Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

15 Desember 2008

Pengantar Buku Ilmuwan-Ilmuwan Muslim

Sebuah Pengantar


Warisan Emas
dari Kemilau Peradaban


"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
(Q.S. Al 'Alaq: 1-5)



Sejarah mencatat bahwa kecemerlangan peradaban Islam mencapai pengaruhnya yang luar biasa. Islam yang hadir sebagai minhajul hayah (sistem dan pedoman hidup) telah merubah wajah dunia dengan melahirkan manusia-manusia yang tunduk kepada Allah sekaligus memakmurkan bumi-Nya. Sejak keutusan Nabi Muhammad saw. hingga zaman setelahnya, dunia yang tadinya dipenuhi kegelapan kejahiliyahan, lalu terbuka dengan cahaya iman dari panduan Alquran. Hingga sampailah suatu periode yang disebut oleh para sejarawan dengan Zaman Keemasan Perdaban Islam. Muncullah ilmuwan-ilmuwan muslim yang mempengaruhi tidak hanya dunia Islam, tapi juga Asia, Afrika, dan Eropa: Timur dan Barat. Ketika Eropa berada di Zaman Kegelapan (Dark Age) pada abad pertengahan, peradaban Islam justru dalam kemilau peradabannya. Memang, sebuah peradaban tak bisa berdiri sendiri tanpa pengaruh peradaban lain, tapi tentu ada benang merah dan orisinalitas bagian-bagiannya yang khas miliknya, termasuk peradaban Islam kala itu.

Maka benarlah, dan tak berlebihan (walaupun mungkin ada beberapa hal yang tidak sepakat) apa kata George Sarton, seorang sejarawan terkemuka, dengan pernyataan dalam bukunya Introduction to the History of Science bahwa:

"Orang-orang Muslim berada di atas bahu para pelopor Yunani sebagaimana orang-orang Amerika berdiri di pundak-pundak orang Eropa … bahasa Arab merupakan bahasa sains internasional, sedemikian hebatnya sehingga tidak akan dapat ditandingi oleh bahasa lain kecuali bahasa Yunani, dan itu pun tak akan pernah dapat terulang sampai kapan pun. Bahasa Arab bukan merupakan bahasa dari satu kaum, satu bangsa, satu agama, tetapi merupakan bahasa dari beberapa kaum, bangsa, dan agama. Kebudayaan Muslim adalah … dan dalam beberapa hal masih merupakan jembatan utama antara Timur dan Barat … kebudayaan Latin adalah Barat, kebudayaann Cina adalah Timur, tetapi kebudayaan Muslim adalah keduanya … Ia terbentang antara Kristenisme Barat dan Budhisme Timur dan sekaligus menyentuh keduanya."

Kajian ilmiah menjadi tradisi kaum muslimin dalam kehidupan kesehariannya. Maka, berkembang dan majulah berbagai bidang ilmu, mulai dari ilmu Alquran, hadis, fikih, sejarah, filsafat, sastra, kimia, fisika, astronomi, biologi, geografi, matematika, kedokteran, dan lainnya. Dari situ lahirlah, misalnya, para fuqaha yang juga dokter, filosof, dan ahli astronomi. Pun tidak asing para ilmuwan kedokteran, fisikawan, dan filosof yang hafizh Alquran serta hafal kitab-kitab syariah. Tidak dibedakan, apalagi dipisahkan antara fisika dan fikih, Alquran dan perbintangan, karena semua ilmu adalah milik-Nya. Ilmuwan-ilmuwan muslim ketika itu mempunyai kemampuan multidisiplin ilmu, sebuah kemampuan yang tak bisa diremehkan sama sekali.

Bahkan, Baron Carra de Vaux dalam bukunya The Legacy of Islam, setelah di awal ia sinis kepada kaum muslimin, tapi akhirnya harus mengakui dan menyimpulkan bahwa:

"Orang-orang Arab benar-benar telah mencapai sesuatu yang besar dalam bidang ilmu pengetahuan. Meskipun mereka tidak menemukannya, mereka mengajarkan penggunaan tanda-tanda (yakni sistem angka Arab), yang karenanya mereka dapat dipandang sebagai para penemu aritmatika kehidupan sehari-hari. Mereka menciptakan aljabar dan ilmu pasti, mengembangkannya secara luas, dan memberi landasan bagi penemuan trigonometri sferis (spherical trigonometry), yang benar-benar tidak ada di kalangan orang-orang Yunani. Dalam bidang astronomi, mereka membuat sejumlah observasi yang bernilai."

Oleh karenanya, kita bisa menyaksikan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Jabir Ibnu Haiyan, Al Khawarizmi, Ar Razi, Al Kindi, Al Battani, Al Jahiz, Ibnu Haitsam, Ibnu Rusyd, Az Zahrawi, Al Zarqali, Ibnu Sina, Ibnu Nafis, Umar Khayyam, Ibnu Khaldun,dan sekian banyak ilmuwan yang karya-karya ilmiahnya memenuhi perpustakaan-perpustakaan besar di zamannya dan zaman setelahnya, bahkan hingga kini. Merekalah pendahulu dan perintis kemajuan peradaban modern sekarang, diakui atau tidak. Dan kita yang hidup di zaman sekarang, pantas dan haruslah mengetahui mereka serta mengambil pelajaran darinya. Kita pun harus tidak boleh pesimis, bahwa "masa emas" itu bisa kita dapatkan kembali seizin-Nya dengan meneladani semangat mereka dalam beriman, berilmu, dan beramal. Karena, kitalah pewaris yang sebenarnya. Semoga, amin.

untuk ayah, bunda, adik
dan nda
ar royyan dan ustadz

Solo, Mei 2007

Ratman Al Kebumeny

0 Responses: