Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

28 Desember 2008

Syarat-syarat Taubat


Syarat-syarat Taubat


Taubat kepada Allah termasuk salah satu kebaikan yang agung, karena taubat menghilangkan penghalang yang memisahkan antara hamba dan Tuhannya. Penghalang yang berada di dalam jiwa itu merupakan syahwat dan kegemaran jiwa. Sedangkan taubat mengisi jiwa dengan harapan dan mengantarkan hati menuju sumber cahaya. Taubat yang benar tidak akan terwujud hingga syarat-syaratnya yang menunjukkan kejujuran orang yang bertaubat terpenuhi.

Para ulama berkata: "Taubat dari dosa, wajib hukumnya." Jika maksiat antara hamba dan Allah tidak berkaitan dengan hak-hak adami (manusia), maka taubat memiliki tiga syarat, yaitu:

  1. Hendaknya orang yang bertaubat melepaskan diri dari berbuat maksiat.
  2. Hendaknya dia menyesal karena melakukan maksiat.
  3. Hendaknya dia beritikad kuat untuk tidak kembali pada kemaksiatan untuk selamanya.
  4. Jika salah satu syarat tersebut tidak dipenuhi, maka taubatnya tidak sah.

Jika maksiat tersebut berkaitan dengan hak-hak adami, maka taubat yang sah memiliki tiga syarat, yaitu:

  1. Hendaknya dia membebaskan dirinya dan mengembalikan hak kepada saudaranya, jika itu berupa harta atau sejenisnya.
  2. Jika kesalahan itu berupa had, qadzaf atau sejenisnya, maka dia harus membayarnya atau meminta maaf.
  3. Jika kesalahan itu berupa ghîbah, maka hendaknya dia meminta maaf kepada orang yang dia ghîbah.

Hendaknya orang yang berbuat dosa meminta ampun atas segala dosanya. Jika dia hanya meminta ampun sebagian dosanya, maka menurut ulama taubatnya sah atas dosa tersebut, sedangkan dosa lainya masih belum terampuni.15 Allah tidak menerima amal kecuali amal yang disertai dengan keikhlasan dan pengarapan akan ridha-Nya, sesuai dengan perintah-Nya dengan mengikuti ajaran Rasul saw. Hendaknya amal itu disertai rasa ikhlas semata-mata karena Allah dan kejujuran, artinya sebagaimana tuntunan sunnah. Kadang-kadang ada amal yang benar tetapi tidak disertai dengan keikhlasan, sehingga amal tersebut tidak diterima. Kadang-kadang ada juga amal yang disertai dengan rasa ikhlas tetapi tidak benar, maka amal tersebut tidak diterima juga. Di antara doa Umar bin Khattab r.a. adalah: "Ya Allah, jadikanlah amalku semuanya amal yang saleh, jadikanlah amalku ikhlas semata-mata karena Engkau, jangan Engkau jadikan bagi seseorang sedikit pun bagian dari amalku."

Pembaca yang budiman, setelah kita mengenal syarat-syarat taubat hendaknya kita juga mengetahui tanda-tanda diterimanya taubat sebagaimana dituturkan oleh Syeikh Muhamad bin Utsaimin –rahimahullâh:

  1. Lapang dan tenangnya hati.
  2. Mudah untuk taat.
  3. Cinta kebaikan dan benci kejelekan.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya jiwa yang sibuk dengan lezatnya maksiat sangat sedikit keinginannya untuk berbuat baik. Maka, hendaknya hamba yang ingin bertaubat bersungguh-sungguh dalam melepaskan akar-akar kebatilan dalam hatinya, hingga hatinya menjadi bersih dan bening terpancar darinya amal-amal baik dengan niat yang lurus karena Allah. Jika maksiat itu berupa melakukan tindakan yang dilarang, maka hendaknya dia meninggalkannya seketika itu juga. Jika maksiat itu berupa meninggalkan perintah yang diwajibkan, maka hendaknya dia melaksanakannya seketika itu juga. Jika maksiat itu berhubungan dengan hak-hak adami, maka hendaknya dia segera menunaikannya kepada orang yang berhak atau memintanya untuk merelakannya.

Taubat dapat dikatakan benar jika hamba menyesal dan bersedih atas kemaksiatan yang dia lakukan dengan disertai keinginan untuk kembali kepada Allah. Oleh karenanya, tidaklah disebut hamba yang bertaubat, seseorang yang berbicara tentang kemaksiatan yang pernah dia lakukan dengan menunjukkan rasa bangga. Bahkan, tindakan seperti ini termasuk terang-terangan dan berbangga diri dalam berbuat dosa (al-mujâharah) yang pernah disinggung oleh Rasul saw. dalam hadits: "Setiap umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang terang-terangan dan bangga berbuat dosa." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)16

Orang yang bertaubat adalah orang yang bertaubat dari dosa. Dia berpesan kepada dirinya agar tidak kembali melakukan dosa pada masa yang akan datang. Maksud dari itu semua adalah untuk menyesali apa yang telah lampau dan memperbaiki apa yang akan datang dan senantiasa taat kepada Allah serta meninggalkan maksiat hingga akhir hayat. Ketika hamba sampai pada derajat keinginan yang kuat, maka dia tidak akan merusak taubatnya kepada Allah untuk kali yang kedua ketika dia menyesal dan bersegera untuk bertaubat. Rasul saw. bersabda: "Seorang hamba berbuat dosa, dia berkata: 'Ya Allah ampunilah dosaku!' Maka, Allah berkata: 'Hambaku berbuat dosa, dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan Yang mengampuni dan mengambil dosa.' Kemudian, dia kembali berbuat dosa dan berkata: 'Ya Tuhan ampunilah dosaku!' Allah berkata: 'Hambaku berbuat dosa, dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan Yang mengampuni dan mengambil dosa.' Kemudian, dia kembali berbuat dosa dan berkata: 'Ya Tuhan ampunilah dosaku!' Allah berkata: 'Hambaku berbuat dosa, dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan Yang mengampuni dan mengambil dosa. Berbuatlah sesuai yang kamu inginkan, Aku telah ampuni dosamu.'" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

Makna "Aku telah mengampunimu" adalah "selama kamu berbuat dosa kemudian bertaubat, Aku akan mengampunimu." Dengan ini tampak jelas bahwa taubat merupakan kesatuan yang integral, yang mana semua karakteristiknya bisa hilang jika hilang salah satu bagiannya. Seperti kapal yang hilang semua karakteristiknya jika hilang salah satu unsurnya. Barangsiapa memenuhi satu syarat dan melalaikan syarat yang lain, maka taubatnya tidak diterima selama syarat-syarat lainnya belum terpenuhi. []

________________
15 Diambil dari pendapat Imam an-Nawawi –rahimahullâh.
16 Lihat Dr. Shalih Ghanim as-Sadlan, At-Taubah ilâ Allâh, Dar Balansiyah, Riyadh, cet. IV, 1418 H, hlm. 22.

0 Responses: