Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

02 April 2009

Teladan Cinta Ummu Salamah

Teladan Cinta
Ummu Salamah



Di sini akan kuuraikan kisah Ummul Mukminin Ummu Salamah sebagai suri teladan cinta hakiki seorang istri kepada suaminya. Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anha berkata: “Tatkala Abu Salamah (suaminya) hendak bepergian ke Madinah, ia menyiapkan untukku seekor unta, lalu menaikkanku ke atas punggung unta tersebut serta mengikutkan anak kami, Salamah, di pangkuanku. Kemudian kami melakukan perjalanan dengan unta tersebut tanpa istirahat (tidak berhenti dan tidak menunggu sesuatu).

Sebelum kami berpisah dengan Makkah (sebelum keluar dari perbatasan Makkah), datanglah rombongan dari kaumku, yaitu Bani Makhzum mendekati dan menghardik kami, sembari berkata kepada Abu Salamah: “Jika engkau sudah mengalahkan kami untuk tidak menuruti kehendak kami, bagaimana tentang wanita ini?! Dia adalah keturunan kami, apa alasan kami membiarkanmu untuk membawanya, lalu kalian meninggalkan kami di sini?” Kemudian, mereka menahan Abu Salamah dan merampasnya dariku secara paksa.

Mendengar peristiwa yang menimpaku, kaum suamiku dari Bani Abdul Asad datang mengambilku serta anakku sehingga membuat mereka sangat marah dan berkata: “Kami tidak terima perlakuan kalian ini, dan demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak ini bersama wanita dari bani kalian setelah kalian rampas mereka berdua dari anak kami secara paksa. Anak ini adalah anak kami juga dan kami lebih berhak terhadapnya.”
Kemudian mereka memulai saling tarik-menarik untuk memperoleh anakku, Salamah.

Kejadian itu terjadi di depan mataku hingga terlepaslah Salamah dari tanganku dan mereka mengambilnya dariku. Beberapa saat setelah aku sadar, aku menemukan diriku dalam kebingungan dan kesendirian tanpa ada seorang pun di sekelilingku. Adapun suamiku tercinta menyelamatkan diri pergi ke Madinah memperjuangkan agama dan dirinya, sedangkan anakku di bawa Bani Abdul Asad dari pelukanku.
Aku saat itu berada dalam kungkungan kaumku, Bani Makhzum, dan mereka melarangku untuk pergi ke mana-mana. Mereka pisahkan antara aku dengan suamiku, dan antara aku dengan anakku begitu cepat.

Mulai saat itu aku selalu keluar di saat menjelang petang ke suatu tempat ketidakberdayaanku. Aku pun duduk lesu di tempat peristiwa kepiluanku sembari mengingat-ingat kembali bayangan kepedihan perpisahanku dengan suami dan anakku di tempat itu. Dan, aku terpaku menangis hingga malam mulai mencekam. Aku terus-menerus seperti itu sampai setahun kemudian atau mendekati setahun, hingga tergugahlah hati seseorang dari kaum pamanku melihat keadaanku dan berkata kepada kaumku: “Apakah tidak sebaiknya kalian bebaskan wanita ini?! Kalian telah pisahkan dia dengan suami dan anaknya.”

Lama-kelamaan kaumku mulai tergugah hati mereka dengan ucapan dari salah seorang bani pamanku, hingga akhirnya mereka berkata kepadaku: “Jikalau engkau mau, pergilah mencari suamimu.” Namun, bagaimana aku bingung mencari suamiku di Madinah, sedangkan anakku masih berada di Makkah bersama Bani Abdul Asad.

Bagaimana mungkin hatiku tenang dan air mataku kering seandainya aku berada di Madinah, sedangkan buah hatiku tinggal di Makkah dan tidak mengetahui kabarnya sama sekali. Di saat sedih seperti itu ada sebagian masyarakat yang memperhatikan kepedihan dan kegundahan yang kurasakan, sehingga terdetiklah hati mereka untuk membantu dan membicarakan keadaanku kepada Bani Abdul Asad serta merayu mereka sampai Bani Abdul Asad mengembalikan anakku, Salamah, kepadaku.

Dalam pada itu, di Makkah aku mencari-cari seseorang yang bisa menolongku untuk menemaniku pergi ke Madinah, karena aku takut bila terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan selama dalam perjalanan menuju Madinah tempat suamiku berlindung. Tapi apatah hendak di kata, tidak seorang pun kudapatkan yang bersedia menemaniku. Walaupun demikian, aku tetap bergegas menyiapkan unta dan anakku yang kuletakkan di gendonganku. Kemudian, aku pun pergi menuju Madinah mencari suamiku tercinta tanpa seorang pun menemaniku.

Setelah aku sampai di daerah Tan’im, aku bertemu dengan seorang pemuda bernama Usman bin Thalhah sembari bertanya kepadaku: “Wahai putri Zad Rakib, ke manakah engkau mau pergi?” Aku pun menjawab: “Aku hendak pergi menjumpai suamiku di Madinah.” Ia bertanya lagi: “Tidak adakah orang yang menemanimu?” Aku pun menjawab: “Demi Allah, tidak ada. Hanya Allah yang bersamaku dan anakku ini.” Lalu ia berkata lagi: “Demi allah, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri ke sana dan aku akan menemanimu sampai di kota Madinah.” Kemudian, ia pegang pelana untaku dan ikut mengantarku pergi ke Madinah.

Aku bersumpah bahwasanya aku tidak pernah ditemani seorang pemuda Arab semulia dia. Dan, apabila sampai di suatu tempat penginapan, ia menurunkan untaku dan menungguku sampai turun dari punggung unta. Ketika aku sudah turun dari punggung untaku dan sampai ke tanah, ia mendekati unta itu kembali dan membawanya ke sebuah pohon, lalu mengikatnya. Kemudian, ia pun mencari pohon yang lain untuk berteduh dan istirahat di bawah naungannya.

Setelah istirahat selesai, ia langsung berdiri mengambil untaku dan membawanya ke hadapanku sembari menunggu sampai betul-betul siap, lalu ia pun berkata: “Naiklah.” Setelah aku menaiki untaku dan berada di atasnya, ia datang menghampiri seraya mengambil pelana dan siap untuk berangkat kembali.

Sikap seperti itu ia lakukan setiap hari hingga kami sampai di Madinah. Tatkala kami sampai di daerah Quba′ tepatnya di daerah Bani ‘Amru bin ‘Auf, ia berkata: “Suamimu berada di daerah ini, maka masuklah ke daerah ini dengan rida Allah.” Dan, ia pun kemudian kembali lagi ke Makkah.

Setelah berpisah begitu lama, mereka akhirnya pun berkumpul kembali. Air mata Ummu Salamah menetes tak terbendung dan Abu Salamah sendiri sangat bahagia memiliki keluarga seperti Ummu Salamah serta anaknya. Inilah sekilas kisah cinta Ummu Salamah terhadap suaminya yang begitu tulus.

Perhatikanlah wahai pemuda Islam!
Apakah orang yang engkau cintai akan melakukan seperti apa yang dilakukan Ummu Salamah terhadapa suaminya dan orang yang paling dia cintai?
Dan, perhatikanlah wahai pemudi Islam!

Apakah engkau mampu menghadapi masalah seperti yang terjadi pada Ummu Salamah yang telah berpisah begitu lama dari suami dan anaknya, hidup dalam kesendirian dan menangis pilu berkepanjangan?

Pada peristiwa Perang Uhud, Abu Salamah terluka parah, lalu Ummu Salamah sang istrinya tercinta mengobatinya hingga hampir sembuh. Namun, sangat disayangkan luka tersebut semakin membengkak dan parah seolah-olah lukanya terbuka yang menyebabkan Abu Salamah terus berada di atas ranjangnya.

Tatkala Abu Salamah sedang diobati lukanya, ia berkata kepada istrinya: “Wahai Ummu Salamah! Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang terkena musibah, hendaklah ia mengucapkan innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.” Kemudian, Abu Salamah menambahkan: “Ya Allah, kukembalikan kepadamu seluruh musibah yang mengenaiku. Ya Allah, berikanlah kepada istriku yang lebih baik dari diriku.” Allah pun kemudian mengabulkan doanya.
Tak berapa lama Abu Salamah wafat dan Ummu Salamah mengingat apa yang diriwayatkan Abu Salamah dari Rasulullah sembari berdoa: “Ya Allah, kuserahkan kepadamu seluruh musibahku ini ….”

Akan tetapi, hati Ummu Salamah sebenarnya tidak menerima jikalau dikatakan kepadanya: “Berikanlah pengganti yang lebih baik untuknya” atau “berikanlah penggantiku yang lebih baik untuk istriku”, yang membuat hati Ummu Salamah bertanya-tanya: “Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah?” Namun, selang beberapa waktu Ummu Salamah berdoa.

Di waktu berikutnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang untuk meminangnya Ummu Salamah, namun ia menolak lamaran tersebut. Kemudian, Umar bin Khattab datang juga ingin melamar Ummu Salamah, akan tetapi jawabannya sama seperti jawabannya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian, giliran Rasulullah datang melamar Ummu Salamah dan ia pun menjawab: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai tiga sifat kekurangan. Pertama: aku seorang wanita pencemburu, oleh karena itulah aku takut engkau melihat kekurangan itu dariku sehingga membuatmu marah dan Allah akan mengazabku. Kedua: aku seorang wanita lanjut usia . Dan, ketiga: aku seorang janda yang sudah mempunyai anak.”

Mendengar alasan tersebut, Rasulullah bersabda: “Adapun yang engkau uraikan tentang kecemburuanmu, maka sesungguhnya aku berdoa kepada Allah agar dihilangkan-Nya sifat cemburumu itu. Adapun alasan karena engkau sudah lanjut usia, maka sesungguhnya aku sama sepertimu. Dan, adapun karena engkau seorang janda yang sudah mempunyai anak, maka sesungguhnya anakmu adalah anakku juga.”

Kemudian, Rasulullah pun menikah dengan Ummu Salamah. Dan, Allah telah mengabulkan doa Ummu Salamah serta mengganti untuknya dengan yang lebih baik, yaitu Rasulullah suri teladan umat manusia.

Kisah ini merupakan salah satu contoh pelajaran yang baik dalam masalah cinta sebagai bukti nyata bahwa Islam sangat menghormati cinta dan para pecinta sejati. Contohnya, Ummu Salamah tidak mau cintanya diganti dengan orang lain kecuali pengganti suaminya itu sederajat Rasulullah. Ummu Salamah telah memberikan suri teladan bagi kita bagaimana sebenarnya cinta suci yang hakiki.

Bukti cinta Ummu Salamah kepada Rasulullah terlihat ketika beliau memusyawarahkan suatu masalah dengannya, yaitu manakala Rasulullah datang kepadanya dalam keadaan bimbang dan bersabda: “Para pengikutku telah binasa.” Peristiwa tersebut terjadi ketika para pengikut Rasulullah mengingkari perintah beliau setelah disetujui sebuah kesepakatan perdamaian. Saat itu beliau bersabda kepada pengikutnya: “Berdirilah engkau sekalian dan sembelihlah kurban, lalu bersegeralah mencukur rambut.” Ketika itu tak seorang pun mentaati perintah Rasulullah.

Ummu Salamah memberikan solusi kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Nabi Allah, keluarlah kepada mereka dan jangan berbicara sepatah kata pun kepada salah seorang dari mereka sampai mereka menyembelih kurban (unta) dan engkau segera panggil pencukur untuk menyukur rambutmu.” Rasulullah kemudian keluar dan tidak berbicara sepatah kata pun kepada mereka serta melakukan apa yang diidekan istrinya tercinta. Beliau pun menyembelih kurban (unta) dan memanggil pencukur rambut untuk menyukur rambut beliau. Ketika para sahabat melihat hal itu, mereka pun langsung berdiri dan menyembelih kurban. Kemudian, mereka juga saling mencukur rambut sampai hampir terjadi keributan.

Demikianlah kisah Ummu Salamah yang sempat menyelamatkan umat Islam dari kebinasaan dan kedurhakaan, sampai-sampai Rasulullah sendiri bersabda: “Telah binasalah umat manusia.” Sabda Rasulullah ini terucap karena para pengikut beliau tidak mentaati perintahnya.

Begitulah cara Ummu Salamah mencintai suaminya Abu Salamah, mencintai Salamah, dan mencintai Rasulullah, serta mencintai umat Islam dengan menyelamatkan mereka dari kebinasaan yang hampir benar-benar terjadi. Dan, begitulah juga bagaimana Rasulullah mencintai Ummu Salamah serta mempercayainya untuk memusyawarahkan masalah yang sempat menimpa kaum muslimin. Rasulullah menerima idenya di saat kaum muslimin berada di puncak kehancuran. []

0 Responses: