Selamat Datang di Blog Ratman Boomen. Semoga Anda Mendapat Manfaat. Jangan Lupa Beri Komentar atau Isi Buku Tamu. Terima Kasih atas Kunjungan Anda.

21 Desember 2008

Taubat dari Perspektif Al-Qur'an

Taubat dari Perspektif Al-Qur'an

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 37:

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Baqarah: 37)

Di antara rahmat Allah dan kelembutan-Nya terhadap Adam dan keturunannya adalah bahwa Dia mengajarkannya "kalimat" yang mendatangkan rahmat dan pengampunan. Yaitu "kalimat" pengakuan dosa, pengikraran keinginan untuk bertaubat dan meminta ampun. Dalam hal ini tampaklah keutamaan istighfar (memohon ampun). Dosa terkadang membawa maslahat besar bagi seorang hamba jika dia mau bertaubat dan kembali dari jurang kehancuran, disertai rasa penyesalan dan kesungguhan untuk taat kepada-Nya, disertai isak tangis, rasa takut, serta rendah diri (tawadhu’).

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 160:

"Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Baqarah: 160)

Yaitu, kecuali orang-orang yang kembali dari perbuatan tercela yang pernah mereka lakukan, bertaubat dari perbuatan yang berlebihan, menyesal dan memohon ampun kepada Tuhan mereka, memperbaiki apa yang pernah mereka rusak serta menunjukkan kesalahan yang mereka sembunyikan. Mereka adalah orang-orang yang diterima taubatnya oleh Allah, dibersihkan dosanya, dan diampuni kesalahannya. Karena Allah Maha Penerima Taubat, Dia memberi ampun kepada hamba-hamba-Nya ketika mereka bertaubat, dan menjawab dengan kebaikan ketika mereka kembali. Karena Allah Maha Penyayang, Dia tidak menghitung dosa hamba yang mau bertaubat, bahkan mengasihinya dan memberinya rahmat.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 222:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (Q.S. al-Baqarah: 222)

Allah mencintai hamba yang bertaubat dari dosa, dan hamba yang bersuci dari sesuatu yang kotor. Karena, dosa adalah noda dalam jiwa dan kotoran adalah noda pada badan. Kebersihan jiwa dan badan dapat terwujud dengan meninggalkan dosa dan hal-hal yang kotor.

Allah berfirman dalam surat Âli ’Imrân ayat 90:

"Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat." (Q.S. Âli ’Imrân: 90)

Orang-orang Yahudi adalah mereka yang mengingkari Nabi Isa setelah mereka mengimani Nabi Musa. Kemudian, mereka bertambah congkak dan sombong, serta mengingkari Nabi Muhammad. Mereka bertambah sesat. Mereka adalah penghianat yang mengingkari janji Allah. Allah tidak menerima taubat mereka, karena mereka hanya bertaubat ketika ajal mau menjemputnya. Allah tidak memberi ampun kepada mereka karena mereka orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Mereka menghalangi jalan Allah, tenggelam dalam kekufuran, jatuh dalam kesesatan, dan banyak membuat kerusakan.

Allah berfirman dalam surat an-Nisâ' ayat 17:

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.S. an-Nisâ': 17)

Taubat yang benar dan diterima, yang Allah berikan kepada hamba yang berhak adalah taubat yang diraih kaum yang melakukan kemaksiatan lantaran kekeliruan dan kejahilan, kemudian salah satu dari mereka merasa berdosa dan menyesal. Dia kembali kepada Tuhannya, melepaskan diri dari dosa dan memohon ampun kepada-Nya, tidak seperti orang yang berbuat kesalahan karena kesengajaan. Setelah seseorang melakukan kemaksiatan karena kekeliruan dan kejahilan, kemudian dia bertaubat dan berlaku benar, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosanya, menutup aibnya, mengganti kejelekannya dengan kebaikan dan memuliakannya. Karena, Allah Maha Mengetahui orang yang benar-benar bertaubat dan kembali kepada-Nya. Dialah Yang Maha Bijaksana, menempatkan setiap sesuatu pada tempatnya, tidak menyiksa kecuali orang yang berhak menerima siksa. Dia memberi pahala atau siksa kepada setiap insan yang berhak sesuai dengan kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya.

Allah berfirman dalam surat an-Nisâ' ayat 18:

"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.' Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati, sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (Q.S. an-Nisâ': 18)

Taubat yang benar dan diterima tidak diberikan kepada orang yang berlebihan dalam berbuat kejahatan, terus-menerus melakukan dosa, menerjang larangan-larangan dengan sengaja, serta memandang rendah janji dan ancaman Allah. Ketika maut menjemputnya, dia baru bertaubat dan mengakui dosanya. Yang demikian, dia bukan orang yang berhak diterima taubatnya. Karena, dia sombong dan berani menerjang larangan-larangan Allah. Dia menunda-nunda taubat. Demikian juga, tidak diterima taubatnya orang yang mati dalam kekufuran. Dia pantas dijerumuskan ke dalam jilatan api untuk selama-lamanya. Sesungguhnya Allah tidak menerima amal dan permintaan syafa’at dari orang yang kafir. Tak ada yang bisa menyelamatkannya dari api neraka pada hari kiamat. Mereka itulah yang Allah janjikan azab yang pedih dan siksa yang abadi.

Allah berfirman dalam surat al-Mâ'idah ayat 71:

"Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak. Kemudian Allah menerima taubat mereka. Kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan." (Q.S. al-Mâ'idah: 71)

Orang Yahudi beranggapan bahwa Allah tidak akan mengganjar dosa yang telah mereka perbuat. Maka, mereka lebih menyukai kesesatan daripada kebenaran. Mereka itu tuli untuk mendengar yang hak. Allah mengampuni mereka, barangkali mereka sadar dan kembali kepada Tuhan mereka. Namun, mereka pun kembali lagi kepada kejahatan dan kesesatan. Mereka bertambah buta akan kebenaran dan bertambah tuli akan kelurusan. Inilah perilaku kebanyakan di antara mereka. Adapun sebagian kecil dari mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Allah tidak akan lalai dengan perbuatan mereka yang tersembunyi dan tidak akan lalai dengan kejahatan yang mereka rahasiakan. Allah akan mengadili mereka karena bejatnya perilaku mereka dan hinanya tindakan mereka.

Allah berfirman dalam surat at-Taubah ayat 104:

"Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Q.S. at-Taubah: 104)

Tidakkah orang-orang yang bertaubat mengetahui bahwa Allah mengampuni hamba yang bertaubat dan mengasihi hamba yang mau kembali kepada-Nya? Dia mengampuni dosa-dosa mereka dan mengabulkan sedekah-sedekah mereka. Karena, Dia Maha Pemberi Ampun bagi hamba yang meninggalkan maksiat, menghiasi diri dengan ketaatan, dan menyesal karena telah melakukan dosa. Dia Maha Pengasih bagi hamba yang benar-benar bertaubat. Dia tidak menghitung dosa yang telah lampau dan tidak mengazab kejahatan masa lalu yang pernah diperbuatnya.

Allah berfirman dalam surat at-Taubah ayat 112:

"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu." (Q.S. at-Taubah: 112)

Orang-orang baik yang berjihad, yang dijanjikan surga oleh Allah adalah orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi; orang-orang yang ikhlas untuk taat kepada Tuhan mereka; orang-orang yang memuji Allah dalam keadaan senang maupun susah; orang-orang yang berpuasa yang selalu bertafakur (merenungi) ciptaan Allah; orang-orang yang selalu menunaikan shalat; orang-orang yang selalu memperbanyak shalat sunnah, orang-orang yang memerintahkan perbuatan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya serta melarang dari perbuatan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya; orang-orang yang menjaga syariat, menjalankan hukum-hukum dan meninggalkan larangan-larangan agama. Orang-orang yang beriman itu dikaruniai kabar gembira dengan pahala surga sebagai imbalan atas amal perbuatan mereka yang terpuji.

Allah berfirman dalam surat Thâhâ ayat 82:

"Dan sesungguhnya Aku (Allah) Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (Q.S. Thâhâ: 82)

Allah Maha Pemberi Ampunan bagi hamba yang benar-benar bertaubat dari dosanya, membenarkan ajaran yang datang dari-Nya, dan melakukan amal saleh sesuai dengan ajaran syariat, kemudian hamba tersebut berlaku lurus serta selalu istiqamah di jalan yang benar.

Allah berfirman dalam surat an-Nûr ayat 31:

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." ( Q.S. an-Nûr: 31)

Kembalilah wahai orang-orang yang beriman pada ketaatan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berhiaslah dengan perangai yang terpuji dan sikap yang baik. Jauhilah perilaku orang-orng jahiliyah yang tercela, keji lagi munkar. Semoga kalian semua mendapatkan ridha Allah, surga, dan rahmat-Nya.

Allah berfirman dalam surat az-Zumar ayat 53 - 54:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (Q.S. az-Zumar: 53 – 54)

Katakanlah –wahai Nabi– kepada hamba-hamba Allah yang banyak dosa dan berlaku maksiat : Janganlah kalian berputus asa, wahai hamba, dari rahmat Allah karena banyaknya kesalahan dan besarnya dosa kalian. Sesungguhnya rahmat Allah sangatlah luas, dan kebaikan-Nya sangatlah besar. Allah menghapuskan segala dosa dan mengampuni segala kesalahan bagi hamba yang bertaubat dan menyesali perbuatannya. Bahkan, Allah senang dengan taubat hamba-Nya dan mengganti kejelekannya dengan kebaikan.

Jika taubat bukan merupakan amal yang paling disukai Allah, maka semulia-mulianya manusia tidak akan dicoba dengan dosa, tak lain dan tak bukan dialah Adam. Allah Maha Pemberi Ampunan meski hamba banyak melakukan dosa. Dia Maha Pengampun dengan karunia, lindungan, dan ampunan bagi hamba-hamba-Nya. Dia Maha Penyayang, mengasihi hamba-Nya dengan berbagai bentuk karunia, dan menjauhkan mereka dari kehancuran. Maka, sudah sewajarnya seorang muslim bahagia dengan karunia ini. Hendaknya dia berprasangka baik terhadap Tuhannya, dan tidak berputus asa terhadap rahmat Sang Penyayang. Meski hamba melakukan dosa dan bertindak maksiat, hendaknya dia segera bertaubat, kembali kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya.

Sungguh menyenangkan bagi orang-orang yang bertaubat serta membahagiakan bagi orang-orang yang kembali dengan adanya karunia besar dan pahala yang mulia ini. Berbahagialah orang-orang yang beriman dengan kabar gembira dari Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berbahagialah hamba-hamba yang saleh dengan kemuliaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami memohon kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya Yang Mulia (al-asmâ' al-husnâ) dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi agar Dia menerima taubat kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Ini adalah tanda yang dinanti-nantikan dalam Al-Qur'an bagi kebanyakan hamba.

Wahai hamba-hamba Allah, kembalilah kepada Tuhanmu dengan meminta ampun, bertaubat, dan penyesalan. Patuhlah kepada perintah-Nya dan tunduklah kepada hukum-Nya sebelum adzab-Nya mendatangimu. Karena tak seorangpun mampu menolak siksa-Nya dan merubah keputusan-Nya.

Allah berfirman dalam surat asy-Syûrâ ayat 25:

"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. asy-Syûrâ: 25)

Allah adalah Tuhan yang mengampuni hamba yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Dialah Yang menerima kebaikan hamba-Nya dan mengampuni kejelekan mereka. Allah mengetahui semua perbuatan yang dilakukan hamba-hamba-Nya, baik yang terpuji maupun yang tercela. Tak satu pun perbuatan hamba lepas dari pengawasan-Nya, dan Dia akan meminta pertanggungjawaban atas semua itu.

Allah berfirman dalam surat at-Tahrîm ayat 8:

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nash (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: 'Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'" (Q.S. at-Tahrîm: 8)

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah dari segala dosa dengan benar-benar bertaubat, dengan tidak kembali kepada kemaksiatan semata-mata karena mengharap ridha Allah. Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kalian, menghapus dosa-dosa kalian, dan memasukkan kalian semua ke dalam surga yang sungai-sungainya mengalir dari bawah pohon-pohon, serta cahayanya menerangi istana-istananya di hari kiamat, yaitu hari di mana Allah tidak akan menghina dan mengadzab Nabi dan hamba-hamba-Nya yang saleh, melainkan Allah memberikan kebahagiaan, memberi pahala, dan mengangkat derajat mereka. Cahaya mereka memancar dari wajah-wajah mereka. Mereka berdoa kepada Tuhan agar dikekalkan cahaya itu hingga mereka melewati jembatan (ash-shirâth) menuju surga disertai dengan pengampunan dosa, penutupan cela, dan keridhaan Dzat Yang Maha Mengetahui alam ghaib. Yang demikian itu terjadi karena Allah Maha Kuasa atas segala hal, menetapkan perintah-Nya atas makhluk-Nya, dan menjalankan hukum-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki tanpa ada seorang pun yang mampu menolaknya. []


0 Responses: