Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

07 Februari 2011

MENGACA KEJUJURAN PADA SPION ANGKOT


Oleh: M. Aji Surya, Diplomat RI di Rusia
Dalam buku Moskow-Petersburg-Vladivostok (Jaring Pena, 2010)
Uh…sebutir kejujuran.
Seperti barang yang sangat mahal dan mewah.
Di mananapun. Kapanpun.
Walaupun ada di atas angkot dan bus kota.


Banyak masalah di dunia ini sebenarnya merupakan hal-hal yang tidak perlu terjadi, sekiranya moralitas manusia bisa bertahan pada tingkat yang tinggi. Soal rendahnya tingkat kejujuran contohnya, dapat mengimbas pada hubungan pribadi hingga kehidupan kenegaraan. Semua berpulang kepada pendidikan dan teladan yang ada di lingkungan kita.

Pagi itu, seperti hari-hari lainnya istri saya pergi kuliah ke Institut Bahasa Pushkin. Karena jalanan penuh dengan salju, ia memutuskan untuk naik metro bawah tanah. Rupanya dia tidak berani berzig-zag mengendalikan mobil di atas salju yang terus menggunung setelah semalaman turun tanpa henti. “Saya juga emoh bermacet-ria,” dalihnya.

Saya mengantarkannya ke stasiun metro terdekat. Dan dalam sekejap ia menghilang ditelan bumi. Maklum, menuju stasiun metro di Moskow, para penumpangnya harus masuk ke dalam perut bumi menggunakan eskalator pada kisaran 40 meter. Sebelum kepalanya menghilang, saya lihat tangan mungilnya melambai-lambai. “Tidak perlu dikhawatirkan, toh sudah bisa berbahasa Rusia,” batinku.

Begitu malam ketemu di rumah, ia menceritakan pengalamannya yang menurut hemat saya cukup unik dan menarik. Jadilah perbincangan malam itu cukup seru.
“Bagaimana perjalananmu tadi?”
“Lancar-lancar saja. Dengan metro malah lebih cepat sampainya dibanding naik mobil. Tidak kena macet. Yah, cuma kadang jumlah penumpangnya bejibun. Hampir kayak kereta Jabotabek.”
“Ah masak sih?”
“Ya, tapi tidak ada yang naik sampai atap kereta. Mau kesundul lorong langit-langit apa?” jawab dia sekenanya sambil menyeruput wedang jahe yang dikirim seorang teman dari Jogja.
“Kok begitu penuh, memangnya keretanya jarang-jarang?” tanyaku.
“Hampir tiap tiga menit ada kok.”

Saya jadi teringat, beberapa kali naik kereta metro bawah tanah di Moskow, sungguh menyenangkan. Seolah kita masuk lorong-lorong museum yang sangat indah. Curamnya masuk stasiun metro justru menimbulkan rasa excitement tersendiri. Meskipun kadang sedikit berjejal, namun ada saja yang menarik untuk dilihat. Mulai pakaian masyarakatnya yang bermacam-macam hingga wanitanya yang ehm…, lain dari yang ada di Indonesia. Belum selesai mengagumi satu ornamen di stasiun metro, kereta biasanya sudah datang. Maklum, sekitar 7 juta penumpang mengandalkan kereta bawah tanah ini, seperti tikus-tikus dengan lorong-lorongnya yang unik.

“Keluar metro langsung nongol di kampus?”
“Kebetulan tidak, harus naik angkutan umum jalan raya.”
“Naik bus, trem atau angkot?”
“Naik angkot. Bayarnya 25 rubel, atau kurang dari satu dolar AS,” jawabnya.
“Apa yang menarik dari angkot. Bukannya suka berjejalan juga?”
“Nggak sih. Cuma, satu pelajaran yang saya dapatkan dari naik angkot adalah mengenai kerjasama dan kejujuran.”

“Hah, ada-ada saja. Jangan terlalu ngacau ah.”
“Begini ceritanya. Ini mungkin tidak pernah ada di Indonesia. Atau saya yang tidak tahu. Di angkot Moskow ini para penumpangnya seperti bersahabat, meskipun belum pernah kenal. Kerjasama antar-mereka sudah semacam konvensi. Dan, saya pun langsung tune in dengan kerjasama di dalam angkot itu.”
“Maksudnya ikut dorong bersama kalau macet. Begitu maksudmu?” kupingku mulai kupasang lebih baik. Menyelidik apa jawaban yang akan diberikan. Sementara, wedang jahenya tinggal setengah gelas.

“Jadi, penumpang pertama yang masuk duduk di dekat sopir, tidak di tengah atau paling belakang. Sebab, orang tadi rupanya akan sekaligus menjadi semacam kernet.”
“Ah,” ucapku pendek.
“Ini yang saya lihat tadi. Gak tahu kalau di lain waktu. Riil nih saya lihat dengan dua mata saya plus dua kaca mata saya,” sergahnya sambil sedikit emosi.
“Dia memang kernet kaleee,” ejekku.
“Dia penumpang kok. Mahasiswa. Dia duduk persis di belakang sopir. Bisa jadi biar mudah turun. Tapi kemudian dia menjadi semacam kernet, gitu loh,” kata-katanya ketus.

Saya tertawa ngakak, hahaha…. Dalam pikiran ini, penumpang pertama tadi akan teriak-teriak seperti yang ada di Ratu Plaza, sambil gelantungan, “Blok M!Blok M!” Tidak hanya itu, agak aneh juga kenapa penumpang pertama itu tidak duduk sembarangan, sesuka hati. Toh dia membayar, dan penumpang adalah raja. Bisa jadi dia ingin dekat pintu biar gampang turun, tidak melewati orang lain.
“Jangan ketawa dulu,” kata istriku agak tersinggung. “Penumpang tadi bukan sepenuhnya akan jadi kernet seperti di Indonesia, melainkan lebih tepat jadi kondektur dalam tanda kutip. Ia akan menerima uang dari penumpang lain lalu diserahkan kepada sopir. Soalnya di sini tidak ada model kernet seperti di kita,” ujarnya.

“Lalu, apakah ia juga jalan-jalan ke penumpang lain minta uang? Capek amat dong. Dan bagaimana kalau dia turun?”
“Pertama, kalau dia di atas mobil ya itu tadi tugasnya. Menjadi penghubung dengan sang sopir dalam soal finansial di atas kendaraan. Kalau dia turun, ya turun saja. Nanti posisinya akan digantikan oleh yang dekat sopir lainnya.”
“Weleh-weleh. Kok ya ada penumpang disuruh kerja begini,” kataku sambil membenarkan sarung yang sudah agak kedodoran.

“Terus penumpang lainnya juga berkewajiban membantu sang kernet tembak tersebut. Jadi, kalau ada penumpang yang masuk berikutnya, maka ia akan menyerahkan uang kepadanya. Tapi kalau yang datang belakangan, ya dikasihkan depannya, lalu dikasihkan depannya lagi, sampai si “kernet” tadi untuk disampaikan ke Pak Sopir.”
Angkot di kota Moskow ini sebenarnya merupakan alat angkut untuk jarak pendek, khususnya ke dan dari stasiun metro sehingga penumpang tidak perlu jalan kaki terlalu jauh. Angkot ini ukurannya sedikit kecil dari metromini dan kopaja di Jakarta. Penumpangnya maksimal 16 orang. Selain angkot, masih ada trem dan bus listrik.

“Nah uniknya, kalau penumpang yang paling belakang uangnya kebesaran, ya ditukar dulu sesama penumpang, baru secara estafet diberikan ke depannya. Atau kadangkala beberapa orang masuk dan saling menghitung uang, dikumpulkan lalu diserahkan depannya,” kata istriku.
“Bagaimana sopir tahu jumlah uang dan orangnya dong?”
“Jadi kalau yang membayar satu orang dan menyerahkan kepada depannya, ia akan bilang “eto ajin” alias satu orang. Kalau dua orang ya bilang “eto dvuh”. Dan yang diserahi duit juga langsung ngomong ke depannya lagi persis apa yang didengar dari belakang, “eto ajin” atau “eto dvuh”.
“Enak dong sopirnya.”
“Ya begitulah. Dia tinggal terima uang saja. Menoleh pun tidak. Dia percaya saja dengan uang yang diterima. Mau berapapun jumlahnya.”
“Walah-walah…apa tidak ada yang ngemplang kalau begitu?”
“Itu yang saya tidak tahu. Tetapi secara teori akan sulit, sebab ketika masuk dan duduk, kewajibannya adalah menyampaikan uang bayaran kepada depannya. Kalau dia diam saja, kan semua penumpang pasti akan bertanya-tanya, kok belum bayar. Inilah yang saya bilang kebersamaan dan kejujuran tadi.”

Ya, kebersamaan dan kejujuran. Gotong royong dan tanpa pamrih. Dua konsep kehidupan manusia yang selalu diajarkan oleh leluhur kita, oleh agama apapun dan dalam budaya manapun. Sesuatu yang universal dan dapat dipastikan manfaatnya. Tanpa kebersamaan, apalah artinya sebuah keluarga. Apalah jua artinya sebuah bangsa. Tanpa kejujuran, yang ada pasti saling tipu dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Akhirnya hancurlah peradaban manusia akibat exploitation de l’homme par l’homme atau istilah kita TMT (teman makan teman).

Saya jadi teringat anak tetangga yang masih kelas empat SD disebut-sebut sebagai anak cerdas dan pandai. Matematikanya selalu dapat 9 atau 10. Suatu ketika saya marahi karena menyeberang jalan raya tidak di zebra cross, sebab berbahaya. Tidak tahunya si pandai ini malah melotot sambil bilang begini, “Om, aturan itu untuk dilanggar. Kalau gak ada yang melanggar, nanti polisi kerjanya apa dong!”
“Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu,” sergahku.
“Babe saya sering bilang gitu.”
“Asem tenan,” pikirku.

Apa jadinya bila konsep-konsep tentang etika mulia atau akhlakul karimah tidak dipahami dan dipraktikkan sejak dini. Itu kan sama saja bilang, “Buang aja sampah di sembarang tempat, sebab kalau tidak begitu nanti tukang sapu nganggur.” Suatu cara pikir yang ngawur dan menghambat kemajuan kehidupan.
Tidak lama setelah istri saya cerita tentang kebersamaan dan kejujuran di dunia angkot Moskow itu, saya chatting dengan mahasiswa al-Azhar Kairo. Dia ini sering ngobrol dan sharing banyak hal dengan saya. Mulai urusan kuliah hingga masalah keluarganya.

Tiba-tiba saja ia nyeletuk, “Mas, kalau urusan kejujuran, di Kairo tempatnya.”
“Ah masak. Bukannya Kairo itu sebutannya nārun (neraka) dan nūrun (surga),” jawabku melalui laptop jadul.
“Eh gak percaya sampeyan,” katanya.
“Jelas dong. Dimana itu kejujuran ada. Ceritakan!”
“Ada Mas, DI DALAM BUS,” jawabnya tegas menggunakan huruf kapital.
“Hah? Copet jujur?”
“Bukan itu. Soal bayaran.”
“Gimana tuh?”
“Mas waktu itu sempat naik bus sama saya di Kairo kan?”
“Ya. Lalu?”
“Mas gak tahu bayar karcisnya saya titipkan ke penumpang lain.”
“Hah?”
“Iya. Kita kan duduk di belakang. Jadi duit kita berdua saya sampaikan ke penumpang depan saya sambil bilang ‘itsnain’ yang artinya dua orang.”
“Bukannya saat itu berjejalan?”
“Ya, uang itu jalan sendiri sampai sopir dan kembaliannya sampai ke tangan saya tidak kurang sedikit pun.”
“Ah masak?” Saya masih tidak percaya.
“Bener. Ini sudah jadi kebiasaan. Ini soal kejujuran. Ini soal moralitas. Ini soal kredibilitas sebagai makhluk Tuhan,” jawabnya di laptop saya, nerocos.
“Gile cing!”
“Jadi meskipun bus berisi 60 orang, sejauh ini tidak perlu yang namanya kondektur dan kernet.”
“Ck ck ck ck. Luar biasa,” batin saya.

Kejujuran dan kebersamaan yang dibangun atas nilai-nilai budaya, tradisi ataupun agama ternyata dapat menciptakan efisiensi. Mengurangi pemborosan. Hidup menjadi simple, enteng dan semua senang. Lalu muncul pula apa yang disebut dengan social responsibility. Tidak usah dikejar-kejar sudah secara otomatis akan melakukannya. Tidak perlu di halo-halo, gotong royong jalan. Tidak perlu didemo, kebenaran diungkapkan.

Itulah pentingnya mengapa seorang nabi harus diturunkan ke muka bumi, agar memperbaiki akhlak dan budi pekerti manusia. Bukan untuk siapa-siapa, ujung-ujungnya juga demi ketenteraman hidup manusia sendiri. Makanya para nabi yang dipilih oleh Tuhan itu bersedia menjalani hidup di dunia dengan menerima caci maki bahkan penghinaan fisik demi tegaknya nilai-nilai akhlak. Para nabi, selain pandai mengajarkan akhlak juga selalu siap menjadi contoh alias suri teladan. Uswatun hasanah istilahnya.

Sialan betul. Tiba-tiba ada pertanyaan yang menggelayut dalam pikiran ini dan lama sekali saya tidak mendapatkan jawabannya. Sudah bertanya kanan kiri, eh malah diketawain. Mau tau pertanyaan itu? “Nabi siapa yang mengajarkan penduduk Moskow melakoni nilai-nilai kejujuran di atas angkot?”
Sebelum saya bertanya pada rumput yang penuh salju, mungkin diantara pembaca ada yang bisa membantu saya. Saya ucapkan spasiba alias terima kasih. []

0 Responses: