terdaftar dalam katagori orang yang zhalim.’” []

01 April 2009

Ibnu Hazm dan Cinta

Ibnu Hazm dan Cinta



Ibnu Hazm al-Andalusi pernah berkata dalam kitabnya yang berjudul Thauq al- Hamâmah fî al-Ulfah wa al-Ulâf (Kemampuan Seekor Burung Dara dalam Merajut Sebuah Kasih Sayang dan Bahkan Ribuan Kasih Sayang), tepatnya pada bab Kelemahan Cinta: Menjadi sebuah keaiban sebagai pecinta sejati yang tidak melanjutkan hubungan asmaranya dengan keterusterangan, atau meninggalkan begitu saja sang kekasih, atau bungkam seribu bahasa yang bermakna putus hubungan asmara yang bisa menyebabkan sakit hati, lemah lunglai, bahkan badan menjadi kurus kering. Dan, sangat mengenaskan lagi jika sampai menelantarkan seseorang ke dalam penderitaan. Kejadian seperti ini selalu ada dan sering terjadi. Nilai-nilai positif yang ditemukan dari sebuah cinta tidak sepadan jika dibandingkan dengan sisi negatifnya. Hal ini hanya dapat disimpulkan oleh seorang tabib mahir atau kritikus handal. Dalam pada itu, Ibnu Hazm berkata:
Seorang tabib berkata kepadaku tanpa didasari ilmu pengetahuan
Berobatlah engkau wahai orang yang berpenyakit
Sedangkan penyakitku itu tiada yang mengetahuinya kecuali aku
Dan juga Tuhan yang Mahakuasa, Maharaja dan Mahamulia
Apakah harus aku sembunyikan, sedangkan hal itu akan dibeberkan oleh keledai yang tertawa terbahak-bahak
Yang akan selalu mendekatiku dan mengetuk panjang pintuku
Wajah yang melambangkan bentuk kesedihan
Dan tubuh bak kuda yang kurus dan lemah lunglai
Keadaan yang kalian rasakan adalah fitrah adanya, dan akan dilalui setiap pemuda maupun pemudi pada fase pertumbuhan dewasa. Setiap orang yang berada pada fase ini pasti akan merasakan cinta yang menggebu-gebu dan selalu berangan-angan seandainya setiap saat dalam hidupnya selalu bersama sang kekasih serta berharap datangnya suatu hari di mana ia mendengar suara gendang pernikahan dan melanjutkannya dengan makan sepiring berdua yang dipadukan atas dasar cinta, kehangatan, kasih sayang, juga keikhlasan.
Kalian adalah dua sejoli yang saling mencintai layaknya pemuda lain, karena kalian memiliki cita-cita yang harus tercapai dan perasaan menggebu-gebu dalam jiwa layaknya juga seluruh pemuda yang ada. Telah kusampaikan kepada kalian batasan-batasan yang jikalau seandainya dipikulkan kepada sebuah gunung, niscaya ia tidak akan mampu mengembannya, apalagi kalau dipandang dari dua hati kalian yang tipis, kecil lagi lemah, sedangkan kalian setiap hari menyaksikan bermacam bentuk kisah cinta dalam kehidupan ditambah lagi dengan acara-acara televisi yang dapat menambah rasa cinta yang mendalam dalam jiwa kalian, hati saling terpaut, jiwa seakan-akan terpenjara, perasaan semakin kalut, air mata bercucuran, bahkan sampai ke suatu puncak detak jantung kalian menutupi dunia maya nun jauh di sana. Aku katakan kepada kalian: “Ini adalah suatu karunia yang dirasakan setiap kawula muda di mana pun mereka berada ketika melalui fase pubertas”
Adalah seorang pemudi Islam pada abad 21 ini menanyakan: “Apakah cinta itu?” Dan, ia pun menjawab sendiri: “Apakah cinta itu suatu perasaan yang dikaruniakan kepada dua jenis manusia yang berbeda. Kedua belah pihak tidak menghendaki apapun kecuali kelanggengan hubungan dan kebahagiaan mereka kelak? Atau, cinta itu hanya perasaan yang menyelubungi hati dan menjaganya dari kesulitan hidup dan rasa kesendirian? Atau, cinta itu hanya sekedar pandangan kelembutan yang membuat dua sejoli terlena? Atau, cinta adalah kata-kata yang bisa menjadikan dua hati terpaut erat karena makna-maknanya yang menyentuh dan membuahkan senyum manis dari bibir pendengarnya, menghilangkan rasa sedih, serta mengokohkan sanubari? Apakah cinta adalah rasa aman, tenteram, tenang ketika berada di samping orang yang paling dicintai? Atau, cinta adalah ketersipuan seorang gadis dan pipinya berubah menjadi merah ketika disebut nama sang kekasih? Atau, cinta itu dapat diartikan dengan terlihatnya getaran tangan seorang pujangga dan tercucurnya air mata bahagia dari pelupuk mata ketika sang kekasih sedang berlalu di hadapannya?
Apakah ini cinta? Apakah cinta dimulai dengan pandangan lembut, kata-kata puitis, senyuman cinta dan ketekadan, jalurnya adalah semangat, usaha dan berjuang demi mencapai impian dengan ending-nya adalah mahkota yang terbuat dari lantunan lagu yang akan menggapai sebuah mimpi indah dan memperoleh cita-cita sang kekasih? Setelah itu, mereka berdua akan hidup bersama di taman cinta dan bahagia. Dan, akhirnya mereka akan bersama untuk selamanya. Cinta dan keselarasan?
Apakah ini cinta? Atau, sesungguhnya cinta adalah sebuah nyanyian, kata-katanya kasih sayang, dilantunkan pada waktu yang indah dan makna-maknanya hanya harapan-harapan nominal.
Apakah ini namanya cinta?
Atau, engkau wahai cinta, adalah azab, penyesalan, kecemburuan, dan kesusahan yang tanpa batas, luka tanpa obat, serta penyesalan kepada sesuatu yang telah berlalu?
Apakah cinta itu?
Sesungguhnya cinta adalah sebuah bunga yang warnanya indah, baunya harum, sentuhannya mempesona, namun memiliki duri-duri yang menyakitkan ketika melukai dan ia tak terobati. Bekas lukanya tidak bisa hilang. Walaupun termakan waktu, ia tetap membekas.
Inilah sosok Imam Ibnu Hazm rahimahullâh seorang ulama besar, fakih dan muslim sejati yang mengarang kitab berjudul Thauq al-Hamâmah fî al-Hubb wa al-Muhibbîn (Kemampuan Seekor Burung Dara untuk Mencintai dan Disayangi). Ia tidak malu-malu mengutarakan perasaan seorang anak Adam yang sedang dilanda cinta walaupun ia seorang ulama besar dan fakih. Perlu digarisbawahi pula bahwasanya agama Islam tidak melarang seseorang mengungkapkan isi hatinya dan menyatakan perasaan seorang anak Adam yang sedang dilanda cinta. Sebagian orang berburuk sangka tentang apa yang disampaikannya, akan tetapi tidak bisa dinafikan karya lain beliau yang menyangkut masalah fikih, seperti kitab Mahally dan tentang perbandingan agama, yaitu kitab al-Fishal fî al-Milal wa an-Nihal. Semua kitab-kitabnya ini dapat menahan orang-orang yang berburuk sangka terhadapnya. []

Ngedit Tak Semudah Ngentut ... Thuuutttssz....

Ngedit Tak Semudah Ngentut

Thuuuuuuttttssz…..

Saya nggak tau tiba-tiba temen saya nyeletuk, “Haaahghhh…sebel nih…. Kok masih halaman segini terus…” Dia nyeletuk begitu karena mungkin jenuh dengan apa yang sedang dia hadapi: ngedit naskah! Persisnya naskah novel. Dia memang editor. Sudah punya dua karya novel lagi. Nih dia novelnya: Fairy Tale House (Sygma, Syamil) dan Spring in Autumn (Lingkar Pena). Cari di internet ada koq…Novelnya ditulis saat ia masih kuliah. Lumayan produktif. Tapi kalau saya singgung-singgung novelnya itu, dia mesti ngomel, “Ahh…itu novel jaman aku masih picisan!” Dulu, ketika saya mau mbaca novelnya itu, dia malah merebutnya, nggak boleh dibaca. Saya nggak mudeng kenapa novelnya itu dia katakan gitu. Mungkin saat nulis novel, dia masih “picisan”. Maklum, masih mahasiswa: masa haus ilmu dan wawasan. Emangnya sekarang sudah dewasa apa? Tanya sendiri aja.

Waduh, malah crita novelnya temenku. Gak apa-apa, numpang iklan. Kembali ke soal ngedit. Nah, setelah nyeletuk gitu, temenku ngomong lagi, “Ngedit memang tak semudah ngentut.” Mendengar ia meluncurkan omongan “nyentrik” gitu, lantas saya balik tanya, “Lha…apa tadi itu?” Saya pengin dengar lagi kalimat yang bagus itu: ngedit tak semudah ngentut! Dia malah bilang, “Kan sampeyan mas dulu yang bilang ‘ngedit tak semudah ngentut’.” Waduh…saya malah gak ingat kalau justru saya yang pertama kali ngucapin ‘ngedit tak semudah ngentut’. Mungkin karena saya dah tua kali ya…. Padahal baru kepala 2 haha…..

Apa sih hubungannya “ngedit” sama “ngentut”? Ngedit (bahasa nJawani dari ‘edit’) itu soal editorial; naskah buku. Sedang ngentut soal perut dan bau! Bau tak sedap pastinya. Saya waktu itu ngomong ‘ngedit tak semudah ngentut’ karena memang faktanya begitu. Yang menghubungkan antara ngedit dan ngentut adalah kata “tak semudah” di antara kedua kata itu. Faktanya, ngentut itu mudah, kecuali bagi yang bermasalah sakit kembung susah ngentut. Orang normal, ngentutnya gampang…Blueeessssss…..Thuuuuuutttttt……bablas angine (kayak iklan Antangin aja). Lega rasanya kalau udah ngentut. Perut terasa enak. Tapi orang sekitar pasti marah-marah. Yang ngentut dapat keenakan, yang kena baunya dapat kesengsaraan.

Soal ngedit, memang tak mudah. Banyak orang mungkin yang bilang, “Halaahh…ngedit gitu aja kok… Gampang kan…” atau kata-kata senada. Memangnya ngedit tak mudah? Ya, tak mudah. Minimal tak semudah ngentut! Bagi para editor, ngedit memang menyenangkan, campur stress kalau naskah bukunya amburadul. Belum lagi kalau dikejar deadline (kenapa mau dikejar ya? Nggak ngejar deadline aja?) “Ngejar” deadline sama “dikejar” deadline kayaknya gak beda jauh! Nah, kalau dah gini-ini, editor bisa pusing. Mengapa pusing? Karena dia harus “masak” naskah!

Editor memang koki naskah buku. Dia harus mencari bahan yang akan dimasak, meraciknya dengan bumbu, dan mengolahnya agar menjadi buku yang enak dimakan otak dan mata pembaca! Kalau perlu naskah dicincang-cincang, digiling, direbus berkali-kali, digoreng, tambah sambel biar pedas di bibir, mata, dan otak pembaca kalu bukunya jadi. Kadang juga harus menambah atau menguranginya; agar tidak terlalu pendek atau terlalu panjang. Belum lagi kalau harus disesuaikan dengan “nafsu membaca” pembaca di pasaran. Dia harus bikin menu yang hot, buku panas! (panas bukunya biar laku…tapi bukan panas-panas gituan loh…). Nah kalau lagi masak itulah yang tak semudah ngentut!

Yang bikin tak semudah ngentut saat ngedit itu banyak sekali. Misalnya struktur buku dan bahasanya kacau, alurnya gak jelas, molor-molor, ejaannya mawut, temanya gak sesuai, dan sebagainya. Biasanya naskah yang “mawut begitu” tidak disukai editor. Makanya, kalau ada penulis yang ngirim naskah “mawut” biasanya langsung ditolak (saran nih buat yang ingin ngirim naskah ke penerbit).

Sekedar berbagi soal ngedit, paling tidak buku itu kan harus dipertimbangkan dari 3 sisi: editorial (isi, tema, bahasa, dll), pasar (market), dan produksi (nyetak bukunya). Buku itu idealnya bagus editorialnya, laku di pasar, dan cetaknya bagus. Dari ketiga pertimbangan itu, sisi editorial memegang peran yang vital (walaupun bukan segala-galanya), karena editorial itu dapurnya buku! Buku yang baik (menurut saya) itu yang temanya bagus (mak nyuzzz), bahasanya enak (gak banyak salah), dan fisik bukunya oke punya. Gak nyaman kan kalo pas lagi asyik-asyiknya baca buku tiba-tiba banyak kata-kata yang salah… Kurang satu huruf saja bikin gak nyaman baca. Nah itulah pentingnya editor!

Wah dah dulu ya….Sorry, tulisan ini tidak diedit, jadi jangan dikomentari dari sisi editan ya…. Biar tau, kalau tulisan gak diedit itu gak enak dibaca haha….:) Tengkiyu…

Siang yang mendung dan ada gledek!!

Surabaya, 1 April 2009

Ratman Boomen