Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

01 April 2009

Ngedit Tak Semudah Ngentut ... Thuuutttssz....

Ngedit Tak Semudah Ngentut

Thuuuuuuttttssz…..

Saya nggak tau tiba-tiba temen saya nyeletuk, “Haaahghhh…sebel nih…. Kok masih halaman segini terus…” Dia nyeletuk begitu karena mungkin jenuh dengan apa yang sedang dia hadapi: ngedit naskah! Persisnya naskah novel. Dia memang editor. Sudah punya dua karya novel lagi. Nih dia novelnya: Fairy Tale House (Sygma, Syamil) dan Spring in Autumn (Lingkar Pena). Cari di internet ada koq…Novelnya ditulis saat ia masih kuliah. Lumayan produktif. Tapi kalau saya singgung-singgung novelnya itu, dia mesti ngomel, “Ahh…itu novel jaman aku masih picisan!” Dulu, ketika saya mau mbaca novelnya itu, dia malah merebutnya, nggak boleh dibaca. Saya nggak mudeng kenapa novelnya itu dia katakan gitu. Mungkin saat nulis novel, dia masih “picisan”. Maklum, masih mahasiswa: masa haus ilmu dan wawasan. Emangnya sekarang sudah dewasa apa? Tanya sendiri aja.

Waduh, malah crita novelnya temenku. Gak apa-apa, numpang iklan. Kembali ke soal ngedit. Nah, setelah nyeletuk gitu, temenku ngomong lagi, “Ngedit memang tak semudah ngentut.” Mendengar ia meluncurkan omongan “nyentrik” gitu, lantas saya balik tanya, “Lha…apa tadi itu?” Saya pengin dengar lagi kalimat yang bagus itu: ngedit tak semudah ngentut! Dia malah bilang, “Kan sampeyan mas dulu yang bilang ‘ngedit tak semudah ngentut’.” Waduh…saya malah gak ingat kalau justru saya yang pertama kali ngucapin ‘ngedit tak semudah ngentut’. Mungkin karena saya dah tua kali ya…. Padahal baru kepala 2 haha…..

Apa sih hubungannya “ngedit” sama “ngentut”? Ngedit (bahasa nJawani dari ‘edit’) itu soal editorial; naskah buku. Sedang ngentut soal perut dan bau! Bau tak sedap pastinya. Saya waktu itu ngomong ‘ngedit tak semudah ngentut’ karena memang faktanya begitu. Yang menghubungkan antara ngedit dan ngentut adalah kata “tak semudah” di antara kedua kata itu. Faktanya, ngentut itu mudah, kecuali bagi yang bermasalah sakit kembung susah ngentut. Orang normal, ngentutnya gampang…Blueeessssss…..Thuuuuuutttttt……bablas angine (kayak iklan Antangin aja). Lega rasanya kalau udah ngentut. Perut terasa enak. Tapi orang sekitar pasti marah-marah. Yang ngentut dapat keenakan, yang kena baunya dapat kesengsaraan.

Soal ngedit, memang tak mudah. Banyak orang mungkin yang bilang, “Halaahh…ngedit gitu aja kok… Gampang kan…” atau kata-kata senada. Memangnya ngedit tak mudah? Ya, tak mudah. Minimal tak semudah ngentut! Bagi para editor, ngedit memang menyenangkan, campur stress kalau naskah bukunya amburadul. Belum lagi kalau dikejar deadline (kenapa mau dikejar ya? Nggak ngejar deadline aja?) “Ngejar” deadline sama “dikejar” deadline kayaknya gak beda jauh! Nah, kalau dah gini-ini, editor bisa pusing. Mengapa pusing? Karena dia harus “masak” naskah!

Editor memang koki naskah buku. Dia harus mencari bahan yang akan dimasak, meraciknya dengan bumbu, dan mengolahnya agar menjadi buku yang enak dimakan otak dan mata pembaca! Kalau perlu naskah dicincang-cincang, digiling, direbus berkali-kali, digoreng, tambah sambel biar pedas di bibir, mata, dan otak pembaca kalu bukunya jadi. Kadang juga harus menambah atau menguranginya; agar tidak terlalu pendek atau terlalu panjang. Belum lagi kalau harus disesuaikan dengan “nafsu membaca” pembaca di pasaran. Dia harus bikin menu yang hot, buku panas! (panas bukunya biar laku…tapi bukan panas-panas gituan loh…). Nah kalau lagi masak itulah yang tak semudah ngentut!

Yang bikin tak semudah ngentut saat ngedit itu banyak sekali. Misalnya struktur buku dan bahasanya kacau, alurnya gak jelas, molor-molor, ejaannya mawut, temanya gak sesuai, dan sebagainya. Biasanya naskah yang “mawut begitu” tidak disukai editor. Makanya, kalau ada penulis yang ngirim naskah “mawut” biasanya langsung ditolak (saran nih buat yang ingin ngirim naskah ke penerbit).

Sekedar berbagi soal ngedit, paling tidak buku itu kan harus dipertimbangkan dari 3 sisi: editorial (isi, tema, bahasa, dll), pasar (market), dan produksi (nyetak bukunya). Buku itu idealnya bagus editorialnya, laku di pasar, dan cetaknya bagus. Dari ketiga pertimbangan itu, sisi editorial memegang peran yang vital (walaupun bukan segala-galanya), karena editorial itu dapurnya buku! Buku yang baik (menurut saya) itu yang temanya bagus (mak nyuzzz), bahasanya enak (gak banyak salah), dan fisik bukunya oke punya. Gak nyaman kan kalo pas lagi asyik-asyiknya baca buku tiba-tiba banyak kata-kata yang salah… Kurang satu huruf saja bikin gak nyaman baca. Nah itulah pentingnya editor!

Wah dah dulu ya….Sorry, tulisan ini tidak diedit, jadi jangan dikomentari dari sisi editan ya…. Biar tau, kalau tulisan gak diedit itu gak enak dibaca haha….:) Tengkiyu…

Siang yang mendung dan ada gledek!!

Surabaya, 1 April 2009

Ratman Boomen



0 Responses: