
Majalah Cerdas edisi 3 (Januari-Februari 2010; PT JePe Press Media Utama, Surabaya) mengambuil tema harap Tenang UNAS Dilanjutkan. Membahas berbagai hal tentang Unas 2010 yang tetap masih dilakukan walaupun banyak pihak meminta tidak dilanjutkan. Ulasan lain adalah wawancara dengan Sekretaris BSNP Terkait Soal-Soal UASBN dan UN; Jadwal UN Utama, Susulan dan Ulangan bagi SMP/MTS/SMPLB dan SMA/MA/SMALB; Permendiknas Nomor 84/2009 Soal Revisi Permendiknas Nomor 75/2009. []
30 April 2010
Majalah Cerdas Edisi 3 : UNAS Dilanjutkan!
Ratman Boomen 30 April 2010 Comments (0 )
Buku Pendidikan Berbasis Karakter

Membangun Generasi Berkarakter
Judul : Pendidikan Berbasis Karakter
Penulis : Drs. Najib Sulhan, MA
Penerbit: Jaring Pena, Surabaya
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : viii + 184 halaman
Ada berbagai pertanyaan yang muncul saat kita melihat tawuran pelajar atau mahasiswa. Salah satunya adalah, kenapa orang yang berpendidikan kok malah melakukan tindakan yang tidak terdidik? Apa yang salah dengan pendidikan? Jika ada yang salah dengan pendidikan kita, lalu apa solusinya?
Berbagai seminar, kajian, lokakarya, dan penelitian pun dilakukan oleh para pakar untuk menjawab persoalan tersebut. Berbagai pandangan masyarakat umum pun mengemuka. Benang merah yang dapat ditarik dari persoalan tersebut: karena pendidikan mengutamakan angka-angka akademis semata dan meninggalkan akhlak.
Selain itu, juga tidak adanya sinergisitas antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di keluarga. Pendidikan sekolah hanya terjadi di ruang-ruang kelas. Dan selain ruang kelas dirasa bukan ruang pendidikan, akhirnya, pendidikan hanya menempati “pojok” masyarakat kita dan tidak holistik. Pendidikan hanya mengejar angka dan semata menjadi tanggung jawab sekolah. Orangtua yang “memiliki” anak dan hampir 24 jam berinteraksi dengan anaknya, banyak yang merasa tidak perlu mendidiknya di rumah. Benarkah demikian?
Menyadari hal tersebut, dunia pendidikan akhir-akhir ini menyuarakan pendidikan karakter. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pun menyampaikan bahwa Presiden SBY mencanangkan Pendidikan Berbasis Karakter pada 2 Mei 2010. Menyambut itu, penerbit Jaring Pena telah menerbitkan buku Pendidikan Berbasis Karakter; Sinergi antara Sekolah dan Rumah dalam Membentuk Karakter Anak.
Buku karya praktisi dan tokoh pendidikan, Drs. Najib Sulhan, MA ini merupakan buku yang menyajikan ulasan bagaimana pendidikan berbasis karakter dibangun dan direalisasikan. Dengan bahasa yang enak dan struktur yang jelas, konsep pendidikan berbasis karakter mudah dipahami dan dilaksanakan. Buku setebal 184 halaman ini terbagi dalam 5 bab. Bab 1 tentang Pilar Dasar Pendidikan Berbasis Karakter. Bab 2 tentang Memahami Konsep Belajar di Sekolah. Bab 3 tentang Mengoptimalkan Kecerdasan Majemuk. Bab 4 tentang Strategi dalam Pembentukan Karakter. Bab 5 tentang Sekolah dan Orangtua Satu Bahasa. Berbagai contoh praktis di dalamnya memperjelas uraian dan aplikasi di lapangan.
Penulis dalam bagian awalnya menyampaikan tiga pilar pendidikan berbasis karakter sebagai pijakannya. Ketiga pilar itu memadukan potensi dasar anak yang selanjutnya bisa dikembangkan. Pilar pertama, membangun watak, kepribadian atau moral. Pilar kedua, mengembangkan kecerdasan majemuk. Pilar ketiga, kebermaknaan pembelajaran. Ketiga pilar tersebut ditampilkan dalam “rumah karakter” sebagai bangunan pendidikan berbasis karakter yang meliputi pondasi, tiang, dan atap. Agar ketiga pilar itu kokoh dan berjalan dengan baik, maka perlu ada kontrol, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.
Pilar pertama mengacu pada perilaku (akhlak) yang mulia, misalnya yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Beliau menjadi model atau idola perilaku mulia anak didik, guru, dan orangtua. Pilar kedua mengacu pada prinsip bahwa semua anak itu cerdas. Setiap anak memiliki keunikan dan kecerdasan yang berbeda-beda (multiple intelligence) seperti ditawarkan oleh Prof. Howard Gardner. Kecerdasan masing-masing itulah yang dikembangkan. Ada anak yang cerdas musik, cerdas logik-matematik, cerdas visual-spasial, cerdas kinestetik, cerdas linguistik, cerdas interpersonal, cerdas intrapersonal, dan cerdas natural. Pilar ketiga mengacu pada proses pembelajaran yang bermakna, yaitu yang memberikan nilai manfaat untuk menyiapkan kemandirian anak.
Konsep pendidikan karakter yang digagas penulis juga mensinergikan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Peran orangtua di rumah adalah sama sebagaimana guru di sekolah dalam hal mendidik anak. Kesalingpahaman dan kerjasama dalam mendidik anak menjadi syarat terciptanya pendidikan berbasis karakter. Mengapa? Karena, apalah jadinya jika karakter yang dibangun sekolah diruntuhkan oleh orangtua, atau sebaliknya.
Membaca buku Pendidikan Berbasis Karakter seolah “membaca diri” dan membaca cermin dunia pendidikan kita, baik kita sebagai guru, orangtua, maupun anak didik. Jika kita ingin bersama-sama membangun generasi Indonesia yang berkarakter, buku ini harus dibaca. Jangan lupa, dilaksanakan! Siap? []
Ratman Boomen Comments (2 )
24 Maret 2010
Buku Problem Besar NU Pasca Gus Dur

Apa yang ada di pikiran Anda saat mendengar kata “NU”? Mungkin sebagian besar akan terbayang wajah Gus Dur, kiai nyentrik yang juga mantan presiden itu. Atau, Anda membayangkan sebuah ormas Islam terbesar di negeri ini dengan kultur yasinan, tahlilan, dan istighatsah-nya.
NU memang ormas Islam terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai sekitar 50 hingga 50 juta orang dari 200-an juta penduduk Indonesia. Kiprah NU sebagai ormas Islam yang juga pernah menjadi sebuah partai politik sangat signifikan dalam percaturan berbangsa dan bernegara. Tokoh-tokohnya pun banyak yang berperan penting dan diakui baik nasional maupun internasional. Warga Nahdliyin di tingkat bawah pun memiliki peran yang tak bisa dinafikan.
Namun, di balik “kebesaran” itu, apakah NU tak punya kelemahan, kekurangan, juga tantangan dan ancaman? Apalagi setelah ikon besar NU selama ini, Gus Dur, meninggalkan NU untuk selama-lamanya. Mundzar Fahman, seorang mantan wartawan Jawa Pos, mengulas kekuatan dan permasalahan NU terkini tersebut dalam bukunya: Problem Besar NU Pasca Gus Dur. Berbagai persoalan yang mengemuka di tubuh NU dikupasnya. Salah satu persoalan itu adalah syahwat politik tegangan tinggi para kiai dan tokoh NU. Dengan tingginya syahwat politik itu, akibatnya perseteruan di level politik praktis antar-warga NU acap kali terjadi. Saking sibuknya di arena politik praktis itulah sampai-sampai pesantren dan rumah sakit juga warga Nahdliyin tidak diopeni sungguh-sungguh. NU yang khittah-nya sebagai jam’iyah keislaman-kemasyarakatan, seolah telah “berubah wajah” menjadi organisasi politik-kemasyarakatan. Benarkah demikian?
Buku terbitan Jaring Pena Surabaya (Maret, 2010) ini mengupas banyak hal tentang itu dalam eman bagian: Misi Besar NU, Kekuatan NU, Kelemahan NU, Peluang yang Terbuka bagi NU, Tantangan dan Ancaman NU, dan Apa yang Perlu Dilakukan NU?
Kiranya harus dibaca khususnya oleh para tokoh NU di semua level dan Nahdliyin di pelosok tanah air. Yang bukan orang NU, tentu sangat layak mengkonsumsinya untuk berbagai kepentingan. Mau?
Ratman Boomen 24 Maret 2010 Comments (0 )
Buku Success, Healthy, Happiness

Jika Anda ingin menyetrum diri Anda dengan setrum-setrum kecil tapi bisa membangkitkan, buku Success, Healthy, Happines adalah jawabannya. Ada tiga hal yang sangat didambakan setiap manusia: kesuksesan (success), kesehatan (healthy), dan kebahagiaan (happiness). Sepertinya ketiga hal itu tidak bisa dipisah dan berkurang. Jika salah satu berkurang atau hilang, sepertinya akan ada masalah.
Jika Anda sukses dan sehat tapi tidak bahagia, Anda akan menderita batin. Jika Anda sukses, merasa bahagia tapi sakit-sakitan, Anda akan merepotkan orang lain dan uang Anda bisa ludes untuk sekadar berobat. Jika Anda merasa bahagia, sehat, tapi tidak sukses, Anda tidak bisa berbuat lebih banyak daripada orang yang sukses dan memiliki banyak kesempatan. Mungkin ada yang bilang, “Yang penting bahagia, tidak harus sukses dan sehat, karena banyak orang yang sukses dan sehat tapi tak bahagia.” Benarkah demikian?
Anda boleh tidak sepakat dengan pendapat di atas. Tapi siapapun yang tidak memiliki atau kehilangan salah satu dari tiga hal itu, akan merasa “kurang” dalam hidupnya. Sukses, sehat, dan bahagia adalah hak setiap orang. Tak ada larangan meraihnya. Semua berbakat sukses, sehat, dan bahagia. Semua tergantung siapa? Tergantung orangnya!
Buku karya Ali Murtadlo dan Tatik Suryani (Jaring Pena, Maret 2010)ini membahas tiga dambaan setiap manusia itu layaknya kacang. Ringan, simpel, pendek dan renyah sekali dibaca. Rata-rata satu judul satu halaman saja. Walaupun ringan dan simpel, tapi bisa menyetrum dan menyentil Anda. Dan inilah tujuan buku ini: menyetrum! Agar pembacanya tersengat aliran listrik sukses, sehat, dan bahagia.
Buku yang terdiri atas 3 bagian ini selalu dimulai dengan tes dari masing-masing bagian. Bagian pertama tentang success (sukses). Dimulai dengan Kuis Mental Sukses. Selanjutnya Anda bisa tersengat dengan membaca Tuhan Tak Takdirkan Miskin, Aku Nggak Bakat, Stop Bilang Nasin-Nasib, karena membalikkan kesadaran salah dan konyol yang banyak menjangkiti orang. Dalam bagian ini disuguhkan juga setrum-setrum sukses dalam I’am Possible; Pak Dahlan Bisa Kok; Mulai Kuli, Tidak Usah Gengsi; Cuci Otak Sebersih-Bersihnya; dan lainnya. Kebiasan-kebiasan buruk yang tidak mendukung kesuksesan disentil dalam Kenalilah Pencuri Waktumu, Aduh Nggak Ada Waktu, juga Ceriwis Salah Alamat. Setrum sukses yang lain akan Anda rasakan saat membaca judul-judul selanjutnya.
Di bagian dua, tentang healthy (sehat), Anda akan dites dengan kuis Hidup Sehatkah Kita? Selanjutnya Anda akan diestrum dengan hal-hal yang kelihatannya remeh-temeh dalam keseharian tapi sangat berpengaruh bagi kesehatan. Titip Gorengan Ya!; Maaf Tidak Bisa Sarapan; Sayang Anak Tapi Rokokan; Bapakku Merokok Juga Sehat; Makanmu Kayak Kambing, dan lainnya. Selain itu, Anda juga mempraktikkan kiat sehat seperti The Power of Air Putih; Enzime Friendly, Apa Sih?, dan sebagainya.
Sedang di bagian terakhir tentang happiness (bahagia), Anda akan dites Bahagiakah Anda? Kemudian Anda akan disetrum dengan motivasi bahagia seperti Syukuri What We Have; Everyday is a Great Day; Be Positive; Jaga Terus Antusiasme; A Pleasing Personality; SMS Allah Sebelum Shubuh, dan masih banyak lagi. Bagian terakhir ini adalah puncak dari dua hal sebelumnya: sukses, sehat lalu berbahagia! Bagaimana dengan Anda?
Ratman Boomen Comments (0 )
