Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

05 April 2009

Menulis: ANTUSIASME dan SPIRITUALITAS!!!


Pekan kemarin Pak Dahlan (CEO Jawa Pos Group) datang ke salah satu perusahaan penerbitan milik Jawa Pos Group. Saya tahu apa yang dilakukannya. Datang untuk mengecek naskah buku 'terbatas' yang beliau tulis khusus untuk kalangan Jawa Pos Group, tidak dijual dan dipublikasikan. Ya, semacam buku 'resep jurus khusus' bagi perguruan Jawa Pos. Buku itu tipis, cuma 58-an halaman. Tanpa halaman prelim, tanpa daftar isi. Murni judul-judul dalam lembaran-lembaran halamannya. Ukuran bukunya pun kecil, seperti ukuran buku komik. Kecil tapi berenergi. Buku itu bagi saya sebuah 'kitab energi'. Kitab yang menurut saya memuat saripati bagi orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik atau tulis-menulis, termasuk penulis. Memuat inti jurus paling dalam dalam 'menulis-tulisan'. Apa inti jurus itu?

Inti jurus itu sebagaimana judul bukunya: HIDUP ANTUSIAS!!! Bergambar anak-anak Deteksi Jawa Pos yang berkumpul dan berekspresi antusias saat berpose dalam ulang tahun Deteksi. Ya, antusiasme. Mengapa antusiasme? Buku kecil itu dimulai dengan cerita Pak Dahlan tentang 'gulung tikar'-nya koran di Seattlle (AS) yang sudah berumur 147 tahun!!! Koran Seattlle Post-Intellegencer (disebut kotan P-I). Lalu Pak Dahlan mengaitkan kasus runtuhnya koran P-I itu dengan 'bagaimana Jawa Pos menghadapi tantangan ke depannya'. Ini semacam nasihat. Belajar dari kasus, sebagaimana pepatah: pengalaman adalah guru terbaik, experience is the best teacher. Kira-kira begitu. Dalam bahasa agama mungkin 'bermuhasabah' untuk kemudian mengmbil langkah.

Inti buku itu ada di bab terakhir, ya HIDUP ANTUSIAS itu. Antusiasme dalam menulis. karena antusiasme menulis itulah yang akan menghasilkan energi luar biasa dalam berkarya, bekerja. Antusiasme itu juga yang akan menumbuhkan kreativitas langkah-langkah dan ide-ide brilian dalam menghadapi tantangan yang lebih berat ke depan. Entah di mana letak antusisme dalam ilmu manajemen diri dan motivasi, katanya, tapi yang jelas itu energi kehidupan. Motor motivasi. Apapun dan di manapun orang itu berkarya.

Antusiasme layaknya 'nafsu'. Jika minus antusiasme, minus nafsu!!! Letoy, lemas, tak berdaya!!! Menulis juga butuh nafsu, nafsu nulis. Mungkin kalau di bahasa Arab jadi nafsul kitabah (maaf kalau salah ya...). Jenis nafsu inilah yang menjangkiti para ulama dan ilmuwan muslim terdahulu sehingga menghasilkan karya yang luar biasa berkualitas dan banyak jumlahnya. Lihat saja Ibnu Khaldun dengan kitab 'Al-Muqaddimah'-nya, Ar-razi dengan kitab 'Al-Hawi'-nya, Ibnu Sina dengan kitan 'Al-Qonun ath-Thibb'-nya, dan lain-lain. Mereka tak hanya menulis satu kitab, tapi berjilid0jilid kitab. Kita lihat juga Imam Bukhari yang hafal di luar kepala 100 ribu hadis shahih dan 200 ribu hadis yang tidak shahih, telah menulis puluhan kitab berkualitas yang berjilid-jilid. Kitab monumentalnya 'Shahih Bukhari' berjilid-jilid, lengkap dengan matan dan sanad hadisnya. Kitab ini bukan lagi best-seller, tapi lebih dari itu...entah apa namanya. tidak hanya ter-copy lebih dari 100 ribu eksemplar, tapi kitab Imam hadis itu dipakai sepanjang waktu sejak ditulisnya dan terus dicetak. Kualitasnya bukan lagi masuk Kick Andy, tapi "kitab tershahih di kolong langit ini setelah Al-Qur'an"!!! Apa kita tak mau terjangkiti virus intelektual Imam Bukhari ini???

Mengapa Imam Bukhari bisa sampai bisa menulis demikian? Karena memiliki antusiasme! Coba saja lihat, Imam Bukhari rela melakukan perjalanan untuk mengecek sebuah hadis ke wilayah yang kalau sekarang di sebut 'pergi ke luar negeri', dalam waktu berhari-hari, bertahun-tahun. Saat itu tidak dengan Boeing, tapi maksimal dengan hewan berkaki empat (entah kuda atau onta). Bisa dibayangkan kan jika tanpa antusiasme. Lalu, ia pun menulisnya dengan antusias apa yang dia miliki dari karunia ilmiah yang diberikan Allah kepadanya.

Kembali ke Pak Dahlan. Di buku kecil itu, selain antusiasme, beliau juga menyebutkan SPIRITUALITAS!!! Ya, spiritualitas. Nilai-nilai spiritual, energi batin yang menggelora dari aras keyakinan ruhani atas dasar landasan ilahiyah. Spiritualitas bergabung dengan antusiasme. Saya nggak tahu mana yang mempengaruhi, antusiasme mempengaruhi spiritualitas atau sebaliknya. Sulit memang memilahnya, karena abstrak. Tapi, kita bisa merasakan keberadaan dan efeknya. Spiritualitas ini menurut saya sebuah 'keyakinan' yang tertancap dalam jiwa. Maka, antusiasme menurut saya adalah 'semangat'. Dengan demikian, jika antusiasme digandengakan dengan spiritualitas menjadi: KEYAKINAN yang melahirkan SEMANGAT. Mungkin semacam itu. Ini analisa saya lohh... Anda bisa gak percaya, gak setuju, atau mengabaikannya. Terserah. Yang penting, Anda punya antusiasme dan spiritualitas.

Jika Anda (dan saya tentunya) masih malas menulis dan malas hidup, mungkin kita perlu 'membeli' antusiasme dan spiritualitas. Kalau tidak bisa bayar cash ya kredit saja. Bunganya 0% kok. Di mana belinya? Banyak yang jualan. Ada di orang lain, tokoh yang sukses, atau orang terdekat. Tapi yang jelas, dalam diri kita ada pabrik antusiasme dan spiritualitas. Tinggal kita saja yang mau memproduk atau nggak. Itu saja!!! Bagaimana memproduknya, terserah Anda.

Sepertinya itu dulu ya. Antusiasme dan spiritualitas. Ini mungkin yang menginspirasi salah satu iklan produk seluler: ANTI MATI GAYA!!! Kalau dalam menulis ya, ANTI MATI KARYA!!!

Salam antusias dan spiritualitas!!!
Terima kasih Pak Dahlan.

---------------------
Ratman

4 Responses:

susiyanto mengatakan...

Memang begitu seharusnya antusias dalam segala hal plus percaya diri. Salam dari saya sahabat dekat satu perguruan di kauman

Nggapril mengatakan...

Setuju! ANTUSIAS! :)

Makasih mas atas komennya :)

Bayu Probo mengatakan...

Tulisan yang menyemangati saya. Terima kasih.

Muhammad Ihsan Fauzi mengatakan...

tetep smangat...
tetep antusias...