Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

02 Januari 2009

Pintu taubat Terbuka

Pintu Taubat Terbuka


Ibnu al-Qaim –rahimahullâh– berkata: "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia akan membukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan, rasa bersalah, hina, membutuhkan, meminta pertolongan kepada-Nya, keinginan kembali kepada-Nya, rendah diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal kebaikan. Dosa itu tidak menjadi sebab turun rahmat-Nya, hingga musuh Allah berkata: "Andai aku meninggalkannya dan tidak melakukannya." Inilah maksud dari nasehat beberapa ulama salaf: "Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa, kemudian dia masuk surga karenanya. Dan dia melakukan kebaikan, kemudian masuk neraka karenanya." Mereka berkata: "Bagaimana bisa demikian?" Dijawab: "Dia melakukan dosa, dan senantiasa dirinya merasa takut berbuat dosa, rindu, menangis, menyesal, dan malu kepada Tuhannya, menundukkan kepala di hadapan-Nya, dan bersikap rendah hati. Maka, dosa itu lebih bermanfaat baginya daripada ketaatan-ketaatan, dan mengantarkannya kepada kebahagiaan hingga dosa tersebut menjadi penyebab dia masuk surga."17

Sungguh Allah –dengan kemuliaan dan kebaikan-Nya– telah membuka pintu taubat, karena Dia memerintahkan untuk itu. Dia menganjurkan taubat dan berjanji untuk menerima taubat, baik dari orang-orang kafir, musyrik, munafik, murtad, penyeleweng, ateis, zhalim, dan orang-orang yang durhaka. Di bawah ini dijelaskan satu per satu di antara karunia Allah dalam membuka pintu taubat.18

1. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk bertaubat dalam firman-Nya surat az-Zumar ayat 55:

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya." (Q.S. az-Zumar : 55)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: "Kembalilah kepada Allah, menyerahlah kepada-Nya. Bersegeralah untuk bertaubat, melakukan amal yang saleh sebelum datang siksa."

2. Sesungguhnya Allah berjanji untuk menerima taubat, meskipun dosa itu besar. Dia berfirman dalam surat asy-Syûrâ ayat 25:

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. asy-Syûrâ: 25)

3. Sesungguhnya Allah memperingatkan sikap putus asa dari rahmat-Nya. Dia berfirman dalam surat az-Zumar ayat 53:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. az-Zumar : 53)

Ibnu Katsir berkata: "Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas r.a. menafsirkan ayat ini: 'Allah menyeru –agar meminta ampun– kepada orang yang mengklaim bahwa al-Masih (Nabi Isa) adalah Allah, orang yang mengklaim bahwa al-Masih adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Uzair adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Allah itu fakir, orang yang mengklaim bahwa 'Tangan' Allah terbelenggu, dan orang yang mengklaim bahwa Allah adalah ketiga unsur dalam trinitas.'" Allah berfirman dalam surat al-Mâ'idah ayat 74:

"Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Mâ'idah : 74)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan ayat di atas sebagai berikut: "Maksud ayat dari surat az-Zumar tersebut adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meski dosa-dosa yang dilakukannya besar. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat Allah." Oleh karenanya, beberapa ulama salaf berkata: "Fakih yang benar-benar fakih adalah dia yang tidak membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah dan tidak menjerumuskannya ke dalam maksiat."

4. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membentangkan 'Tangan-Nya' di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan 'Tangan-Nya' di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di malam hari. Rasul saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membentangkan 'Tangan-Nya' di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan 'Tangan-Nya' di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berbuat dosa di malam hari hingga matahari terbit dari barat." (Diriwayatkan oleh Muslim)

5. Sesungguhnya Allah memberikan pahala yang besar dan menjanjikan karunia yang melimpah bagi orang bertaubat. Beberapa orang bijak berkata: "Maksiat setelah maksiat adalah balasan dari maksiat. Kebaikan setelah kebaikan adalah pahala dari kebaikan. Barangkali balasan yang disegerakan di dunia sifatnya implisit (ma’nawi)." Beberapa pemuka Bani Israil berkata: "Wahai Tuhanku! Betapa banyak aku mendurhakai-Mu, sedangkan Engkau tidak membalasku." Allah menjawab: Berapa banyak Aku membalasmu, tetapi kamu tidak tahu akan hal itu? Bukankah Aku telah mengharamkanmu dari manisnya kedekatan dengan-Ku?"
Ibnu al-Jauzi berkata: "Bagi seorang yang berakal harus berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan. Sesungguhnya api kemaksiatan itu di bawah abu neraka. Siksa itu bisa jadi datang terlambat dan bisa jadi datang dengan segera."

6. Putus asa dari rahmat Allah. Di antara manusia ada orang yang ketika berlebihan dalam melakukan maksiat atau taubat berkali-kali kemudian melakukan dosa kembali, dia merasa putus asa dari rahmat Allah. Dia mengira bahwa dia adalah orang yang ditakdirkan dalam kesengsaraan. Kemudian dia terus-menerus melakukan dosa dan meninggalkan taubat. Ini adalah dosa besar, bisa jadi lebih besar dari sekedar dosa pertama yang dilakukannya. Karena, sesungguhnya tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir. Maka, hendaknya dia memperbarui taubatnya dan bersungguh-sungguh mendekat kepada Allah hingga dia merasa yakin.

7. Putus asa dari taubat para pelaku maksiat. Di antara manusia ada yang senang dengan kebaikan, nasehat, dan cinta membangun. Dia tampak bersungguh-sungguh dalam menyeru kepada para pelaku maksiat dari segala latar belakang. Ketika dia menemukan seseorang yang mengelak dari nasehat, menolak kebaikan dan terus-menerus melakukan dosa, dia merasa putus asa untuk meluruskan mereka ke jalan hidayah dan mengurangi memberi nasehat kepada mereka. Dia berpikir barangkali Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan mereka jalan yang benar. Berapa banyak manusia yang terus-menerus melakukan kelaliman dan kriminalitas –hingga mereka dikira akan meninggal dalam keadaan seperti itu– kemudian Allah meniupkan sepercik hidayah sehingga mereka termasuk golongan orang-orang yang mulia dan terpilih?

Umat yang kembali ke jalan kebajikan, sungguh-sungguh bertaubat dan kembali kepada Allah, maka Allah akan membuka pintu taubat bagi mereka, mengangkat derajat mereka, mengembalikan kemuliaan mereka, menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran dan kesulitan akibat dosa yang mereka lakukan, kemungkaran yang mereka sebarkan dengan latah, kefasikan, kesyirikan, bid’ah dan hukum yang tidak Allah turunkan, dan juga akibat dari keberpihakan terhadap musuh-musuh Allah, menyelewengkan dakwah Islam, amar ma'ruf nahi munkar, dan lain sebagainya yang menyebabkan mereka pantas mendapatkan siksa dan laknat.
Jika umat tersebut bertaubat kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan mereka kebahagiaan hidup, memberikan mereka kekuasaan dan kekuatan, memberikan keamanan, dan memantapkan keberadaan mereka di bumi. Allah berfirman dalam surat an-Nûr ayat 55:

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (Q.S. an-Nûr : 55)

Pembaca yang budiman, amal perbuatan berjalan dan hari-hari berlalu. Umur semakin pendek dan ajal semakin dekat. Manusia tidak tahu kapan ajal menjemputnya. Seorang penyair berkata:

Anak kecil menjadi remaja dan orang tua mulai meninggal
Sebagaimana malam pergi dan sore pun tiba
Ketika malam berganti malam
Datanglah setelah itu hari yang muda
Kita pergi dan beranjak memenuhi kebutuhan kita
Dan kebutuhan orang hidup yang tidak terpenuhi

Taubat dari segala dosa wajib hukumnya dilakukan seketika, baik yang kecil maupun yang besar. Imam Nawawi –rahimahullâh– berkata: "Ulama sepakat bahwa taubat dari segala kemaksiatan wajib hukumnya dilakukan seketika. Tidak diperbolehkan menunda-nunda taubat, baik taubat dari kemaksiatan ukuran kecil maupun besar." []

_______________
17 Lihat Syeikh Abdul Aziz al-Muhammad as-Salman, Mawârid azh-Zham`ân li Durus az-Zaman, jilid I, hlm. 46.
18 Lihat Muhammad Ibrahim al-Hamad, At-Taubah Wazhifat al-‘Umr, Dar Ibn Khuzaimah, Riyadh, 1421 H, cet. I, hlm. 33.


0 Responses: