Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

02 April 2009

Peringatan Berharga tentang Fitnah Lisan

Sebuah Peringatan Berharga
tentang Fitnah Lisan




Melalui ini akan aku sampaikan kepada kalian peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang berbuat dosa dengan siksaan pedih di akhirat kelak dan kehidupan yang tidak tenang di dunia.

Imam al-Maududi rahimahullâh berkata dalam kitabnya al-Hijâb ‘an Fitnah al-Lisân (Mencegah dari Fitnah Lisan) bahwa prajurit lain dari setan nafsu adalah lisan. Begitu banyak fitnah-fitnah yang disebarkan dan disebabkan oleh lisan. Sebagai contoh, laki-laki dan wanita ketika berbicara. Apabila dilihat dari lahirnya, pembicaraan mereka tidak ada yang berbau negatif, akan tetapi hati yang kotor dapat menjadikan sesuatu yang baik menjadi buruk, suara menjadi fitnah, ungkapan indah dan ucapan manis menjadi tercela. Dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan dengan firman-Nya:
“Hai istri-istri Nabi, engkau sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika engkau bertakwa. Maka, janganlah engkau tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. al-Ahzab: 32)

Di sisi lain, hati yang ada penyakitnya ini bersenang-senang membicarakan kepada khalayak ramai tentang hubungan pribadi mereka, yang kemudian orang lain yang mendengarkannya terbawa olehnya. Karena kenikmatan setaniyah inilah tercipta kisah-kisah cinta dan kasih sayang, baik itu kisah yang nyata atau kisah yang direka-reka yang menjadi bahan perbincangan di tempat keramaian serta hiburan yang kemudian tersebar di kalangan masyarakat seperti api yang berkobar di tengah-tengah jerami. Oleh karena itu, Al-Qur'an mengingatkan kita melalui firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang engkau tidak mengetahui.” (Q.S. an-Nûr: 19)

Fitnah lisan mempunyai banyak bentuk dan setiap macam yang disebabkannya memiliki unsur khianat hati orang yang melakukannya. Islam telah mempelajarinya dan memberikan rambu-rambu. Seorang wanita tidak diperbolehkan menceritakan tentang wanita lain di depan suaminya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:
“Wanita dilarang menceritakan tentang wanita lain di depan suaminya hingga suaminya tersebut seolah-olah melihat langsung wanita yang diceritakan oleh istrinya.”

Kedua belah pihak, yaitu suami istri, dilarang keras menyebarkan rahasia mereka kepada orang lain, karena hal tersebut mengundang fitnah dan menutup hati.
Kami tidak melarang kalian untuk saling mencintai. Cinta adalah sesuatu yang indah. Akan tetapi, kami hanya menyampaikan suatu peringatan agar kalian tidak sampai terjerumus ke jalan setan yang disebabkan oleh cinta buta.

Ibnu Qayim rahimahullâh mengatakan dalam kitabnya Raudhah al-Muhibbîn wa Nuzhah al-Musytâqîn (Taman Cinta dan Kebun Rindu), al-Muda'ini berkata: “Seorang laki-laki mencela temannya yang suka melampiaskan nafsu setannya.” Maka, rahimahullâh barkata: “Jikalaulah ada pilihan lain untuk orang-orang pelampias nafsu, maka dia akan memilih untuk tidak memiliki nafsu.”

Dalam hal ini Rasulullah menegaskan melalui hadisnya yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari kisah Buraira: “Sesungguhnya suami Buraira mengikutinya dari belakang setelah terjadi talak antara keduanya. Maka, dengan sendirinya Buraira menjadi seorang yang asing bagi suaminya. Ketika itu, mengalirlah air mata di pipinya melihat apa yang terjadi.

Rasulullah bersabda:
“Wahai Abbas, apakah engkau tidak takjub kepada cinta Mughits terhadap Buraira dan kemurkaan cinta Buraira terhadap Mughits?”
Kemudian Rasulullah menambahkan:
“Alangkah baiknya jikalau engkau wahai Buraira rujuk kepada suamimu.”
Buraira menjawab: “Wahai Rasullah, apakah engkau menyuruhku?” Rasulullah pun bersabda:
“Sesungguhnya aku adalah pemberi syafaat.”
Buraira berkata: “Aku tidak membutuhkannya kembali.”

Dalam hadis tersebut Rasulullah tidak menyanggah cinta suami kepada istrinya dalam keadaan seperti yang digambarkan, karena hal ini adalah lumrah dan sesuatu yang tidak bisa diikutcampuri serta tergantung keputusan pribadi masing-masing.
Islam tidak pernah melarang percintaan, akan tetapi Islam menghindarkan sesuatu yang menghardik cinta dengan bentuk cercaan, melalui pendengaran, lisan, atau sentuhan yang tidak disyariatkan dalam Islam.

Adapun pandangan yang lama terhadap wanita lain dengan pikiran negatif diharamkan dalam Islam, apalagi pertemuan yang membawa fitnah. Rasulullah bersabda:
“Wahai Ali, jangan barengi pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya pandangan pertama bagimu, sedangkan pandangan kedua bukan hakmu (dosa).”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu berkata: “Bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Diharamkan bagi seorang istri membicarakan tentang wanita lain di depan suaminya yang menjadikan suaminya seolah-olah melihat wanita yang dibicarakan tersebut.”
Maknanya adalah seorang istri itu janganlah menyebut-nyebut tentang wanita lain di depan suaminya yang menjadikan suaminya seolah-olah melihat wanita tersebut. Oleh karena itu, lihatlah wahai pecinta sejati di mana posisimu dalam hadis tersebut supaya engkau tahu batasan hak-hakmu dengan orang yang engkau cintai. Dan, perhatikanlah wahai pemudi kondisimu dalam hadis itu supaya engkau tidak buta tentang batasan hak-hakmu dengan orang yang engkau berikan cinta kepadanya. []

0 Responses: