Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

02 Januari 2009

Taubat yang Diterima

Taubat yang Diterima


Taubat yang diterima Allah terbagi menjadi dua bagian, yaitu:20
1. Rahmat Allah kepada hamba-Nya untuk bertaubat sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 118:

"Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya." (Q.S. at-Taubah : 118)

Maksudnya: menolong mereka untuk bertaubat, kemudian mereka bertaubat.

2. Allah menerima taubat dari hamba-Nya, sebagimana firman Allah dalam surat Thâhâ ayat 82:

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (Q.S. Thâhâ : 82)

Yaitu: taubat dari seorang hamba dengan kembali kepada Allah, ikhlas untuk ridha-Nya dengan cara meninggalkan kemaksiatan, menyesal melakukan dosa, berkeinginan keras untuk tidak kembali ke jalan maksiat, dan taubatnya itu pada waktunya yang tepat.

Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama dia belum sekarat." (Diriwayatkan oleh at-Turmudzi, Ibnu Majah, dll.)

Artinya, ketika dalam keadaan sekarat, ruh telah sampai pangkal tenggorokan dan tampak jelas kemuliaan atau kehinaan seseorang, –pada saat itu– taubat maupun iman sudah tidak bermanfaat. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ghâfir ayat 85:

"Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (Q.S. Ghâfir : 85)

Dan firman Allah dalam surat an-Nisâ' ayat 18:

"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.' Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati, sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (Q.S. an-Nisâ' : 18)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. dari Nabi saw. bersabda:

Sesungguhnya setan berkata: 'Wahai Tuhanku, demi keperkasaan-Mu aku akan selalu menggoda mereka selama ruh masih menempel pada jasad mereka.' Allah ‘azza wa jalla menjawab: 'Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku akan selalu mengampuni mereka selama mereka meminta ampun.'" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan di-shahîh-kan oleh al-Albani)

Jika taubat diterima sebelum datangnya kematian meski hanya terpaut waktu sedikit, maka terkabulnya taubat pada waktu jauh sebelum ajal tiba lebih diprioritaskan. Allah berfirman dalam surat al-A’râf ayat 156:

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (Q.S. al-A’râf : 156)

Allah berfirman dalam surat asy-Syûrâ ayat 25:

"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. asy-Syûrâ : 25)

Allah berfirman dalam surat Thâhâ ayat 82:

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat." (Q.S. Thâhâ : 82)

Allah berfirman dalam surat ar-Rûm ayat 47:

"Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (Q.S. ar-Rûm : 47)

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a. berkata: Aku membonceng Nabi saw. di atas keledai, kemudian Nabi bersabda: "Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-Nya? Dan apa hak hamba kepada Allah?" Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi berkata: "Hak Allah atas hamba-Nya adalah hendaknya hamba tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan hak hamba kepada Allah adalah Allah tidak menyiksa hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Allah memberikan karunia kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki dan menolongnya dalam beramal. Dia memberi karunia kepada hamba-Nya dengan menerima amal kebaikannya dan memberikan balasan atas amalnya. Oleh karenanya, Allah memberi nama balasan atas amal tersebut dengan nama 'pahala' (ajr). Allah berfirman dalam surat Âli ‘Imrân ayat 179:

"Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar." (Q.S. Âli ‘Imrân : 179)

Sebagaimana Allah memberi nama 'sedekah' (ash-shadaqah) dengan 'pinjaman' (qardh). Allah berfirman dalam surat al-Hadîd ayat 18:

Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul- Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.”

Allah menyebut sedekah sebagai pinjaman adalah sebagai penghormatan dan kebaikan atas hamba-Nya. Allah mengharuskan Dzat-Nya untuk memberi pahala bagi orang yang melakukan amal saleh. Seorang penyair berkata:

Bagi hamba tak ada hak yang wajib atas Dzat-Nya
Sekali-kali tidak, tak ada amal yang sia-sia di hadapan-Nya
Jika mereka disiksa, maka itulah keadilan-Nya
Dan jika mereka diberi nikmat, itu karena karunia-Nya
Dialah Yang Mahamulia lagi Mahaluas

Amal saleh menjadi sebab masuk surga. Dan, masuk surga itu karena rahmat-Nya. Allah telah mewajibkan atas Dzat-Nya untuk memberikan rahmat. Oleh karenanya, Rasul saw. bersabda: "Salah seorang di antara kamu tidak akan masuk surga karena amalnya." Mereka bertanya: "Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?" Rasul berkata: "Tidak juga aku, kecuali jika Allah memberikan rahmat dan karunianya kepadaku." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullâh– berkata: "Setiap orang yang beriman harus melakukan taubat. Tak seorang pun sempurna kecuali dengan taubat." Ibnu Taimiyah juga berkata: "Taubat bukanlah sebuah kekurangan, tetapi taubat adalah semulia-mulianya kesempurnaan. Allah telah memberitahukan kepada kita berita tentang para nabi yang melakukan taubat dan meminta ampun; tentang Nabi Adam, Ibrahim, Musa, dan yang lainnya."
Dikatakan bahwa maksiat yang membawa penyesalan dan rasa rendah diri itu lebih baik daripada ketaatan yang membawa kesombongan dan kecongkakan. Setiap pelaku dosa itu tak lain karena dia tidak tahu, lalai, dan kurang bijak. Setiap dosa kepada Allah itu timbul karena ketidaktahuan, baik pelakunya adalah orang yang ’alim maupun orang yang bodoh, orang yang ingat maupun yang lupa, sengaja maupun tidak sengaja, dalam keadaan dapat memilih ataupun terpaksa. Hal itu berdasarkan firman Allah yang artinya:

"Bagi orang-orang yang melakukan keburukan karena ketidaktahuan." (Q.S. an-Nisâ' : 17)

Ibnu Taimiyah –rahimahullâh– berkata: "Orang yang mendurhakai Allah adalah orang yang bodoh, apapun itu keadaannya. Dan orang yang taat kepada-Nya itu karena dia tahu." Oleh karenanya, Allah berfirman dalam surat Fâthir ayat 28:

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." (Q.S. Fâthir : 28)

Setiap orang yang ’alim akan merasa takut kepada Allah. Orang yang tidak takut kepada Allah, maka dia tidak termasuk golongan ulama, tetapi termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu. Ibnu Mas’ud r.a. berkata: "Cukuplah takut kepada Allah sebagai pengetahuan, dan cukuplah mendurhakai-Nya sebagai ketidaktahuan." Seseorang berkata kepada asy-Sya’bi: "Wahai orang yang berilmu!" asy-Sya’bi menjawab: "Orang ’alim yang berilmu hanyalah orang yang takut kepada Allah."
Wahai hamba Allah, segeralah bertaubat karena Allah telah berfirman dalam surat an-Nisâ' ayat 17:

"Kemudian mereka bertaubat dengan segera." (Q.S. an-Nisâ' : 17)

Maksudnya adalah sebelum ajal menjemput. Jika manusia tidak tahu kapan ajal menjemput, maka dia harus berusaha mati dalam keadaan telah bertaubat agar dia tidak mati dalam keadaan berdosa, atau dengan kata lain dia selamanya tinggal dalam kemaksiatan.

Rasulullah saw. berkata kepada Abdullah bin Umar r.a.: "Jadilah kamu di dunia seakan-akan sebagai orang asing atau orang yang melintasi jalan."

Pembaca yang budiman, diterima atau ditolaknya taubat tergantung pada ketetapan dan kehendak Allah. Tetapi, syarat-syaratnya yang telah disinggung sebelumnya harus dipenuhi, yaitu: meninggalkan maksiat, menyesal melakukan maksiat, dan berkeinginan keras untuk tidak kembali melakukan maksiat. Jika berhubungan dengan hak-hak adami, syarat tersebut ditambah dengan: menunaikan hak orang yang disalahi, atau sesuatu yang menyamai hak tersebut, meminta maaf dan kerelaannya dengan ketulusan tanpa ada unsur paksaan. Oleh karena itu, bertaubatlah dengan taubat yang sebenar-benarnya sebelum engkau meninggal, sebelum mulut ditutup, dan nyawa dicabut. Karena, sesungguhnya taubat adalah harta karun bagi orang-orang yang mau kembali. []

________________
20 Lihat Dr. Sulaiman Ibrahim al-Lahim, At-Taubah wa Syurûthuhâ wa min Man Tuqbal wa Matâ?, Dar ash-Ashimah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Riyadh, 1424 H, cet. I, hlm. 6.

0 Responses: