Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

06 November 2010

Museum 10 November Surabaya


Museum 10 November ini berada di kompleks Tugu Pahlawan Surabaya. Tepatnya di sebelah utara tugu. Jika kita masuk dari arah pintu utama di selatan, untuk menuju museum terus saja jalan ke utara melewati tugu. Kita akan melihat 3 atap bangunan berbentuk prisma segi empat atau tumpeng segi empat berjejer. Bangunan atap yang terbesar ada di tengah. Bentuk ketiga bangunan prisma tersebut tersusun dari 3 bagian yang bertingkat ke atas yang masing-masing berbentuk prisma juga. Bagian paling bawah terbesar, bagian tengah lebih kecil, dan puncaknya paling kecil. Dua tingkat paling atas terbuat dari susunan kaca. Banguna prisma inilah museum tersebut.

Letak museum ini cukup unik pula. Ketiga bangunan prisma itu tampak tertanam dan menyembul dari bawah tanah. Ya, memang museum ini lantai dasarnya dibuat turun di bawah tanah sehingga lantai dua dan atapnya tampak berada di permukaan tanah. Saat kita hendak masuk, batu berukuran besar nongkrong dengan gagahnya menghadang kita. Di batu itu tertulis: “Padamu generasi: Tanpa pertempuran Surabaya, sejarah bangsa dan Negara Indonesia akan menjadi lain.” Sebuah penegasan bahwa pertempuran Surabaya memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Pintu masuk museum turun ke bawah tanah. Di pintu masuk inilah pengunjung membeli tiket sebesar 1000 rupiah. Sangat murah, kan? Nah, di ruang pintu masuk terdapat prasasti peresmian museum. Ternyata Museum 10 November baru diresmikan 19 Februari 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid alias Dus Dur. Padahal, museum sejarah ini dibangun mulai 10 November 1991 dan baru difungsikan pada 10 November 1998.

Memasuki museum, kita akan disuguhi diorama sepanjang jalan masuk yang turun ke bawah. Di tembok jalan masuk terpampang nama-nama pahlawan yang tertulis dalam lempeng tembaga. Sampai di lantai dasar, kita akan melihat foto-foto pertempuran 10 November di Surabaya. Terdapat pula diorama suasana arek-arek Suroboyo saat mendengarkan pidato heroik Bung Tomo di radio yang bersejarah itu. Tampak pula satu foto tokoh Surabaya bernama Cak Durasim yang memiliki parikan perjuangan: “Bekupon omahe doro, melu Nippon tambah soro” (Bekupon rumahnya burung dara, ikut Nippon tambah sengsara). Siapakah Cak Durasim? Dia seorang tokoh perjuangan Surabaya pada masa pendudukan Jepang yang berjuang melalui seni ludruk. Sebuah seni pertunjukan khas Surabaya atau Jawa Timur. Di tengah-tengah ruangan ada patung pertempuran arek-arek Suroboyo. Di dalam museum ini pula tampak oleh saya beberapa turis mancanegara. Entah dari negara mana, saya tidak sempat tanya.

Naik ke lantai 2, kita banyak disuguhi dengan diorama statis di ruang utama dan diorama dinamis yang berada masuk di ruang-ruang kamar. Di ruang utama banyak dipajang barang-barang pribadi milik Bung Tomo seperti bendera Iboe Tentara Pemberontakan Poesat Jawa Timur (tentu pemberontakan Bung Tomo terhadap penjajah), pisau belati dan senapan Bung Tomo, radio Bung Tomo, bahkan tulisan tangan Bung Tomo. Tulisan tangan dengan pensil ini tampak masih jelas sekali terbaca. Di sisi lain tampak berbagai macam senapan laras pendek dan laras panjang yang digunakan para pejuang. Senapan itu ada juga yang merupakan hasil rampasan dari penjajah. Ketika saya mencoba mengangkat, wah cukup berat juga. Di ruang diorama statis, kita akan menyaksikan diorama yang disertai suara musik dan pidato perjuangan serta lampu berwarna. Jadi lebih hidup suasana dioramanya. Selain itu, mulai 10 November 2010, rencananya mobil milik Bung Tomo yang selama ini ada pada anak Bung Tomo (Bambang Sulitomo) akan dihibahkan ke museum ini. Mobil sedan Opel model lama.

Setelah puas menikmati museum, kita bisa keluar melewati pintu keluar. Nah, di jalur keluar ada tempat yang menjual pernak-pernik Tugu Pahlawan dan kerajinan bertema Surabaya. Contohnya, kaos bergambar Tugu Pahlawan dan kota Surabaya, papan berlogo Suro-Boyo, replika kapal, dan sebagainya. Saya pun membeli papan berlogo kota Surabaya untuk di pajang di bifet rumah sebagai kenang-kenangan. Maklum, karena saya tinggal di Surabaya. Inilah foto-fotonya.











0 Responses: